Menjadi seorang entrepreneur

01“Menjadi seorang entrepreneur, adalah memilih untuk menjalani bertahun-tahun kehidupan yang tidak diinginkan oleh kebanyakan orang lain. Kerja non-stop, tidak punya waktu libur, pendapatan yang tidak menentu (kadang kurang, kadang juga berlebih), was-was usaha ambruk dan gagal, ga punya status sosial yang tinggi di depan orang tua/mertua/masyarakat, dsb.

Tapi… ya inilah jalan yang harus kita tempuh, kita membayar mahal kebahagiaan esok hari. Agar sisa hidup kita kelak, bisa dijalani seperti yang tidak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan.

Usaha Jalan, Kitanya Jalan-Jalan.”

Advertisements

Surat Cinta Buat Ibu Mentriku: Pejabat dan Kepatutan Perilaku

berbagi cinta & makna

Ibu, saya tulis surat ini untukmu, sebagai ungkapan rasa hatiku, sebagai (sesama) ibu. Tentu saya sangat gembira, saat di hari Minggu sore tanggal 26 oktober lalu, beberapa ibu yang berkualitas dan tak diragukan dedikasinya, maju ke depan dipanggil satu-persatu. Menjadi mentri ini dan itu. Alhamdulillah, kiranya kiprah perempuan mulai lebih banyak mendapat penghargaan di negeri ini.

susi 2

Namun, saat hari makin senja Minggu itu, saya mulai dikagetkan dengan tulisan di salah satu media massa, tentang ibu. Aduh Ibu, tulisan yang bersifat laporan pandangan mata itu sungguh mengganggu saya. Bahwa selepas dipanggil pak presiden itu, ibu diwawancarai para wartawan sambil menghabiskan satu batang rokok. Meski berita itu dikemas dengan pembahasaan ‘unik’, atau ‘nyentrik’, tapi bagi saya, sama sekali tidak begitu bu. Maaf ya Bu, lalu saya mulai gugling, tentang sosok Ibu, yang namanya pun baru saya tahu sejak pengumuman kabinet kerja itu.

Menilik pengalaman hidup Ibu untuk tetap terus

View original post 815 more words

Mamak Pengen ke UGM

Wisuda UGMSuatu ketika di masa-masa berat dan galau mengerjakan skripsi. Mamak sempat nyeletuk, “Mamak tu pernah ke Jogja, tapi ga pernah masuk UGM. Insya Allah besok pertama kali bisa masuk kampusmu ya pas kamu wisuda”.

Sejenak saya merasa bersalah sekali karena lama ‘menunda’ kelulusan. Celetukan Mamak benar-benar terngiang terus…

Akhirnya…. setelah hampir 2 tahun, skripsi selesai juga. Bangga & puas sekali rasanya, bisa berfoto bareng Mamak-Bapak di depan GSP UGM.

Plong rasanya setelah itu…

Di waktu kuliah kembali padat dan saya keteteran. Kemarin pagi, saya menghubungi Mamak. Saya katakan pada Mamak, “Mak, doakan saya lancar kuliahnya ya. Saya pengen nyelesaikan S2 saya ini. Saya pengen Mamak datang lagi ke UGM khusus untuk menghadiri wisuda saya.”
————-
“Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan skripsi untuk dirimu sendiri, cobalah untuk menyelesaikan skripsi untuk Ibumu, untuk Bapakmu, untuk siapapun yang kamu cintai. Agar mereka bahagia pernah mengenalmu…”

Virus Wirausaha McClelland

Virus Wirausaha McClelland

Virus Wirausaha McClelland

Wirausaha itu bukan warisan genetik, tapi ia virus yg bisa ditularkan begitu kira-kira pemikiran David McClelland. Wirausaha dalam hal ini merupakan jelmaan dari term “need for achievement” (n-ach) dari teori need-nya.

Kita seringkali membicarakan Teori McClelland bahwa suatu negara maju harus punya minimal 2% dari warganya yang berwirausaha. Tapi kita seringkali tidak sampai pada saran dari McClelland bagaimana caranya agar sampai kesana.

 

Baginya, suatu negara yang ingin tinggi “n-ach” masyarakatnya (dimana n-ach tinggi = tinggi semangat wirausaha). Bisa memulainya sejak dini. Anak-anak yang masih di sekolah dasar bisa diberikan kisah-kisah tentang kesuksesan berwirausaha. Di Eropa & Amerika sendiri, ia meneliti bahwa di awal 1900-an sejak kecil anak-anak sudah mulai diberi kisah/dongeng dengan dosis n-ach yang tinggi. Berpuluh tahun kemudian dengan virus itu, McClelland menemukan fakta bahwa mereka lah yang jadi tulang punggung kemajuan ekonomi negara mereka.

 

Dia juga menemukan di abad ke-16 ketika Eropa mulai bangkit dari masa kegelapan. Ketika itu banyak ditemukan karya sastra (novel, puisi, syair, dsb) yang tinggi virus n-ach nya. Perekenomian Eropa pun lalu melesat dengan revolusi industrinya. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari suatu negara selalu didahului oleh karya-karya sastra dengan dosis n-ach yang tinggi.

 

Lalu, dimanakah tempat terbaik untuk mengajari anak virus n-ach berwirausaha? Jawab McClelland, dalam KELUARGA!

 

Ilustrasi gambar diambil dari Business News Daily

Kondomisasi

Tolak Kondom

Posting ini sebenarnya hanya copas dari status Facebook saya. Ketimbang hanya dibaca friends saya, saya pindah kesini biar bisa dibaca lebih luas. Semoga mencerahkan…

Saya mencoba membaca program peduli HIV/AIDS via program pembagian kondomisasi gratis lewat perspektif Penyuluhan Pembangunan Modern. Bagi saya sendiri, sebenarnya susah untuk menyatakan program kondomisasi ini bakal sukses (jelas saja sudah banyak yang nolak). Setidaknya karena 3 hal:

1. Top-down -minded. Program tidak didasarkan pada kebutuhan masyarakat, tapi lebih kepada program pemerintah/kementerian yang dipaksakan. Tanpa partisipasi masyarakat, suatu program hanya akan jadi pajangan. Masyarakat tidak punya rasa memiliki, tidak jg merasa terbebani utk ikut mensukseskan.

2. Tidak jelas benefitnya. Masyarakat yang jadi sasaran tidak diberi pemahaman apa untungnya pake kondom. Kalau isunya utk menghindari AIDS. Ngapain orang yg sudah nikah perlu pake kondom? Sebelum nikah kan udah ada cek kesehatan. Kalau belum nikah, ngapain dikasi kondom gratisan? buat mainan balon gitu??

3. Salah sasaran. Masak 25 M hanya dipake buat beli kondom? Bonus Bus bergambar JUPE lagi. *hadeh… Ketimbang untuk beli kondom, mending perbaiki dari akarnya! Misal untuk pendanaan sosialisasi/kampanye seks HALAL (kampanye seks aman aja ga cukup!). Boleh lah, untuk subsidi jomblo2 yang mau nikah, ada banyak tuh. Kalau perlu kasi modal buat wirausaha/bekerja!

Download Buku Panduan Ibadah Ramadhan Muhammadiyah

Sedang mencari Buku Panduan Ibadah Ramadhan Muhammadiyah? Silakan download di sini. GRATIS.

Buku ini berisikan Tuntunan Ibadah di Bulan Ramadhan 1432 H / 2011 M, yang merupakan edisi revisi dari buku sebelumnya. Diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Jadi, ini bukan buku saya, melainkan sekedar saya download kemudian bantu sebar… 🙂
Lanjut…

Rahmad Tobadiyana : Membangun Desa Belajar Peduli Lingkungan

Hamparan sawah yang terbentang ditemani rimbunnya pepohonan, menyambut kedatangan para pengunjung di Desa Serut. Sebuah desa yang terkenal akan pengembangan pertanian organiknya.

Rahmad TobadiyanaBagi Rahmad Tobadiyana, atau Toba begitu masyarakat memanggilnya, menjadi Kepala Dusun bukanlah pilihan terbaik dalam hidupnya. Dia yang berlatar Pendidikan Sejarah dari IKIP PGRI Yogyakarta, pernah bermimpi menjadi guru. Akan tetapi, doa dan permintaan orang tua untuk membangun Dusun Serut, tak kuasa ditolaknya.

“Jadilah kadus (kepala dusun), Insya Allah kalau ditekuni hasilnya juga akan sebanyak guru,” begitu pesan orang tuanya. Walhasil, lowongan guru di Bali yang telah dia dapatkan, mendadak dibatalkan.

Sejak itu, Toba serius membenahi dusunnya. Dusun Serut ini terletak sekitar 3 kilometer di selatan pusat Kota Bantul. Dusun yang dulunya pernah mengalami krisis lahan pertanian. Kini, justru mampu memproduksi beras yang primadona. Kesemuanya berkat terobosan Toba dalam mengajarkan pertanian organik. Continue reading