TELEPON DARI AXA MANDIRI YANG MENGGANGGU!!

Telepon-AXA-Mandiri-yang-Mengganggu Dari kemarin ditelpon bolak-balik dari nomor Jakarta. Dicoba googling ga ketemu itu nomor kantor apa. Sempat khusnudzon itu klien IFRAME Multimedia, Jasa Foto dan Video di Jogja & Rental Kamera Jogja yang mau bekerjasama.

Ternyata ketika diangkat, yang nelepon perempuan dan mengaku AXA Mandiri. Berhubung saya bukan pengguna AXA Mandiri, otomatis saya berpikir ini pasti telepon promosi / prospek. Continue reading

Virus Wirausaha McClelland

Virus Wirausaha McClelland

Virus Wirausaha McClelland

Wirausaha itu bukan warisan genetik, tapi ia virus yg bisa ditularkan begitu kira-kira pemikiran David McClelland. Wirausaha dalam hal ini merupakan jelmaan dari term “need for achievement” (n-ach) dari teori need-nya.

Kita seringkali membicarakan Teori McClelland bahwa suatu negara maju harus punya minimal 2% dari warganya yang berwirausaha. Tapi kita seringkali tidak sampai pada saran dari McClelland bagaimana caranya agar sampai kesana.

 

Baginya, suatu negara yang ingin tinggi “n-ach” masyarakatnya (dimana n-ach tinggi = tinggi semangat wirausaha). Bisa memulainya sejak dini. Anak-anak yang masih di sekolah dasar bisa diberikan kisah-kisah tentang kesuksesan berwirausaha. Di Eropa & Amerika sendiri, ia meneliti bahwa di awal 1900-an sejak kecil anak-anak sudah mulai diberi kisah/dongeng dengan dosis n-ach yang tinggi. Berpuluh tahun kemudian dengan virus itu, McClelland menemukan fakta bahwa mereka lah yang jadi tulang punggung kemajuan ekonomi negara mereka.

 

Dia juga menemukan di abad ke-16 ketika Eropa mulai bangkit dari masa kegelapan. Ketika itu banyak ditemukan karya sastra (novel, puisi, syair, dsb) yang tinggi virus n-ach nya. Perekenomian Eropa pun lalu melesat dengan revolusi industrinya. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari suatu negara selalu didahului oleh karya-karya sastra dengan dosis n-ach yang tinggi.

 

Lalu, dimanakah tempat terbaik untuk mengajari anak virus n-ach berwirausaha? Jawab McClelland, dalam KELUARGA!

 

Ilustrasi gambar diambil dari Business News Daily

Kondomisasi

Tolak Kondom

Posting ini sebenarnya hanya copas dari status Facebook saya. Ketimbang hanya dibaca friends saya, saya pindah kesini biar bisa dibaca lebih luas. Semoga mencerahkan…

Saya mencoba membaca program peduli HIV/AIDS via program pembagian kondomisasi gratis lewat perspektif Penyuluhan Pembangunan Modern. Bagi saya sendiri, sebenarnya susah untuk menyatakan program kondomisasi ini bakal sukses (jelas saja sudah banyak yang nolak). Setidaknya karena 3 hal:

1. Top-down -minded. Program tidak didasarkan pada kebutuhan masyarakat, tapi lebih kepada program pemerintah/kementerian yang dipaksakan. Tanpa partisipasi masyarakat, suatu program hanya akan jadi pajangan. Masyarakat tidak punya rasa memiliki, tidak jg merasa terbebani utk ikut mensukseskan.

2. Tidak jelas benefitnya. Masyarakat yang jadi sasaran tidak diberi pemahaman apa untungnya pake kondom. Kalau isunya utk menghindari AIDS. Ngapain orang yg sudah nikah perlu pake kondom? Sebelum nikah kan udah ada cek kesehatan. Kalau belum nikah, ngapain dikasi kondom gratisan? buat mainan balon gitu??

3. Salah sasaran. Masak 25 M hanya dipake buat beli kondom? Bonus Bus bergambar JUPE lagi. *hadeh… Ketimbang untuk beli kondom, mending perbaiki dari akarnya! Misal untuk pendanaan sosialisasi/kampanye seks HALAL (kampanye seks aman aja ga cukup!). Boleh lah, untuk subsidi jomblo2 yang mau nikah, ada banyak tuh. Kalau perlu kasi modal buat wirausaha/bekerja!

Rahmad Tobadiyana : Membangun Desa Belajar Peduli Lingkungan

Hamparan sawah yang terbentang ditemani rimbunnya pepohonan, menyambut kedatangan para pengunjung di Desa Serut. Sebuah desa yang terkenal akan pengembangan pertanian organiknya.

Rahmad TobadiyanaBagi Rahmad Tobadiyana, atau Toba begitu masyarakat memanggilnya, menjadi Kepala Dusun bukanlah pilihan terbaik dalam hidupnya. Dia yang berlatar Pendidikan Sejarah dari IKIP PGRI Yogyakarta, pernah bermimpi menjadi guru. Akan tetapi, doa dan permintaan orang tua untuk membangun Dusun Serut, tak kuasa ditolaknya.

“Jadilah kadus (kepala dusun), Insya Allah kalau ditekuni hasilnya juga akan sebanyak guru,” begitu pesan orang tuanya. Walhasil, lowongan guru di Bali yang telah dia dapatkan, mendadak dibatalkan.

Sejak itu, Toba serius membenahi dusunnya. Dusun Serut ini terletak sekitar 3 kilometer di selatan pusat Kota Bantul. Dusun yang dulunya pernah mengalami krisis lahan pertanian. Kini, justru mampu memproduksi beras yang primadona. Kesemuanya berkat terobosan Toba dalam mengajarkan pertanian organik. Continue reading

Generasi Baru Indonesia

Social-EntrepreneurshipArtikel ini merupakan Juara 3 Lomba Karya Tulis YellowPages (SemangatBerbisnis.Com)

“Manusia yang paling bernilai adalah mereka yang paling banyak manfaatnya”
Quote  di  atas  adalah  saduran  sebuah  hadits  terkenal,  yang  saya  kira  maknanya  begitu universal.  Layaknya  smartphone,  smartphone  yang  paling  mahal  (baca:  bernilai)  tentulah yang  paling  banyak  fiturnya  (manfaatnya). Manusia  pun  seperti  itu, manusia  yang  paling  bernilai  adalah  mereka  yang  paling  banyak  manfaatnya.  Oleh  karena  itu,  semua  harus menyadari  bahwa  kehidupan  ini  bukanlah  untuk  ‘aku’  melainkan  untuk  ‘kita’.  Seorang manusia akan semakin bernilai ketika dia makin bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang.

Sebentar, sebentar, lalu apa hubungannya kok kita tiba-tiba bicara soal nilai dan manfaat seorang manusia dengan penggunaan judul ‘Generasi Baru Indonesia’?   Klik untuk melanjutkan

Video & Masa Depan Promosi Pariwisata Lokal

Banner2

Oleh M. Zulfi Ifani, S.I.P.*

Hari ini ketika kita berbicara pariwisata, maka kita pun harus melihatnya dengan kacamata industri. Sejak lama, industri pariwisata memang memiliki fungsi strategis menjawab persoalan lapangan kerja & pertumbuhan ekonomi suatu negara. Posisi industri pariwisata bahkan bisa menggantikan ketergantungan suatu negara terhadap SDA mineral seperti minyak, gas atau bahkan emas. Lihat saja bagaimana negara kecil seperti Hongkong atau Singapura bisa berkembang lewat industri pariwisata. Bila ditarik ke konteks lokal. Mestinya, Indonesia yang memiliki segudang potensi pariwisata bisa berkembang lebih jauh.

Potensi inilah yang hendak saya ‘sentil’ dalam tulisan ini. Bagaimana potensi lokal di Indonesia sebenarnya begitu banyak dan menarik. Saya punya pengalaman pribadi ketika mengunjungi dan memproduksi video di sebuah dusun yang terletak di pucuk perbukitan Menoreh, yaitu Dusun Nglinggo, Desa Pagerharjo, Samigaluh, Kulonprogo. Lanjut…

Babies (2010) : Lucu, Tanpa Harus Berdialog

Di dunia nyata bayi (atau balita) adalah salah satu anugerah Allah yang paling luar biasa. Cobalah saat sedang suntuk, temui atau cukup lihatlah tingkah laku seorang bayi, niscaya akan ada hiburan tersendiri. Mungkin saja karena bayi masih bersih dari dosa, sehingga begitu enak untuk dipandang (#spekulasi).

Nah, bagi anda yang senang melihat bayi, ada film dokumenter dari Thomas Balmes yang menarik untuk ditonton, Babies. Film ini bercerita tentang 4 orang bayi, Ponijao dari Namibia, Mari dari Jepang, Bayar dari Mongolia dan Hattie dari Amerika. Dua bayi dari daerah perkotaan (urban), dua lainnya dari dari pedesaan (rural). Film ini bercerita tentang  4 bayi tersebut mulai dari dalam kandungan, hingga mencapai usia 1 tahun. Saya hanya bisa membayangkan, luar biasa lama tentu shootingnya. Lanjut…