Empat Tingkatan Rezeki

Sedekah Ilmu FANI

TINGKAT 1: REZEKI YANG DIJAMIN ALLAH
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di atas bumi ini melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya,” (QS Hud:6).

Allah akan memberi kesehatan, makan dan minum untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yang terendah – paling dasar.

TINGKAT 2: REZEKI YANG DICARI
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,” (QS an-Najm: 39).

Sama-sama makan, tapi gelandangan dan pengusaha kaya raya tentu makannya berbeda. Allah akan memberi rezeki sesuai dengan apa yang dikerjakan hambanya. Jika kerja lebih cerdas, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh-sungguh, tentu akan mendapat lebih banyak. Tidak pandang dia itu muslim atau non muslim.

TINGKAT 3: REZEKI KARENA BERSYUKUR
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangatlah berat.” (QS Ibrahim : 7)

Inilah rezeki, karena disayang Allah.

TINGKAT 4: REZEKI YANG TIDAK DISANGKA-SANGKA
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaaq: 2-3)

Inilah rezeki tingkat tertinggi, rezeki dari jalan yang tidak diduga-duga, yang nominalnya seringkali tidak masuk di akal. Rezeki yang diberikan kepada orang-orang yang bertakwa.

 

Sumber Post:

Materi Pelatihan  “Laris Tanpa Jualan” // Sabtu, 3 Maret 2018 // De Halal Mart Jogja

—————–

MZI // IFrameRental.com – Rental Kamera Jogja

Advertisements

Apa Kunci Bahagia dalam Hidup? (Riset Psikologi dari Harvard Univ)


APA YANG MEMBUAT SUATU KEHIDUPAN MENJADI LEBIH BERMAKNA?

Pelajaran dari Riset Psikologi Terpanjang dalam Sejarah Manusia dari Univ Harvard
Jika anak muda sekarang ditanya “apa tujuan hidupmu”? Survei membuktikan 80%-nya akan menjawab MENJADI KAYA.

Pertanyaannya: Apakah KAYA akan membuat hidup lebih bermakna? Membuat kita lebih bahagia? Continue reading

Mau Lancar Hidupmu? Pastikan Orang Tuamu Meridhoi

Ridho ALLAH ada pada Ridho Orang Tua, Murka ALLAH ada pada Murka Orang Tua. (HR Tirmidzi).

Saya baru sadar setelah membaca buku Ust. Prof. Yunahar Ilyas Kuliah Akhlak. Bahwa hadits ini gak cuma berlaku pada anak2. Tapi juga berlaku pada orang dewasa yang masih hidup orang tuanya.

Jadi, yang pengen skripsinya lancar, jodohnya cepat ketemu, karir kerjaannya bagus atau usahanya melesat terus. Ingat rumus di hadits ini.
Continue reading

Menjadi seorang entrepreneur

01“Menjadi seorang entrepreneur, adalah memilih untuk menjalani bertahun-tahun kehidupan yang tidak diinginkan oleh kebanyakan orang lain. Kerja non-stop, tidak punya waktu libur, pendapatan yang tidak menentu (kadang kurang, kadang juga berlebih), was-was usaha ambruk dan gagal, ga punya status sosial yang tinggi di depan orang tua/mertua/masyarakat, dsb.

Tapi… ya inilah jalan yang harus kita tempuh, kita membayar mahal kebahagiaan esok hari. Agar sisa hidup kita kelak, bisa dijalani seperti yang tidak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan.

Usaha Jalan, Kitanya Jalan-Jalan.”

Mamak Pengen ke UGM

Wisuda UGMSuatu ketika di masa-masa berat dan galau mengerjakan skripsi. Mamak sempat nyeletuk, “Mamak tu pernah ke Jogja, tapi ga pernah masuk UGM. Insya Allah besok pertama kali bisa masuk kampusmu ya pas kamu wisuda”.

Sejenak saya merasa bersalah sekali karena lama ‘menunda’ kelulusan. Celetukan Mamak benar-benar terngiang terus…

Akhirnya…. setelah hampir 2 tahun, skripsi selesai juga. Bangga & puas sekali rasanya, bisa berfoto bareng Mamak-Bapak di depan GSP UGM.

Plong rasanya setelah itu…

Di waktu kuliah kembali padat dan saya keteteran. Kemarin pagi, saya menghubungi Mamak. Saya katakan pada Mamak, “Mak, doakan saya lancar kuliahnya ya. Saya pengen nyelesaikan S2 saya ini. Saya pengen Mamak datang lagi ke UGM khusus untuk menghadiri wisuda saya.”
————-
“Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan skripsi untuk dirimu sendiri, cobalah untuk menyelesaikan skripsi untuk Ibumu, untuk Bapakmu, untuk siapapun yang kamu cintai. Agar mereka bahagia pernah mengenalmu…”

Virus Wirausaha McClelland

Virus Wirausaha McClelland

Virus Wirausaha McClelland

Wirausaha itu bukan warisan genetik, tapi ia virus yg bisa ditularkan begitu kira-kira pemikiran David McClelland. Wirausaha dalam hal ini merupakan jelmaan dari term “need for achievement” (n-ach) dari teori need-nya.

Kita seringkali membicarakan Teori McClelland bahwa suatu negara maju harus punya minimal 2% dari warganya yang berwirausaha. Tapi kita seringkali tidak sampai pada saran dari McClelland bagaimana caranya agar sampai kesana.

 

Baginya, suatu negara yang ingin tinggi “n-ach” masyarakatnya (dimana n-ach tinggi = tinggi semangat wirausaha). Bisa memulainya sejak dini. Anak-anak yang masih di sekolah dasar bisa diberikan kisah-kisah tentang kesuksesan berwirausaha. Di Eropa & Amerika sendiri, ia meneliti bahwa di awal 1900-an sejak kecil anak-anak sudah mulai diberi kisah/dongeng dengan dosis n-ach yang tinggi. Berpuluh tahun kemudian dengan virus itu, McClelland menemukan fakta bahwa mereka lah yang jadi tulang punggung kemajuan ekonomi negara mereka.

 

Dia juga menemukan di abad ke-16 ketika Eropa mulai bangkit dari masa kegelapan. Ketika itu banyak ditemukan karya sastra (novel, puisi, syair, dsb) yang tinggi virus n-ach nya. Perekenomian Eropa pun lalu melesat dengan revolusi industrinya. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari suatu negara selalu didahului oleh karya-karya sastra dengan dosis n-ach yang tinggi.

 

Lalu, dimanakah tempat terbaik untuk mengajari anak virus n-ach berwirausaha? Jawab McClelland, dalam KELUARGA!

 

Ilustrasi gambar diambil dari Business News Daily

Generasi Baru Indonesia

Social-EntrepreneurshipArtikel ini merupakan Juara 3 Lomba Karya Tulis YellowPages (SemangatBerbisnis.Com)

“Manusia yang paling bernilai adalah mereka yang paling banyak manfaatnya”
Quote  di  atas  adalah  saduran  sebuah  hadits  terkenal,  yang  saya  kira  maknanya  begitu universal.  Layaknya  smartphone,  smartphone  yang  paling  mahal  (baca:  bernilai)  tentulah yang  paling  banyak  fiturnya  (manfaatnya). Manusia  pun  seperti  itu, manusia  yang  paling  bernilai  adalah  mereka  yang  paling  banyak  manfaatnya.  Oleh  karena  itu,  semua  harus menyadari  bahwa  kehidupan  ini  bukanlah  untuk  ‘aku’  melainkan  untuk  ‘kita’.  Seorang manusia akan semakin bernilai ketika dia makin bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang.

Sebentar, sebentar, lalu apa hubungannya kok kita tiba-tiba bicara soal nilai dan manfaat seorang manusia dengan penggunaan judul ‘Generasi Baru Indonesia’?   Klik untuk melanjutkan