4 Tahun IFRAME Group, 17 September 2016

milad-ke-4-iframe17 September 2012 – 17 September 2016. MILAD IFRAME ke-4.

IFRAME adalah ‘bayi pertama’ saya, yang saya didik dan perjuangkan 4 tahun terakhir ini. Secara de jure, 17 September 2012 adalah hari lahir IFRAME sesuai dengan akta kelahiran (akta notaris). Namun secara de facto, IFRAME sebenarnya sudah saya mulai di akhir 2011.

Awalnya, IFRAME adalah brand umum yang melingkup berbagai dagangan saya. Ada IFRAME Shop yang menjual Micro SD, Harddisk External, Modem, Perdana Internet, dll. Ada IFRAME Multimedia yang saya pake untuk jualan jasa video dokumenter, yang kemudian lama banget perkembangannya hingga saya merasa mentok dan mendirikan IFRAME RENTAL KAMERA. Rental Kamera inilah yang sekarang jadi FOKUS saya dan tim. Kami ALL OUT 100% mengelola dan membesarkannya Insya ALLAH.

Ada riset yang menyatakan bahwa 80% bisnis mati di tahun pertama. Hanya akan ada 4% bisnis yang bertahan di tahun ke-10. Saya sangat ingin IFRAME Group jadi 4% itu. Berapapun harga yang harus dibayar.

Tentu hidup setelah tahun ke-10, bukan sekedar asal hidup. Melainkan kehidupan yang punya IMPIAN dan PRESTASI besar. Insya Allah kami membulatkan tekad untuk jadi Rental Kamera Terbesar & Terbaik di Indonesia di tahun ke-10 kelak.

Maturnuwun buat semua yang telah membantu, mengajari dan mendoakan IFRAME hingga sampai di titik ini. Insya Allah kami akan terus belajar & memperbaiki diri.

TELEPON DARI AXA MANDIRI YANG MENGGANGGU!!

Telepon-AXA-Mandiri-yang-Mengganggu Dari kemarin ditelpon bolak-balik dari nomor Jakarta. Dicoba googling ga ketemu itu nomor kantor apa. Sempat khusnudzon itu klien IFRAME Multimedia, Jasa Foto dan Video di Jogja & Rental Kamera Jogja yang mau bekerjasama.

Ternyata ketika diangkat, yang nelepon perempuan dan mengaku AXA Mandiri. Berhubung saya bukan pengguna AXA Mandiri, otomatis saya berpikir ini pasti telepon promosi / prospek. Continue reading

Mamak Pengen ke UGM

Wisuda UGMSuatu ketika di masa-masa berat dan galau mengerjakan skripsi. Mamak sempat nyeletuk, “Mamak tu pernah ke Jogja, tapi ga pernah masuk UGM. Insya Allah besok pertama kali bisa masuk kampusmu ya pas kamu wisuda”.

Sejenak saya merasa bersalah sekali karena lama ‘menunda’ kelulusan. Celetukan Mamak benar-benar terngiang terus…

Akhirnya…. setelah hampir 2 tahun, skripsi selesai juga. Bangga & puas sekali rasanya, bisa berfoto bareng Mamak-Bapak di depan GSP UGM.

Plong rasanya setelah itu…

Di waktu kuliah kembali padat dan saya keteteran. Kemarin pagi, saya menghubungi Mamak. Saya katakan pada Mamak, “Mak, doakan saya lancar kuliahnya ya. Saya pengen nyelesaikan S2 saya ini. Saya pengen Mamak datang lagi ke UGM khusus untuk menghadiri wisuda saya.”
————-
“Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan skripsi untuk dirimu sendiri, cobalah untuk menyelesaikan skripsi untuk Ibumu, untuk Bapakmu, untuk siapapun yang kamu cintai. Agar mereka bahagia pernah mengenalmu…”

Rahmad Tobadiyana : Membangun Desa Belajar Peduli Lingkungan

Hamparan sawah yang terbentang ditemani rimbunnya pepohonan, menyambut kedatangan para pengunjung di Desa Serut. Sebuah desa yang terkenal akan pengembangan pertanian organiknya.

Rahmad TobadiyanaBagi Rahmad Tobadiyana, atau Toba begitu masyarakat memanggilnya, menjadi Kepala Dusun bukanlah pilihan terbaik dalam hidupnya. Dia yang berlatar Pendidikan Sejarah dari IKIP PGRI Yogyakarta, pernah bermimpi menjadi guru. Akan tetapi, doa dan permintaan orang tua untuk membangun Dusun Serut, tak kuasa ditolaknya.

“Jadilah kadus (kepala dusun), Insya Allah kalau ditekuni hasilnya juga akan sebanyak guru,” begitu pesan orang tuanya. Walhasil, lowongan guru di Bali yang telah dia dapatkan, mendadak dibatalkan.

Sejak itu, Toba serius membenahi dusunnya. Dusun Serut ini terletak sekitar 3 kilometer di selatan pusat Kota Bantul. Dusun yang dulunya pernah mengalami krisis lahan pertanian. Kini, justru mampu memproduksi beras yang primadona. Kesemuanya berkat terobosan Toba dalam mengajarkan pertanian organik. Continue reading

Sejarah Singkat SD Muhammadiyah Kupang

Lama saya mencari sejarah SD kita yang tercinta ini, SD muslim pertama di Kupang, NTT. SD ini sarat dengan kenangan masa kecil, karena kenangan di masa kanak-kanak memang tidak pernah bisa terhapuskan. Beruntung, ketika ‘pulang kampung’ ke Kupang awal Mei 2011 kemarin saya mendapatkan buku berjudul “Kiprah Perjuangan Muhammadiyah NTT” tulisan Bapak Zainuddin Achied (Mantan Ketua Umum PW Muhammadiyah NTT). Di dalamnya ada beberapa bagian yang bercerita tentang SD kita ini. Bagian-bagian tersebut akan saya ceritakan ulang, khususnya mengenai SD Muhammadiyah.

SD Muhammadiyah di Kupang merupakan sekolah yang dirintis oleh H. Imran Usman pada tahun 1960-an. Ketika itu beserta TK ABA, SD Muhammadiyah menggunakan bagian dari rumah beliau di Kampung Solor. Ikhtiar pendirian sekolah tersebut kemudian diperkuat dengan hadirnya beberapa guru dari Jawa seperti M. Qisthian Anwar, Suyono dan Kasirun pada tahun 1967. Selanjutnya, TK ABA tetap menggunakan rumah H. Imran Usman sedangkan SD Muhammadiyah berada di gedung milik masyarakat Kampung Solor yang sekarang telah menjadi Gedung Kelurahan Solor. Gedung SD Muhammadiyah ketika itu kurang layak digunakan, karena berada di samping pasar Kampung Solor dan bila malam digunakan untuk gudang penampungan barang dagangan. Lanjut…

EL’S COMPUTER atau SMART, Mana Yang Harus Disalahkan?!

Setelah membaca posting saya yang berjudul “Kecewa Warnet SQUARENET Yogyakarta”, Bapak saya mengatakan, “Uang 11 ribu aja kok diributkan?”. Buat saya ini bukan masalah 11 ribu, itu nominal yang sepele. Tapi, jauh lebih dari itu ini masalah hak konsumen. Kita sebagai konsumen melihatnya sebagai urusan personal, tapi bagi mereka ini adalah urusan massal (bisa jadi ada konsumen-konsumen lain yang juga dikerjai). Prinsip dasarnya, konsumen adalah raja!

Cerita pun berlanjut, pada Sabtu (15/01/11) saya harus menemani kakak saya (Zulfa) untuk membeli modem baru. Berhubung adik saya (Uta) sudah punya modem AHA. Saya pun menyarankan kakak untuk membeli modem lain, SMART tepatnya. Lagipula, SMART juga tergolong handal selama ini.

Kami pun pergi ke EL’S Computer di Jl. C. Simanjuntak, Yogya. Kebetulan di sana sedang promo modem. Singkat cerita kami pun membeli modem SMART seharga 560ribu. Harga yang miring mengingat iklan di internet menyebutkan harga modem tersebut 599 ribu – siapa yang lalu tidak tergiur? Selesai dan kami pulang untuk mencobanya. Lanjut…

Menonton Langsung Final Piala Indonesia

Menonton langsung pertandingan sepakbola di stadion bisa jadi merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sebelumnya, saya memang sebatas menonton dari layar kaca.

Nah, karena memang belum berpengalaman, saya terpaksa membeli tiket dari calo dengan harga yang cukup tinggi karena telat antri di ticket box. (Padahal, jarak antara saya membeli tiket dengan buka ticket box hanya selisih sejam. Saya yakin ini pasti karena ada mafia tiket.)

Asyiknya, dengan menonton langsung saya benar-benar merasakan aura pertandingan yang sebenarnya: panas di dalam maupun di luar pertandingan. Pemain yang sedang mati-matian mengejar hasil, bisa melakukan tindakan apa saja demi memenangkan pertandingan. Sikut-sikutan, tackle keras, sampai tendangan kungfu dari Noh Alam Shah yang berbuah  kartu merah. Penonton pun seakan tak mau diam. Wasit yang mengadili di tengah lapangan ditekan sedemikian rupa dengan beragam caci dan maki (saya tidak yakin suara caci makian itu terdengar dari layar kaca, padahal dilakukan dengan koor). Lanjut…