Kenapa Kecap Bango Paling Laris?

Ada sebuah dialog menarik dari Buku Rich Dad, Poor Dad karya Guru Besar Entrepreneur Robert Kiyosaki. Dalam sebuah sesi kelas, Robert bertanya pada murid-muridnya:

“Siapa di sini yang bisa membuat burger enak lebih enak dari McDonalds?”

Sebagian besar muridnya angkat tangan (mungkin karena di Amerika, Burger makanan sehari-hari, gak seperti di Indonesia yang terhitung mewah. hehe)

“Kalau banyak yang bisa buat lebih enak dari McDonalds, lalu kenapa McDonalds yang menguasai pasar Burger sendirian? Bisakah kalian menyainginya?” (catatan: omset McDonalds secara global tahun 2010 adalah 321 trilyun rupiah)

Murid-muridnya terdiam, sepertinya tanda tak mampu.

LALU KENAPA?

———–

Saya sempat merenung, lalu kemudian mendapatkan jawaban (analogi yang pas) dari kasus kecap favorit saya KECAP KENTJANA Kebumen.

Saya terhitung pecinta kecap manis kelas berat. Bahkan untuk makan gudeg yang sudah manis sekalipun, saya tetap harus pake kecap. Sejauh ini, saya menemukan banyak kecap yang rasanya begitu nikmat, dan itu kecap lokal. Ada kecap BANGKOK dari Magelang, ada LARON dari Tuban, kecap THG dari Kudus dan kecap KENTJANA dari Kebumen.

Kenapa banyak yang bisa membuat kecap manis dengan rasa sangat enak, tapi hanya mampu bersaing di pasar lokal, tak mampu menandingi pasar Kecap Bango ataupun ABC secara nasional? (sayang begitu susah mencari data market share dan omset dari kedua kecap ini).

Jawaban dari Robert Kiyosaki sangat jelas, ada banyak orang / perusahaan yang bertalenta memproduksi kecap yang enak tapi lupa akan ilmu sistem bisnis, tepatnya ilmu pemasaran dan penjualan. Dua faktor ini, produksi dan sistem bisnis seperti dua sayap pada burung. Memang produksi kecap yang enak sangat penting, tapi memikirkan faktor pemasaran dan penjualan sama pentingnya juga. Menguasai keduanya adalah satu-satunya jalan untuk menjadi KAYA RAYA dan menjadi market leader.

Tidak jarang kan kita melihat, ada warung makan yang begitu enak, tapi karena tidak mampu memasarkan dan menjual, akhirnya gulung tikar juga. Kesimpulannya, menurut Robert di dunia ini ada begitu banyak orang bertalenta tinggi, tapi tetap saja miskin. Mereka miskin karena tidak memahami bahwa SISTEM BISNIS sama pentingnya dengan TALENTA itu sendiri.

———–

Ada banyak RENTAL KAMERA di Jogja, semakin hari semakin menjamur, tidak cukup punya alat yang lengkap dan up to date. Jauh lebih penting lagi, usaha saya IFRAME Rental Kamera harus menguasai pasar dengan cara menguasai sistem bisnisnya. Kuasai SISTEM BISNIS, Kuasai PASAR!

Muhammad Zulfi Ifani,

IFRAME Rental Kamera & Multimedia (s.id/iframemaps)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s