Rahmad Tobadiyana : Membangun Desa Belajar Peduli Lingkungan

Hamparan sawah yang terbentang ditemani rimbunnya pepohonan, menyambut kedatangan para pengunjung di Desa Serut. Sebuah desa yang terkenal akan pengembangan pertanian organiknya.

Rahmad TobadiyanaBagi Rahmad Tobadiyana, atau Toba begitu masyarakat memanggilnya, menjadi Kepala Dusun bukanlah pilihan terbaik dalam hidupnya. Dia yang berlatar Pendidikan Sejarah dari IKIP PGRI Yogyakarta, pernah bermimpi menjadi guru. Akan tetapi, doa dan permintaan orang tua untuk membangun Dusun Serut, tak kuasa ditolaknya.

“Jadilah kadus (kepala dusun), Insya Allah kalau ditekuni hasilnya juga akan sebanyak guru,” begitu pesan orang tuanya. Walhasil, lowongan guru di Bali yang telah dia dapatkan, mendadak dibatalkan.

Sejak itu, Toba serius membenahi dusunnya. Dusun Serut ini terletak sekitar 3 kilometer di selatan pusat Kota Bantul. Dusun yang dulunya pernah mengalami krisis lahan pertanian. Kini, justru mampu memproduksi beras yang primadona. Kesemuanya berkat terobosan Toba dalam mengajarkan pertanian organik.

Menurutnya, pertanian organik banyak manfaatnya. Selain membuat tanah gembur dan beras dibeli dengan harga tinggi. Imbasnya, petani pun merasa bangga dengan profesinya.

Akan tetapi, bukan berarti usahanya dalam mengembangkan pertanian organik lapang-lapang saja. Dia pun sempat menyaksikan warga yang tidak sepakat dengan idenya. Pelan-pelan dia membuktikan bahwa pertanian organik lebih baik hasilnya. Sehingga, satu persatu warga pun mengikuti jejaknya. Praktis kini, 75% petani di Serut telah menerapkan pertanian organik.

Baginya, pertanian organik amatlah penting. Karena pertanian organik sifatnya ramah lingkungan dan berkelanjutan. “Ada tiga hal yang menjadi basis pertanian organik, yaitu: ekologi, budaya dan ekonomi,” kata Kadus yang telah 18 tahun memimpin Dusun Serut ini.

Penjelasannya, ekologi dia maksud sebagai pertanian yang ramah terhadap lingkungan. Pertanian yang baik adalah yang tidak mengganggu ekosistem lainnya. Semisal, hewan-hewan di sekitar sawah pun tidak ikut tercemar racun pupuk kimia.

Di tingkat budaya, menurut dia harus ada pola-pola penanaman kebiasaan yang baik. Sampah dipisah menurut bahannya, agar mudah pula untuk pembuatan kompos. Juga pembuatan lumbung beras di tingkat rumah dan kelompok, agar siap sedia di saat musim kemarau. “Sehingga, saat gempa bumi tahun 2006 lalu. Kami praktis tidak kekurangan bahan pangan,” tuturnya.

Di tingkat ekonomi, baginya kesejahteraan secara ekonomi adalah pangkal dari kenyamanan dan ketenteraman. Bagi dia, kejahatan dan keributan tidak akan terjadi saat sebagian besar kebutuhan pokok telah terpenuhi.

Serut: Desa Belajar

“Apa yang saya bangun di sini adalah desa belajar, bukan desa wisata,” kata Toba. Bagi dia, amatlah menarik bila desanya banyak dikunjungi. Namun, dia tidak ingin desanya hanya sebatas dikunjungi dan kemudian dilupakan.

Oleh karena itu, dia membuat konsep desa belajar. Serut akan dikunjungi oleh para pengunjung. Tidak sebatas datang, namun juga akan dipelajari keunggulannya dan kemudian pulang dengan niat untuk mengaplikasikannya.

Oleh karena itu, mulai tahun 2007 lalu dibuka Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S). Di sana, mahasiswa dan dosen yang ingin belajar bisa mendapatkan informasi. “Hampir setiap pekan selalu ada yang datang ke Serut untuk belajar,” ujar Toba.

Selain aspek pertanian yang dikembangkan, perpustakaan yang berbasis teknologi informasi pun juga dikembangkan. Kini, anggota perpustakaan memiliki kartu anggota yang dibuat menggunakan software khusus. Pendataan itu bahkan juga sampai pada tingkatan data golongan darah. Hal ini dimaksudkan agar jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, data tersebut dapat membantu menolong.

Bahkan, saking gandrungnya dengan hal-hal yang bersifat konservasi lingkungan. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Serut pun juga didirikan dengan basis sekolah alam. “PAUD berbasis alam ini satu-satunya di Bantul. Di sana anak-anak usia dini sudah diajari berbagai tanaman dan fungsinya,” ucapnya.

Perjuangan Panjang

Ditanya mengenai apa resep kesuksesannya membangun Serut. Dia menjawab dengan diplomatis, bahwa semua itu didapatnya dengan ketekunan dan keseriusan. Dia rela harus duduk di bangku kuliah selama 11 tahun demi membangun Serut. Bahkan, tak hanya kuliah yang terlambat, urusan menikah pun juga telat. Di umurnya yang telah menginjak kepala empat, putranya yang paling besar baru berumur 4 tahun.

Selama ini pula, dia menghabiskan banyak biaya dan tenaga untuk mengikuti pelatihan dan studi banding. Baginya, kedua hal tersebut adalah investasi jangka panjang. Sehingga, dia pernah pergi ke daerah Gowa di Sulawesi Selatan untuk belajar.

Akan tetapi, pelatihan dan studi banding tidak boleh berhenti di situ saja. Karena tahap selanjutnya yang paling penting adalah aplikasinya. Dan, dalam hal ini dia tidak segan bertanya pada praktisi ataupun tenaga ahli. Begitu cara dia belajar.

Filosofi hidupnya cukup sederhana. Dia hanya ingin bermanfaat untuk kampong, menjadikan kampungnya banyak tamu dan hijau. Itu saja. Oleh karena itu, dia siap mengabdikan dirinya untuk Serut hingga masa pensiun tiba 11 tahun lagi.

Begitulah sosok Rahmad Tobadiyana. Sosok yang sederhana, bersahaja, namun memiliki ketekunan dan keteguhan untuk bermanfaat semaksimal mungkin untuk lingkungannya.

 

UPDATE:

Kami sempat membuat video pendek wawancara dg Pak Tobadiyana, Monggo dinikmati

3 thoughts on “Rahmad Tobadiyana : Membangun Desa Belajar Peduli Lingkungan

  1. Menarik upayanya, mari terus pelihara kelestarian lingkungan.

  2. om bs minta no hp pak Toba gak.. kita mau liat kesana nich.. salud juga kita dengan beliau… nuwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s