Generasi Baru Indonesia

Social-EntrepreneurshipArtikel ini merupakan Juara 3 Lomba Karya Tulis YellowPages (SemangatBerbisnis.Com)

“Manusia yang paling bernilai adalah mereka yang paling banyak manfaatnya”
Quote  di  atas  adalah  saduran  sebuah  hadits  terkenal,  yang  saya  kira  maknanya  begitu universal.  Layaknya  smartphone,  smartphone  yang  paling  mahal  (baca:  bernilai)  tentulah yang  paling  banyak  fiturnya  (manfaatnya). Manusia  pun  seperti  itu, manusia  yang  paling  bernilai  adalah  mereka  yang  paling  banyak  manfaatnya.  Oleh  karena  itu,  semua  harus menyadari  bahwa  kehidupan  ini  bukanlah  untuk  ‘aku’  melainkan  untuk  ‘kita’.  Seorang manusia akan semakin bernilai ketika dia makin bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang.

Sebentar, sebentar, lalu apa hubungannya kok kita tiba-tiba bicara soal nilai dan manfaat seorang manusia dengan penggunaan judul ‘Generasi Baru Indonesia’?  

Nah,  itu poin  inti yang akan dipaparkan pada  tulisan  ini. Pertama, bagaimana caranya kita menjadi manusia paling bernilai? Kedua, bagaimana cara kita bisa merubah mindset dari ‘aku’ menjadi ‘kita’? Jawaban dari kedua pertanyaan inilah yang akan mengarahkan kita pada ‘Generasi Baru Indonesia’. So, Siap membaca?

Skrup industri?

Dalam beberapa kesempatan, saya melihat langsung job fair. Kaget juga ketika hampir setiap job  fair  yang  saya  lihat  selalu membludak  oleh  para  job  seeker,  sepertinya  setara  dengan ramainya pendaftaran SNMPTN. Sebagian besar dari mereka  rela berdesak-desakan bahkan berpeluh  keringat  seharian  untuk  kemudian  hanya  menerima  penolakan.  Kecewa?  Sudah tentu.

Ada juga seorang kawan karib yang mengeluh betapa besaran gajinya menjadi hambar ketika ia harus selalu bekerja lembur dan under pressure. Rasanya bekerja begitu melelahkan, hilang sudah perasaan nyaman dan enjoy dalam bekerja. Harapannya hanya simple: ia butuh waktu istirahat yang lebih banyak atau sekedar bisa pulang ke rumah tanpa dikejar panggilan telepon dari si bos.

Di lain cerita, ada juga seorang kawan yang sudah memiliki pekerjaan mapan di Jakarta dengan gaji yang  saya kira  juga  cukup besar. Akan  tetapi, di akun  facebook-nya dia malah banyak mengeluh  tentang Jakarta. Jakarta yang macet, sumpek, penuh dengan budaya sikut-sikutan.  Ia merasa  Jakarta  bukanlah  kota  yang menentramkan.  Ingin  rasanya  ia  pindah  ke kota  kelahirannya  Yogyakarta,  tapi  apa  daya,  tidak  mungkin  ia  lakukan  karena  statusnya sebagai abdi negara.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan kawan-kawan saya di atas? Saya mencoba berpikir bahwa,  boleh  jadi  diterima  kerja, mendapatkan  jatah  libur  kerja  atau mutasi  kerja  ke  Jogja adalah  solusinya. Tapi,  apakah  dengan  diterima  kerja  ia  akan  puas?  Jangan-jangan  setelah diterima kerja  ia mendapat bos yang killer, work addict   bahkan pelit menggaji! Atau diberi liburan,  tapi  setelah  liburan  berakhir  diberi  kerja  lembur  yang  jauh  lebih  berat. Keinginan mereka  boleh  jadi  merupakan  solusi,  tapi  ya  hanya  solusi  jangka  pendek!  Bukan  jangka panjang…

Generasi Boss

Jadi sebenarnya, solusi  terbaik adalah merubah mindset: dari solusi  jangka pendek ke solusi jangka  panjang.  Menurut  saya,  akar  masalahnya  bermula  ketika  mereka  masih  bertahan menjadi pegawai atau karyawan.  Itu yang harus dirubah dulu. Pegawai atau karyawan harus digarisbawahi dengan tebal bukanlah satu-satunya jalan rezeki!

Solusi  jangka  panjang  itu  justru  ada  di  wirausaha.  Kalau  kata  lomba  ini,  jadilah GENERASI  BOSS!  Coba  dipikirkan,  menarik  tidak  ketika  ada  mahasiswa/pelajar  mulai berbisnis.  Dari  bisnisnya  itu,  ia  kemudian  bisa  membiayai  kuliahnya  sendiri.  Orang  tua bangga,  ia  pun  juga  bangga  bisa  mandiri.  Bagi  seorang  sarjana  yang  baru  lulus  kuliah, ketimbang  jadi pegawai dan digaji bulanan.  Ia malah membuka membuka usaha, dari usaha itu ia bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri sekaligus para karyawannya. Menarik bukan?

Bagi  saya,  seorang  wirausahawan  dengan  pendapatan  3  juta/bulan  jauh  lebih bermanfaat  daripada  seorang  karyawan  dengan  gaji  10  juta/bulan.  Nilai manfaatnya  lebih tinggi karena seorang wirausahawan adalah makelar rezeki bagi para karyawannya. Gajinya boleh lebih sedikit dari karyawan perusahaan bonafid. Tapi kemanfaatannya jauh lebih besar! Wirausaha  juga  bukan  sekedar  soal  hitung-hitungan  uang.  Ia  jauh  lebih  dari  itu.

Wirausaha adalah bagaimana meningkatkan nilai & manfaat diri kita bagi sekitar. Seseorang akan  semakin  bernilai  ketika  kemanfaatannya  semakin  besar  untuk  sekitar.  Tidakkah  kita semua  ingin bernilai bagi sekitar? Tidakkah kita  ingin dikenang sebagai orang yang bernilai ketika kita tiada kelak?

Memahami  konsep  bernilai  dan  manfaat  ini  yang  kemudian  saya  maksud  sebagai memahami bahwa kehidupan bukanlah ‘aku’  tapi ‘kita’. Ini soal mindset, ketiga kawan saya di atas harus keluar dari belenggu zona nyaman. Duduk, kerja, dapat gaji bulanan. Kita tidak bisa sebatas menerima rezeki dari Tuhan, jauh lebih bernilai ketika kita pun bisa menampung & menyalurkan rezeki itu ke sebanyak mungkin orang. Makelar rezeki!

Setelah bernilai dan menjadi makelar rezeki untuk sekitar. Kita pun harus  tahu bahwa wirausaha  adalah  profesi mulia  di  negeri  ini. Wirausaha  adalah  kunci  penting menjadikan Indonesia  negara  maju.  Tak  ada  satu  pun  negara  maju  yang  tidak  didukung  oleh wirausahawannya.  Di  sebuah  negara  maju,  setidaknya  harus  ada  2%  penduduknya  yang berwirausaha.  Faktanya,  di  Indonesia  sendiri  jumlah wirausaha  baru  sekitar  0.18%. Angka tersebut cukup jauh bila dibandingkan dengan Singapura yang mencapai 7,2% atau Amerika Serikat yang sudah mencapai 11,7%.

Jadi,  kekuatan  wirausaha  adalah  kekuatan  kemandirian.  Bagaimana  kita  turut membangun  negara  ini  dengan  menguatkan  kemandirian  di  akar  rumput.  Kita  tidak  bisa selalu  mengharapkan  negara  membuka  lapangan  kerja  untuk  kita.  Tapi,  jauh  lebih  mulia ketika kita bergerak dari bawah. Membuka usaha sendiri sekaligus membuka lapangan kerja seluas-luasnya.  Simpul-simpul  gerakan  bottom-up  inilah  yang  nantinya  menguatkan  dan memajukan Indonesia.

Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepada kita, tapi tanyakan apa yang bisa kita berikan pada negara.

Di akhir tulisan, saya hanya ingin mengatakan bahwa siapapun bisa jadi wirausahawan! Tak  peduli  apapun  pendidikannya  dan  latar  belakangnya. Wirausaha  adalah  profesi mulia karena  manfaatnya  tak  hanya  untuk  pemilik  usaha  dan  karyawan  saja,  tapi  juga  untuk memajukan  Indonesia. Generasi Baru  Indonesia  adalah mereka  yang mandiri, mereka  yang bernilai  dan  bermanfaat,  mereka  yang  menjadi  makelar  rezeki.  Mereka  adalah  Generasi Wirausaha!

Bagaimana? Siap untuk bergabung??  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s