Nurcholish Madjid & M. Roem : Tidak Ada Negara Islam!

taken from goodreads.comJudul Buku                  : Tidak Ada Negara Islam (Surat-surat Politik Nurcholish Madjid – M. Roem)

Penyunting                 : Agus Edi Santoso

Penerbit                      : Djambatan (Jakarta, 1997)

Kata Pengantar          : Ahmad Syafii Maarif & Adi Sasono

Jumlah Halaman        : XXVII + 121 halaman

Sejak semakin intens mengerjakan skripsi, beberapa waktu belakangan, saya mencoba untuk mengisi weekend dengan beristirahat. Istirahat yang dimaksud bukan dengan jalan-jalan atau berwisata, melainkan dengan membaca buku-buku di luar tema skripsi (analisis wacana Liga Primer Indonesia di SCTV & Metro TV). Minggu ini, buku yang saya pilih untuk menemani weekend adalah Surat Menyurat antara Cak Nur (Nurcholish Madjid) dengan Pak Roem (M. Roem). Judulnya bombastis: Tidak Ada Negara Islam. Judul ini bisa jadi relevan untuk dibahas beberapa waktu terakhir, mengingat beberapa mahasiswa yang menghilang (konon) karena dicuci otaknya oleh NII (Negara Islam Indonesia). Dan, saya kira dengan membaca buku ini, saya (dan juga rekan-rekan) akan lebih terbuka dalam memaknai “Negara Islam” itu sendiri.

Tokoh besar memang tidak terlahir secara instan. Bisa jadi seluruh kehidupan mereka memang dihibahkan untuk memikirkan obyek perjuangan mereka. Bahkan dalam surat-menyurat yang sifatnya amat personal pun, kedua tokoh ini bisa membicarakan banyak permasalahan bangsa dan agama. Luar biasa!

Surat menyurat yang terjadi dalam kurun waktu Maret 1983 – September 1983 ini dimulai saat Amien Rais pada tahun 1982 menulis sebuah essay kontroversial di Majalah Panji Masyarakat berjudul “Tidak Ada Negara Islam”. Menurut Amien, negara Islam tidak ada tuntunannya baik dalam Al Qur’an maupun As Sunnah (Hal. XXII). Oleh karena itu, yang jauh lebih penting menurutnya adalah Islam menganjurkan agar suatu negara menjalankan etos Islam, menegakkan keadilan sosial dan menciptakan suatu masyarakat yang egalitarian ketimbang formalitas “negara Islam”. Beberapa negara di Timur Tengah memang berdasarkan Islam, tapi monarki. Suatu sistem yang sebenarnya begitu jauh dari konsep kepemimpinan ala Khulafaur Rasyidin.

Beberapa waktu kemudian essay itu ditanggapi oleh M. Roem di majalah yang sama. Beliau cenderung sepakat dengan apa yang telah disampaikan oleh Amien Rais. Menurut beliau, “Tidak saja sudah benar melainkan amat bijaksana, karena di Indonesia istilah itu (negara Islam) lebih baik jangan dipakai. Karena tidak sedikit orang yang tidak menyukainya, bahkan malah alergi” (hal. 2). Beliau melanjutkan dengan menyitir Shakespeare, what’s in a name?. Andaikata bunga mawar yang harus semerbak dinamakan orang bunga bangkai, ia akan masih harum semerbak (hal. 3). Sehingga, Negara Indonesia yang berbentuk Republik ini, menurut M. Roem jauh lebih dekat dengan sunnah daripada kerajaan (hal. 8). Tanggapan dari M. Roem tentang “Negara Islam” itulah yang kemudian menjadi pemantik suara pertama dari Cak Nur, tanggal 29 Maret 1983 dari Chicago.

Dari Sekularisasi, Sjahrir-Natsir sampai dengan Partai Islam (?)

Perbicangan antara Cak Nur dan Pak Roem mencakup isu yang amat luas. Akan tetapi bila harus dirangkum, mungkin tiga hal di atas lah yang paling menonjol.

Pada surat pertamanya, Cak Nur sempat menyinggung isu “sekularisasi” yang sempat dicetuskannya pada awal 1970-an. Menurutnya, ide sekularisasinya berbeda dengan sekulerisme yang cenderung mendikotomikan antara agama dan dunia. Seperti rasionalisme yang bertentangan dengan agama, tidak berarti seseorang dilarang juga bertindak rasional, begitu kata Cak Nur (hal. 21). Cak Nur mengakui bahwa istilah tersebut masih kontroversial dan belum matang. Sehingga, hikmah dari berbagai kritik yang ditunjukkan kepadanya, dimaknainya dengan meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ia pun akhirnya mengambil studi doktoral Politik di Chicago, sebelum akhirnya lebih memilih Ilmu Filsafat dengan disertasinya tentang Kalam dan Falsafah Ibnu Taimiyah.

Diskusi lain yang mengisi sebagian besar halaman dari buku ini adalah tentang Natsir dan Syahrir. Cak Nur awalnya kecewa ketika Natsir yang menjadi Pemimpin Masyumi dalam berbagai kebijakan terlihat “mengekor” Sjahrir yang saat itu menjadi Pemimpin PSI (Partai Sosialis Indonesia). Akan tetapi, M. Roem membantah hal tersebutnya. Menurutnya, tabiat politik Sjahrir memang cenderung tidak etis dan “narsis”. Sehingga, kedekatan Natsir dengan Sjahrir harusnya dimaknai sebagai membarengi (sharing), bukan mengikuti (following). Jawaban dari M. Roem kemudian dikuatkan dengan disertasi dari Robert Myers, yang mencatumkan klaim Sjahrir sebagai pemimpin bagi “koalisi” PSI, Masyumi, Parkindo dan Partai Katolik (hal. 54). Disertasi ini kemudian menurut mereka berdua, membenarkan bahwa Sjahrir memang narsis dan kurang memiliki etika politik. Cak Nur pun mafhum dan semakin yakin bahwa Natsir memang pemimpin yang paling bijak di Indonesia (hal. 68).

Dalam diskusi tentang negara Islam dan peran Natsir, Cak Nur dan Pak Roem cenderung bersepakat. Akan tetapi, ada satu diskusi penting lagi yang menimbulkan ketidaksepakatan antar dua tokoh ini, yaitu tentang partai Islam. Menurut, Cak Nur sebenarnya makalah yang menjadi kontroversi di awal 1970-an judulnya adalah “Islam, Yes; Partai Islam, No?” akan tetapi banyak turunan makalah yang menghilangkan tanda tanya (?) tersebut. Semangat makalah itu adalah mempertanyakan, bukan menafikan (hal. 105). Bisa jadi, semangat bertanya tersebut muncul karena sikap kritis Cak Nur saat melihat terjadi politisasi dalil Qur’an dan Hadits agar masyarakat memilih partai tertentu. Termasuk juga kekesalan Cak Nur, karena partai “islam” yang tersisa saat itu, PPP, tidak jauh beda dengan PDI yang doyan pecat-memecat dan mencaci sesama kawan (hal. 81).

Sebaliknya, Pak Roem dengan tegas menyatakan bahwa: “Islam? Yes dan Partai Islam juga Yes” (hal. 90). Menurut beliau, Islam adalah pedoman hidup sedangkan partai adalah tempatnya beramal dan berjuang. Bahkan, Soekarno pun menurut beliau tidak akan jadi siapa-siapa tanpa PNI.

Epilog

Surat-menyurat ini pun berakhir pada 15 September 1983, beberapa hari sebelum Pak Roem meninggal dunia, tanggal 24 September 1983. Sebagai produk dari pemikiran manusia, “negara Islam” tentu akan terus menjadi perdebatan sepanjang zaman. Bahkan di Indonesia sendiri, FPI, HTI, MMI dan beberapa kelompok Islam lainnya masih terus memperjuangkan berdirinya negara Islam.

Beberapa link penting:

1. Komentar di Goodreads.

2. Resensi di CRSC UIN Jakarta.

7 thoughts on “Nurcholish Madjid & M. Roem : Tidak Ada Negara Islam!

  1. Setahuku sebelum meninggal Cak Nur sendiri sudah dimintai keterangan tentang maksud Islam, Yes. Partai Islam, No. Tapi tidak ada penjelasan mengenai adanya tanda tanya atau tidak. Waktu itu pernyataan beliau banyak disinyalir mengandung muatan politis. Kalo gak salah, ini pernah dibahas Ust Fathurahman Kamal.

    • Di buku ini jelas-jelas dia mengklarifikasi yang benar itu “Islam, Yes; Partai Islam, No?”. Cuma memang banyak makalah turunan, yang merujuk kepada makalah Cak Nur menghilangkan tanda tanya tersebut.

      Wallahua’lam…

  2. bukunya sudah terbit???? aq cari kuq g ada….

  3. Lalu, perang umat Islam di zaman Rasulullah dengan Romawi dan Persia itu perang antara apa; kelompok dengan kelompok kah? suku dengan suku kah? atau jangan-jangan, negara dengan negara? mohon petunjuk bung…😉

    • Wah kalau pertanyaan ini, ilmu ane belum nyampai.
      Spekulasi saya ya antara agama vs agama. Niatnya kan untuk ekspansi dakwah Islam.
      Lagipula di zaman itu negara dalam bentuk negara bangsa kan belum ada.

  4. Mengharukan baca buku ini… Terlebih surat terakhir Cak Nur ditulis 9 hari sebelum M. Roem meninggal. Jadi beliau mewariskan surat-surat tsb untuk kita.

    Soal negara Islam, setuju sekali dengan beliau-beliau: what is in the name…

    Nice blog Mas… salam kenal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s