Sepakbola dan Industri Media

Di era terkini, sepakbola sebagai bentuk olahraga semakin banyak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan, seperti bisnis (sebagai sarana iklan dan promosi), pemerintahan (sebagai simbol ideologi nasionalisme) dan media massa (sebagai sarana untuk meningkatkan pembaca/pemirsa)[1].

Dalam hubungannya dengan media. Sebagai sebuah industri, sepakbola tidak bisa lepas dan melepaskan diri dari media. Ada hubungan mutualisme di antara keduanya. Sepakbola membutuhkan publisitas, sedangkan televisi butuh program yang memiliki rating tinggi. Kedua kepentingan ini nantinya akan bermuara pada keuntungan finansial bagi kedua pihak.

Memang urgensi sepakbola tak hanya berada di ranah sosial-politik semata, tetapi juga di ranah ekonomi[2]. Minat tersebut tercermin tidak hanya oleh berapa juta orang yang menghadiri pertandingan di setiap musim, namun juga lewat ratusan juta – bahkan milyaran penonton di televisi dan mereka yang secara langsung maupun tidak langsung mengambil keuntungan ekonomi dari kehadiran sepakbola di media. Bahkan di akar rumput, sepakbola bisa menghadirkan rasa nyaman, tenang dan sejahtera yang semu bagi penonton yang menikmatinya.

Dari sisi  historis, kehadiran sepakbola di media pertama kalinya adalah saat Arsenal melawan Sheffield United pada tahun 1927 di Radio BBC. Sedang televisi pertama kali menyiarkan pertandingan sepakbola saat Inggris melawan Skotlandia pada 9 April 1938. Perkembangan selanjutnya adalah munculnya program cuplikan (highlight) pertandingan di BBC mulai tahun 1955[3].

Siaran langsung pun praktis bermula ketika pada tahun 1978, ketika itu London Weekend Television (LWT) membeli hak siar ekslusif pertandingan Liga Inggris. Hak siar ini terus meroket tiap tahunnya, bahkan pada tahun 2010 – 2013 hak siar ini telah dibeli oleh ESPN seharga 1,72 Milyar poundsterling[4].

Di Indonesia sendiri potensi komersial sepakbola sebenarnya cukup bagus. Hak siar Liga Super Indonesia saat ini dipegang oleh ANTV sebesar 100 milyar rupiah untuk 10 tahun sejak 2007. Jumlah itu disayangkan beberapa pihak tergolong kecil bila dibanding keuntungan komersial yang didapatkan oleh ANTV. Menurut perhitungan Buku Putih Reformasi Sepakbola Indonesia, seharusnya nilai siar Liga Super Indonesia bisa dimaksimalkan hingga 1,5 trilyun rupiah, mengingat ratingnya dan jumlah pemirsanya yang tinggi[5].

Bukti bahwa sepakbola memang olahraga yang paling ditonton di Indonesia bisa dilihat dari survey yang dilakukan oleh TNS Sport, sebuah lembaga ternama dari Inggris[6].

Survey menonton olahraga


Survey ini membuktikan bahwa potensi sepakbola Indonesia di media jauh lebih menarik dari olahraga apa pun (Pertama, sepakbola 86%. Kedua, Motosport 29%). Potensi ini seharusnya bisa dikonversi oleh penyelenggara liga untuk mendatangkan sebanyak mungkin mutual-profit, baik bagi media maupun sepakbola.

Dalam prakteknya, ANTV sebagai pemegang hak siar ekslusif mampu menyiarkan 156 partai dari 306 partai sepanjang musim. Ketidakmampuan untuk menyiarkan seluruh pertandingan terjadi karena keterbatasan peralatan dan sumber daya lainnya.

Secara umum, program siaran langsung sepakbola memang mendapat tanggapan yang semarak dari khalayak. Terbukti dari hingga saat ini ada beberapa liga sepakbola yang disiarkan di layar televisi, antara lain[7]:

Stasiun TV Liga Periode
TVRI J-League 1994 – 1995
Piala Dunia 1994 (bersama TPI & SCTV)
Indosiar Liga Serie-A Italia 2011 –  sekarang
Liga Primer Indonesia 2011 –  sekarang
RCTI Liga Serie-A Italia 1990an –
Liga Champion Eropa 1990an – sekarang
Liga Champion Asia 2009 – sekarang
Piala Dunia 1998, 2006, 2010 (bersama MNC Group)
La Liga Spanyol 2007 – sekarang
Piala AFF (Tiger) 2010
Bundesliga Jerman 2002 – 2007
Metro TV Liga Primer Indonesia Hanya satu pertandingan 

Persebaya 1927 vs Bandung FC

Trans 7 Liga Serie-A Italia 2008 – 2009
Liga Primer Indonesia 2011 – sekarang
ANTV Liga Super Indonesia 2007 – sekarang 

(sebelumnya sejak 1995 menyiarkan Liga Kansas)

TV One La Liga Spanyol 2009 – sekarang
Liga Primer Inggris 2008 – 2009
Global & MNC TV Liga Primer Inggris 2010 – sekarang

Kondisi ini tentu menggembirakan bagi sebagian besar khalayak televisi yang menggemari sepakbola. Dengan mudah mereka mendapatkan hiburan gratis.

Akan tetapi, meski terjadi simbiosis mutualisme antara media, khalayak dan  penyelenggara sepakbola. Kritik juga muncul, karena kekuatan ekonomi, utamanya dicurigai menggunakan sepakbola untuk menyebarkan budaya kapitalisme seperti yang ditulis oleh John Horne & Wolfram Manzenreiter dalam Football Goes East. Mereka mengutip pernyataan dari Pierre Bordieu yang menyatakan bahwa televisi adalah “kuda troya” yang membawa logika kapitalisme ke dalam sepakbola[8]. Bahkan kini sangat susah membedakan mana sisi olahraga dan mana sisi hiburan dari sepakbola.


[1] John Horne & Wolfram Manzenreiter. Football, Culture, Globalisation. Dalam John Horne & Wolfram Manzenreiter (Ed). 2004. Football Goes East. London: Routledge. Hal. 12.

[2] Stephen Dobson & John Goddard. 2001. The Economic of Football. London: Cambridge University Press. Hal. xv.

[3] Ibid. Hal. 80.

[4] Premiere League. Diakses pada 17 Maret 2011. Tearsip di http://en.wikipedia.org/wiki/Premier_League#Media_coverage

[5] Abi Hasantoso, dkk. 2010. Buku Putih Reformasi Sepakbola Indonesia. Jakarta: Gerakan Reformasi Sepakbola Nasional Indonesia.  Hal. 44.

[6]Ibid.  Hal. 31.

[7] Diolah dari berbagai sumber di internet.

[8] John Horne & Wolfram Manzenreiter. Op. Cit. Hal. 11.

3 thoughts on “Sepakbola dan Industri Media

  1. mas zulfi, kenapa euforia bola terutama ke timnas pas datangnya bachdim itu begitu luar biasa ya? berarti konsumsi bola di indonesia hanya sebatas pada pemain dong, bukan pada permainannya?

    sy, dan mungkin sebagian orang juga malah merasa risih dengan pemanfaatan momen semacam itu sebagai komoditas. ada nasionalisme tapi cuma pas hebat saja, ada juga rasisme karena yang dielu2kan bachdim dan gonzales, ada dorongan positif dan perhatian kepada timnas tapi sekarang entah menguap kemana..

    hm, tapi menjadi penonton dan penggemar fanatik sebuah klub atau timnas juga tidak lebih baik juga sih, yang lebih penting bagaimana kita tetap bisa sehat dan cerdas, menolak untuk jadi ‘komoditas’ tadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s