Refleksi Gerakan dan Peran Politik Kampus IMM

Catatan sejarah peran politik mahasiswa atau kelompok muda (secara lebih umum) tidaklah seumur jagung dan periferal. Bila dicheck dengan seksama, awal pergerakan nasional pun ditandai oleh kelahiran Boedi Oetomo (1908) yang digawangi oleh sekelompok elit terpelajar, lalu ada Sumpah Pemuda (1928) momen penyatuan visi Ke-Indonesiaan yang juga dilakukan oleh kelompok muda terpelajar, kemudian meloncat di era pasca kemerdekaan peristiwa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru (1966) maupun era orde baru ke reformasi (1998) pun tak luput dari peran sentral kelompok muda terpelajar.

Ternyata tidak hanya di Indonesia. Di negara-negara lain, Iran misalnya, revolusi 1979 pun juga digawangi oleh kaum terpelajar (mahasiswa dan mullah). Sederhananya, perlu digarisbawahi bahwa perubahan sosio-politik (bisa jadi) hanya dapat terjadi bilamana inisiasi dari kaum terpelajar telah muncul. Dalam hal ini, pernyataan mantan Presiden Soeharto bahwa mahasiswa adalah agent of change menjadi benar adanya (meski dia sendiri yang akhirnya berkhianat terhadap ucapannya).

Dalam konteks lebih mini, di kampus. Adalah sebuah kewajaran ketika kemudian terjadi pembelajaran politik dalam proses pemilihan umum mahasiswa (PEMIRA, PEMILWA, dsb). Di sana ada proses saling bertukar gagasan, berkampanye meyakinkan calon pemilih. Mohon jangan melompat dulu pada fakta bahwa politik kampus pun seringkali kotor. Tapi, lihatlah substansinya: bahwa telah lahir kesadaran rasional dari mahasiswa untuk mahasiswa. Suatu hal yang sangat mewah hari ini, bila melihat sepak terjang racun budaya budaya pop, hedonisme dan apatisme yang begitu ganas.

Saya pikir kesadaran politik mahasiswa seperti itu, seharusnya tak asing lagi bagi sebuah gerakan mahasiswa, wa bilkhusus IMM. Sudah jamak terjadi bila tiap gerakan ekstra di kampus mendirikan partai mahasiswa tersendiri untuk terlibat dalam proses pemilihan umum mahasiswa. Ada persaingan untuk memberikan yang terbaik, senada dengan slogan IMM “fastabiqul khairat”.

Sudah pasti ada perdebatan akan perlu atau tidaknya partai mahasiswa seperti ini. Ini wajar, karena bila dibandingkan dengan rekan gerakan yang lain IMM memang masih hijau dalam kesadaran politik. Akan tetapi, bukan berarti itu menjadi alasan untuk terus stagnan tidak mau bergerak. Ada beberapa argumen yang saya pikir bisa dijadikan rujukan:

Pertama, di ART IMM hanya ada dua larangan rangkap jabatan bagi kader IMM, yaitu larangan merangkap di organisasi ekstra kampus lain (ART IMM pasal 3) dan larangan menjabat di partai/organisasi politik (ART pasal 11, ayat 1.g). Larangan pertama sudah clear, definisi organisasi ekstra kampus tentu sudah jelas. Sedangkan, larangan menjabat di partai/organisasi politik perlu dipahami lebih lanjut. Tentu yang dimaksud adalah partai/organisasi politik pada level politik pada level nasional (UU No 2/ 2008, pasal 1 ayat 1) yang didaftarkan dengan akta notaris pada Kementrian Hukum dan HAM (pasal 3 ayat 1), yaitu mereka yang mengikuti Pemilihan Umum 5 tahun sekali.

Kedua, logika relasi Muhammadiyah dengan PAN sebenarnya kurang tepat untuk menjelaskan relasi IMM dengan partai mahasiswa. Tentu yang lebih tepat adalah melihat kondisi IMM di tempat lain. Tidak perlu jauh-jauh di DIY misalnya, hampir semua IMM di level kampus memiliki (minimal) kedekatan kultural dengan partai-partai mahasiswa. Di UGM ada Partai Balairung, di UIN ada Partai Aliansi Demokratik,  di UAD ada Partai Parmasi dan di UMY ada Partai Islam Progresif.

Ketiga, merujuk pada rekomendasi Muktamar IMM XIV di Lembang kemarin. Ada butir rekomendasi yang berbunyi “mengupayakan penguasaan lembaga kemahasiswaan (BEM) dan dakwah kampus (LDK) baik di  perguruan  tinggi  Muhammadiyah  maupun  perguruan  tinggi  negeri  dan  swasta  lainnya sebagai sarana orbitasi kader” (Tanfidz DPP IMM 2010-2012, Rekomendasi Internal, poin 2). Bila diterjemahkan dalam level praksis, tentu rekomendasi ini harus diwujudkan dalam bentuk lembaga yang memfasilitasi masuknya peran IMM ke dalam BEM/lembaga setingkat. Di level HIMA atau BEM Fakultas boleh lah, masuk secara individual, tapi di level BEM Pusat/DPM tentu tidak bisa. Ada mekanisme politik kampus yang harus dilewati. Pertanyaannya, apakah kontribusi kita di internal kampus hanya berhenti di level organisasi tingkat jurusan dan fakultas? Silakan dijawab sendiri….

Kemana Harus Melangkah?

Ada banyak keluhan yang saya temui selama ini. Bahwa keterlibatan IMM di politik kampus akan menjerumuskan ikatan ini ke lembah yang kotor. Politik kampus dalam banyak kasus adalah wahana sikut-sikutan antar lembaga, antar individu. Saya pikir itu sah-sah saja. Akan tetapi, ada substansi yang lebih penting untuk digali bahwasanya level kontribusi IMM harus terus dilebarkan terus menerus. IMM tidak bisa berhenti di tataran internal lembaga, atau internal generasi muda Muhammadiyah semata. IMM harus keluar dari “penjara” struktural untuk bermanfaat bagi lebih banyak orang (khoirunnaas anfa’uhum linnaas). Bukan begitu?

Saya pikir, banyak hal yang masih bisa didiskusikan lebih mendetail dengan sehat dan rasional. Tulisan ini memang jauh dari kata ilmiah, karena hanya sebatas refleksi subyektif semata.

Pada akhirnya, yang harus direnungkan bersama adalah keterlibatan politik kampus bukanlah sebuah aib. Melainkan bagian dari realitas kekinian yang perlu dihadapi. Jangan sampai ketakutan untuk salah, justru membuat kita tidak pernah bergerak sama sekali. Fastabiqul khairat!

2 thoughts on “Refleksi Gerakan dan Peran Politik Kampus IMM

  1. tulisan yang bagus cuman landasan yuridisnya harus dipertajam kalo hanya landasan itu belum bisa meyakinkan…perlu2 benar dilakukan intrepretasi ulang apa yang ada di konstitusi IMM dan konstitusi Muhammadiyah..Ledakkan! hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s