Kesetiaan Alex

Oleh Anton Sanjoyo (Diambil dari Kompas, 4 November 2010)

Ketika sepak bola menjelma menjadi industri raksasa dan kapital menjadi nakhodanya, ketika itu pula tradisi dan jejak sejarah sebuah klub berubah menjadi fatamorgana. Ada tetapi tiada. Di negara-negara utama sepak bola Eropa, gejala ini begitu kentara dan meninggalkan pertanyaan besar, terutama tentang jati diri klub.

Real Madrid, misalnya, sebagian kita tak lagi ingat benar, kepada siapa ingatan sejarah hebatnya terwakilkan. Segera setelah Raul Gonzalez Blanco meninggalkan klub superkaya itu, pengetahuan kita tentang mereka hanyalah sekumpulan bintang yang datang karena didorong oleh egoisme dan terutama uang. Siapa pemain yang kita ingat keberadaannya di Bernabeu lebih karena cinta, sejarah, dan tradisi? Tidak, atau paling tidak belum pada diri Cristiano Ronaldo, Kaka, Karim Benzema, apalagi Mezut Oezil atau Angel di Maria.

Real Madrid boleh mengklaim diri sebagai klub tersukses di dunia, dari sisi prestasi atau peringkat kekayaan versi Deloitte. Namun, dalam dua dekade terakhir, mereka tak lebih baik dari sisi sejarah dan tradisi ketimbang, misalnya, Barcelona, Manchester United, atau Juventus yang tidak sekadar memburu gelar dengan membeli pemain-pemain terbaik di dunia, tetapi juga melahirkan ikon dari tim yunior dan memelihara kesetiaan pemain bintangnya untuk menjaga sejarah dan tradisi.

Hari Sabtu pekan lalu di Stadion San Siro, Milan, Alessandro del Piero mencatat sejarah, bukan saja bagi dirinya sendiri, tetapi terlebih bagi Juventus, klub yang setia ditungguinya, bahkan pada kondisi paling kelam sekalipun. Di hadapan pendukung fanatik AC Milan, Alex del Piero, selain mencetak gol untuk kemenangan ”Sang Nyonya Besar”, juga menatahkan rekor pencetak gol terbanyak bagi Juve di Serie A dengan 179 gol. Alex mematahkan rekor milik legenda ”Tim Zebra”, Giampiero Boniperti, yang mengukir 178 gol sejak bergabung dengan Juve pada 1946-1961.

Pada era ketika uang adalah segala-galanya dan menggiring sepak bola ke arah industri dan bisnis yang cenderung tak menghormati etika, Alex adalah sebuah kekecualian. Bagi Alex, Juventus yang dibelanya sejak 1993 adalah rumah dan keluarga yang kostumnya akan dipakai sampai mati. ”Tak ada rekor lagi yang harus dikejar. Saya ingin terus bermain untuk Juventus, domestik maupun internasional,” ujar Alex yang total tampil 466 kali bagi Juventus di Liga Italia. ”Saya tak akan mengenakan kostum lain di Italia,” lanjut Alex, yang tahun ini memasuki usia 36 dan dikabarkan ramai diincar klub-klub Amerika Serikat.

Terlahir dari keluarga kelas menengah bawah di Veneto, Alex kecil mulai gemar menendang bola ketika usianya belum genap lima tahun. Meski halaman belakangnya tidak terlalu luas, Alex menghabiskan waktu bermainnya di sana menendang bola dengan dua temannya, Nelso dan Pierpaolo. Mereka punya mimpi besar, menjadi pemain hebat, tetapi hanya Alex yang mencapainya.

Pada usia tujuh tahun, Alex bergabung dengan tim yunior San Vendemiano, yang tempat berlatihnya dekat dengan rumah keluarga Alex di Saccon. Meski sering bermain di banyak posisi, Alex yang bangun tubuhnya tak terlalu tinggi, 173 sentimeter, menunjukkan bakat yang hebat di posisi penyerang. Pemandu bakat klub Padova-lah yang melihat betapa potensialnya Alex dan segera merekrut ke Padova Calcio. Pada usia 13 tahun Alex meninggalkan rumah orangtuanya meniti karier sebagai pesepak bola profesional.

Pada 1993 Alex hijrah ke Turin untuk memperkuat klub idolanya sejak kecil, Juventus, dan mencetak debut Serie A saat menghadapi Foggia. Bersama Juventus, Alex merebut tujuh gelar Serie A, Liga Champions (1996), dan Piala Intercontinental. Musim terbaik Alex bersama ”La Vecchia Signora” terjadi pada 1997-1998 saat mencetak 21 gol di Serie A dan menjadi top scorer Liga Champions dengan 10 gol.

Kecintaan Alex pada Juve dibuktikan saat timnya dihantam prahara suap pada 2006 dan didegradasi ke Serie B. Saat sejumlah bintangnya memilih hijrah ke klub lain karena tak tahan ”menderita”, Alex menjadi inspirasi Juve untuk kembali ke Serie A semusim kemudian. Sampai sekarang Juve masih merasakan dampak dari calciopoli itu dan masih berjuang untuk mengembalikan kebesaran namanya, dan tetap bersama Alex sebagai inspirator.

Diimpit oleh kekuasaan uang duet Milan, Internazionale dan AC Milan, Juventus memang sangat membutuhkan figur Alex untuk mengembalikan kejayaan Sang Nyonya Besar. Jika Juve dan Alex bisa mempertahankan penampilan briliannya seperti di San Siro, tampaknya mereka tinggal menghitung hari.

Di San Siro, Alex menunjukkan kepada lawannya bahwa sepak bola bukan sekadar ambisi meraih gelar, seperti yang dilakukan Zlatan Ibrahimovic. Ibra, memilih meninggalkan Alex ketika Juventus dilanda bencana pada 2006. Ibra berlabuh di Inter Milan, lantas hijrah ke Barcelona sebelum memakai kostum merah-hitam AC Milan hari Sabtu lalu.

Tak ada yang salah dengan ambisi Ibra untuk meraih gelar, tetapi Alex menunjukkan kepada kita semua bahwa sepak bola memang tidak sekadar uang dan gelar. Ada nilai-nilai kesetiaan yang tak lekang dimakan zaman dan kekuasaan uang. Ada keindahan Alex del Piero yang tak pernah pudar meski usianya tak muda lagi. Di San Siro, Alex mengingatkan orang masa jayanya sebagai play maker sekaligus pencetak gol andal lewat gol cantiknya yang ke-179.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s