Retorika

“Ada dua cara memperoleh kemenangan dalam politik: Talk it out (bicarakan sampai tuntas, dengan retorika) atau shoot it out (bunuh sampai tuntas, dengan kekuasaan otoriter).”

Kira-kira kalau anda diminta pendapat tentang retorika, apa yang akan anda jawab? Tanpa harus dibuat survey khusus, saya pikir sebagian dari kita akan mendekatkan istilah retorika kepada konotasi negatif. “Ah, kamu bisanya hanya retorika tok.”

Dahulu Kang Jalal (Prof. Jalaluddin Rakhmat) pernah merasakan hal tersebut, saat menjadi pengajar mata kuliah retorika di Fikom Unpad. Konotasi buruk tersebut bahkan membuat beliau sampai malu menyebutkan pekerjaannya (di kemudian hari beliau sampai menulis buku khusus tentang RETORIKA).

Sayang, sebagian dari kita masih memahami retorika sebatas tafsiran omong tok. Kita lupa bahwa retorika adalah senjata yang dapat mengubah dunia. Ada banyak tokoh yang merubah dunia, namun sering tidak disebutkan bahwa (hampir) semua dari mereka adalah para orator yang ulung. Benjamin Disraeli, Abraham Lincoln, JF Kennedy, bahkan Nabi Muhammad dan Ali bin Abi Thalib pun adalah sebagian kecil dari orator ulung tersebut. Adolf Hitler bahkan pernah menjunjung setinggi langit para orator dalam risalah perjuangannya Mein Kampf, “Setiap gerakan besar di dunia ini dikembangkan oleh para ahli pidato, bukan para jago-jago tulisan.”

Tentu kita pun tidak lupa bahwa presiden kita yang pertama, Soekarno pun memiliki kharisma yang luar biasa dalam berpidato. Pidatonya berapi-api dan penuh dengan kata-kata yang membakar emosi para pendengarnya.

“Karena itu, semboyan kita sekarang ini ialah, Hancurkan kekuasaan Amerika. Hancurkan kekuasaan Inggris. Amerika kita setrika, Inggris kita linggis!”

“Kalau kita lapar itu biasa. Kalau kita malu itu juga biasa. Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar! Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu.”

Saya tidak membayangkan bila pidato itu terjadi pada hari ini. Mungkin Malaysia yang sudah merampok Ambalat, menyakiti petugas Kementrian Kelautan dan Perikanan, dan masih banyak lagi. Bisa jadi tidak hanya akan diperangi di ruang-ruang media, namun di ruang perang yang sebenarnya. (Sayang, pemimpin kita saat ini tidak punya ketegasan retorika seperti itu. Bahkan pidato pun masih sering menggunakan teleprompt.)

Retorika sebagi ilmu berbicara adalah ilmu yang sangat tua, setua umur peradaban manusia. Karena unsur utama dari retorika, berbicara, adalah anugerah Tuhan yang ada pada semua manusia tanpa harus dipelajari secara khusus. Dale Carnegie menyatakan bahwa 75% dari hidup kita tiap harinya akan dihabiskan dengan berkomunikasi. Ini senada dengan prinsip dasar komunikasi: one cannot not communicate. Berbicara adalah pembeda antara manusia dengan hewan maupun tumbuhan. Kambing mungkin masih bisa mengembik, atau anjing yang dapat menggonggong, tapi mereka tak dapat bercerita akan pengalaman masa lampaunya –karena tak dapat berbicara.

Retorika pun juga dikenal dalam Islam. Biasa kita diistilahkan dengan balaghah. Ilmu ini menurut nabi dalam sebuah hadits, mirip dengan sihir –tapi bukan berarti tidak boleh dipelajari. Pidato-pidato Nabi menurut para sahabat seringkali mampu membuat hati orang berguncang dan bahkan sampai meneteskan air mata. Pidato-pidato tersebut sempat dibukukan dalam Madinat al-Balaghah. Selepas nabi, khalifah yang mewarisi kemampuan orasi juga adalah Imam Ali bin Abi Thalib, pidato-pidatonya pun dibukukan dalam Nahjul Balaghah (Jalan Balaghah).

Saya jadi berkesimpulan, bahwa pemimpin adalah orang yang harus punya kemampuan retorika yang baik. Seorang pemimpin memang harus pemikir, pekerja keras, namun tanpa kemampuan retorika yang baik, dia tidak akan pernah menggerakkan siapapun.

5 thoughts on “Retorika

  1. Perlu dijelaskan lebih lanjut mas ilmu balaghagh itu. menarik😀

  2. sudah dibaca.. ya ya ya

    tp mas para jago pidato itu sebelumnya ternyata baca tulisan si jago tulisan.. hhe😀

    jd..?

  3. Sepakat sekali dengan quote Hitler. Karena lebih banyak orang yang suka mendengarkan daripada yang suka membaca. Dalam contoh Revolusi Iran, Imam Ayatulloh lah yang menggerakkan rakyat, buku Ali Syariati tidak bisa sampai menggerakkan rakyat karena yang baca hanya kaum intelektual yang juga tidak akan masif gerakannya jika rakyatnya tidak bergerak.

  4. Permisi…😀 rawkz sekali bung Hitler.
    kayak nama ymku ya mas? hehehe

  5. menarik mas retorika itu menurut saya penting , bukan hanya untuk pidato api untuk berkomunikasi secara keseluruhan saya ingin belajar tentang retorika supaya saya bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan putra putri saya (ibu rumah tangga) mkasih ditungu tulisan berikutnya mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s