Turtle Can Fly : Kisah Para Pemanggul Rumah

“Hanya ada dua macam buku, the book of hour atau the book of all time (John Ruskin, Kritikus Seni)

Apa yang disampaikan oleh Ruskin di atas, bisa dianalogkan ke dunia perfilman. Bahwa hanya akan dua macam film, the film of hour atau the film of all time. Yang pertama akan lahir sekejap kemudian mati, sedangkan yang kedua akan terus “hidup”. Kedua kategori ini, juga mirip dengan apa yang disampaikan oleh Imam Ghazali tentang umur biologis dan umur manfaat.

Sebagai sebuah karya seni, film merupakan representasi dari dunia nyata (ingat! Representasi bukanlah cerminan fakta). Dari situ ia merupakan karya seni yang paling rumit, karena paling mampu meniru kenyataan sedekat mungkin (Eric Sasono, dalam Ade Irwansyah, 2009:12). Sebagai sebuah karya seni yang merekam dan merepresentasikan fakta, film juga berfungsi sebagai sarana eskapisme dari masyarakat yang telah lelah bekerja[1]. Masyarakat yang lelah, kemudian mencari makanan “batin” dari film untuk mengenyangkan dirinya.

Dari kedua aspek di atas, yaitu karya seni dan representasi kenyataan. Maka boleh jadi, formula terbaik dari sebuah film adalah tingginya tingkat seni dan kedekatannya (proximity) terhadap realitas. Nah, dari dua aspek inilah Turtle Can Fly (TCF) akan kita takar bersama-sama.

Sinopsis

TCF bermula dari kisah seorang remaja laki-laki yang dijuluki sebagai Satellite. Sehari-hari kerjanya adalah mereparasi antena di sebuah tempat pengungsian di perbatasan Iran-Iraq. Selain itu, ia juga menguasai negosiasi dengan para broker yang menjual ranjau darat hasil tangkapan anak buahnya. Anak buahnya adalah para bocah yang sebagian besar telah buntung dihajar ranjau dan karena itu mereka sudah kebal dengan ketakutan untuk berburu ranjau lebih banyak lagi.

Boleh jadi, Satellite adalah personifikasi dari adagium terkenal “Who control the information, control the world”.

Hari-hari Satelit lalu berubah drastis setelah kedatangan seorang remaja perempuan yang selalu menggendong anak di pundaknya (Agrin). Selain bersama seorang balita, Agrin datang bersama kakaknya, Hengov, yang tak bertangan lantaran buntung oleh ranjau. Dan, layaknya kisah cinta lainnya. Satellit pun rela berkorban macam-macam demi mendapatkan hati Agrin.

Kisah dalam film ini berlanjut dengan mengorek memori Agrin tentang perang. Rasa frustasinya selama membesarkan anak hasil perkosaan, perseteruannya dengan kakaknya yang begitu sayang dengan anak itu, dan penolakannya pada Satellite, menjadikannya amat rapuh. Perang memang selalu mengerikan dan traumatis, apalagi bila dilihat dari sudut pandang seorang remaja -yang belum dewasa. Dan, akhir dari film ini bisa jadi merupakan perwujudan dari puncak trauma yang diderita oleh Agrin.

Komentar

Sivis Pacem Para Bellum

(Jika menginginkan kedamaian maka bersiap-siaplah untuk perang)

TCF, bagi saya, merupakan film perang yang unik. Film ini merekam perang dari sudut yang unik, remaja-remaja di pengungsian. Taak seperti film perang lazimnya yang butuh adegan penuh teriakan dan tembakan (ex: Saving Private Ryan, Kingdom of Heaven, Black Hawk Down, dsb). Film ini secara humanis –khas film Iran, bercerita tentang pergolakan jiwa para pengungsi muda yang menderita akibat perang berkepanjangan.

Para remaja yang di dunia psikologi digambarkan sebagai fase pencarian akan identitas dan penuh ketidakpastian, dipotret berbeda. Secara ironis, mereka harus bertindak sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap kehidupan mereka sendiri. Ini belum termasuk para bocah yang juga harus bermain-main di antara kekejaman peperangan. Ironi ini menegaskan kembali bahwa perang tanpa pandang bulu akan memakan korban, baik mereka yang terlibat maupun yang tidak terlibat di medan peperangan.

Mereka semua tanpa terkecuali harus berjibaku mempertahankan kehidupan di tengah suasana yang sekali-kali tak akan pernah mereka harapkan. Mereka inilah yang dianalogkan dengan turtle (kura-kura). Hewan yang selalu berpergian dan membawa kemanapun “rumahnya”.

Selain kekejaman perang, yang patut digarisbawahi pula adalah sudut pandang film yang memihak pada Amerika. Lihat saja bagaimana, para warga terobsesi untuk mendapatkan informasi mengenai rencana Amerika untuk “menyelamatkan” Iraq. Juga digambarkan bagaimana propaganda perang dilancarkan oleh tentara Amerika lewat leaflet yang disebarkannya, “We are here to take away your sorrows! Those against us are our enemies. We will make this country a paradise. We are the best!”

Padahal, kalau mau merunut dengan lebih obyektif, apa yang terjadi di Irak sebenarnya tidak jauh-jauh dari permainan Amerika sendiri. Sejak dahulu gejolak terjadi karena adanya penentangan dari internal rakyat Irak terhadap Saddam Husein, ditambah lagi kepentingan Amerika untuk menjatuhkan Saddam Husein. Dulu memang Amerika mengira Saddam adalah orang yang dapat diajak kompromi. Sehingga Akan tetapi semakin lama justru Saddam tidak dapat diharapkan, sehingga harus dijatuhkan dengan cara apapun. Singkat cerita, Amerika akhirnya menyerang Irak -dengan tidak  mengatasnamakan PBB, dan Saddam pun berhasil digulingkan pada maret 2004.

Tumbangnya Saddam juga berasal dari perpecahan intern rakyat Irak. Sebagian besar rakyat memang melihatnya sebagai tokoh yang otoriter[2]. Oleh karena itu, tumbangnya dia dari tampuk kempemimpinan juga disyukuri oleh sebagian warga, terutama kelopok Syiah yang dipimpin oleh Moqtada El Shadr dan Imam Al Shistani. Walhasil, selanjutnya perang pun meluas menjadi perang dengan sentimen kelompok keagamaan, Sunni vs Syiah[3]. Semua tidak bisa dihindari, tercatat pada 2006 lalu korban telah mencapai 650ribu orang[4].

Di antara peperangan tersebut lah. Ada Satellite-satellite lain yang mengais-ngais kehidupan. Ada Agri-agri lain yang juga melawan kenyataan hidup. Dan tentunya, masih banyak lagi anak-anak Irak yang tak berdosa harus menjadi korban perang.

[Out of Topic] Kondisi Perfilman di Indonesia

Di tengah decak kagum kita akan film-film Iran tentu kita juga bertanya-tanya. Mengapa perfilman kita masih tiarap di tempat. Kalaupun ada film yang bagus, sifatnya tidak lebih daripada devian.

Maka dari itu, berbicara mengenai perfilman lokal adalah perbicangan mengenai segitiga produsen, distributor dan konsumen. Akan tetapi, bila berbicara mengenai kualitas film (dalam konteks lokal Indonesia), maka pihak yang paling bertanggungjawab –menurut saya- harusnya produsen dan distributor[5].

Saya rasa kita tidak perlu berdebat panjang bahwa kondisi film di Indonesia saat ini berada di titik (agak) nadir. Secara kuantitas memang perfilman mengalami kenaikan signifikan sejak kematian surinya pada medio dekade 90-an. Namun secara kualitas?? Rasanya formula primitif: seks, ketakutan dan komedi sarkastis masih jadi pedoman sucinya.

Kondisi ini menurut Salim Said adalah akibat “dosa asal”[6]. Dosa asal pertama, bahwa perfilman kita dibangun oleh para pedagang Cina. Pada tahun 1930-an mereka lah yang meletakkan dasar perfilman sebagai pemilik bioskop, pemodal sekaligus penonton film. Sehingga bisa dimengerti bila film-film yang ada sekarang hanya mengejar sisi komersial (pragmatis) ketimbang sisi kesenian.

Dosa asal kedua, bahwa orang-orang perfilman mula-mula adalah orang-orang sandiwara Dardanela. Mereka membawakan cerita yang tidak pernah berpijak pada kondisi sosial yang nyata, melainkan hanya dongeng-dongeng[7]. Inilah bukti bahwa sisi imajinasi para produser film jauh lebih berkembang ketimbang sisi rasionalitasnya[8].

Berdasar ukuran-ukuran tersebut, kita lalu bertanya kepada para produser film. “Kenapa anda tidak bisa membuat film yang bermutu?”. Mereka menjawab, “Ini semua karena terbatasnya alat dan dana”. Dengan mudah kita menyanggahnya, “Film karya Charlie Chaplin (atau Film-film dari Iran) bisa bagus tanpa harus menggunakan peralatan yang canggih, kenapa anda tidak bisa?”. Kalau boleh menggeneralisir, permasalahannya bukan pada dana dan peralatan, tapi otak sang produser sendiri.”

Di tingkat distribusi, ada permasalahan mengenai monopoli distributor yang terjadi selama ini. Bioskop misalnya, tidak ada yang bisa menggeser grup 21 sejengkal pun[9]. Kuasa mereka tidak hanya ada di tingkat eksebisi di gedung bioskop, melainkan jauh sampai ke hulu. Mereka menguasai bisnis film sejak mulai impor film, peredaran hingga jaringan bioskop. Maka, tidak salah bila, bioskop kelas teri hampir semuanya gulung tikar. Kalaupun ada yang masih bertahan, tidak lebih dari film basi dan esek-esek yang bisa diputar[10].

Kedua masalah tersebut –secara sederhana- adalah alasan utama mengapa film kita tidak pernah maju. Kita, para penonton yang berpendidikan boleh jadi semakin cerdas (dan juga berani mengkritisi) dalam memilah, tapi kalau sistem yang ada tidak pernah berubah. Tentu akan sia-sia belaka.

Sivis Pacem Para Pactum.

(Jika menginginkan kedamaian maka mulailah dari diri sendiri)

Sekian. Terimakasih!


[1] Saya berasumsi bahwa para penikmat film adalah kalangan menengah ke atas. Yang telah menyelesaikan urusan “dapurnya”.

[2] Selama kepemimpinan Saddam, banyak sekali  pemberontak yang dibunuh ataupun ditangkap. Kelompok syiah yang jumlahnya lebih dari 60% dari penduduk Irak bahkan termasuk dalam kelompok ini.

[3] Saddam adalah simbol dari kelompok Sunni di Irak.

[4] Editorial Republika, Rabu, 03 Januari 2007.

[5] Kenapa saya tidak menyalahkan penonton, karena saya melihat sebenarnya penonton sudah cerdas. Ini dibuktikan dengan puncak film-film terlaris yang memang berkualitas, seperti Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Laskar Pelangi ataupun Sang Pemimpi. Sudah terbukti film berkualitas punya taji, lalu kenapa film-film “sampah” masih saja diproduksi secara beramai-ramai?

[6] JB Kristanto. 2004. Nonton Film, Nonton Indonesia. Jakarta : Kompas. Halaman xiii-xiv

[7] Jika tidak percaya bahwa apa yang ada di layar kaca kita hanyalah dongeng. Silakan perhatikan sinetron-sinetron yang tayang tiap malam. Dongeng tentang anak muda yang kaya dan berhasil dalam pekerjaan, jamak menghiasi. Kehidupan di negeri ini benar-benar sejahtera di depan layar kaca. Ini benar-benar menjauhkan penonton dari realita.

[8] JB Kristanto. Op Cit. Halaman xiv

[9] Pada tahun 2004, tercatat ada 400 layar bioskop (satu bioskop bisa terdiri dari lebih dari satu layar) yang masih bertahan. Dari jumlah itu praktis “semuanya” dimiliki oleh grup 21.

[10] Di Yogyakarta, silakan lihat Bioskop Mataram yang telah mati. Atau keadaan Bioskop Indra yang mengenaskan.

2 thoughts on “Turtle Can Fly : Kisah Para Pemanggul Rumah

  1. komplit banget artikelnya?! nice blog

  2. Pingback: Turtle Can Fly : Kisah Para Pemanggul Rumah « :: Zulfi Ifani's Blog :: - Website Kumpulan Dongeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s