Poligami dalam Pandangan Buya Hamka

Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (An Nisaa’ : 3)

Poligami adalah salah satu perdebatan klasik di kalangan kaum muslim. Sejak dulu sampai hari ini, isu ini masih saja seksi untuk terus diperdebatkan. Ada dua blok ekstrim yang bertarung, yaitu blok yang mengharamkannya karena melihatnya sebagai tindakan yang primitif-diskriminatif dan di blok lain ada yang mati-matian membelanya sebagai sunnah rasul –sembari melakukan poligami.

Menelisik ke belakang, tentu rekan-rekan masih ingat kontroversi poligami Aa Gym. Karena tindakan tersebut, ia rela dikecam segenap rakyat Indonesia. Bahkan, karirnya sebagai seorang dai kondang pun ikut-ikutan tenggelam. Lain cerita, pada Muktamar Muhammadiyah 1 abad kemarin juga muncul kampanye anti calon pimpinan yang berpoligami. Ini belum termasuk grup MADZHAB ANTI POLIGAMI yang dilahirkan oleh seorang aktivis Muhammadiyah di Facebook. Ketiga contoh kasus ini saya gunakan untuk memberi penegasan bahwa isu poligami bukanlah isu basi yang ketinggalan zaman untuk dibicarakan kembali.

Oleh karena itu, sembari mengikuti dan melihat-lihat perdebatan yang muncul tentang poligami. Saya mencari rujukan terkait, yang bisa dijadikan pegangan –khususnya bagi seorang muslim seperti saya. Referensi yang saya cari adalah tafsir An Nisaa’ ayat ke-3 (yang selalu dijadikan sandaran untuk berpoligami). Dan, saya menemukan tafsir tersebut dari Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka (dikutip dari buku Prof. Yunahar Ilyas “Kesetaraan Gender dalam Al Qur’an”). Adapun pandangan beliau tentang poligami adalah sebagai berikut:

Pandangan Hamka

Ayat tersebut diartikan Buya Hamka sebagai berikut:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil (bila menikahi) anak-anak yatim Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang sajalah, atau hamba sahaya yang kamu miliki. Yang demikian itulah yang lebih memungkinkan kamu terhindar dari berlaku sewenang-wenang”. (An Nisaa’ : 3)

Dari ayat tersebut terlihat jelas, bahwa yang dimaksud menikahi adalah menikahi anak-anak yatim, karena ditakutkan akan terjadi ketidakadilan bila menikahi anak yatim. Hal ini merujuk kepada pertanyaan Urwah bin Zubair kepada ‘Aisyah mengenai alasan menikah sampai empat istri dengan maksud memelihara anak yatim. Jawaban ‘Aisyah adalah sebagai berikut:

Wahai keponakanku! Ayat ini mengenai anak perempuan yatim yang di dalam penjagaan walinya, yang telah bercampur harta anak tersebut dengan walinya. Si wali lalu tertarik kepada anak tersebut dan juga hartanya. Maka bermaksudlah dia menikahi anak tersebut, tetapi dengan tidak membayar mas nikahnya secara adil. Dan daripada dia berbuat dengan tidak jujur, lebih baik dia menikah saja dengan perempuan lain, walaupun sampai empat.”

Menurut Buya Hamka, seorang laki-laki yang menikahi perempuan yatim yang berada di bawah pengasuhannya. Dia bisa saja tergoda untuk menguasai harta anak yatim tersebut dengan cara yang tidak sah, karena sudah menjadi istrinya. Kalaupun tidak mengambil hartanya, setidaknya yang sangat mungkin dilakukan adalah tidak membayar mas nikah secara jujur dan adil. Maka dari itu, untuk menghindari hal-hal tersebut, lebih baik laki-laki tersebut menikahi perempuan lain walaupun sampai dengan empat.

Dengan menikahi perempuan lain, kemungkinan tidak adil terhadap anak yatim bisa terhapuskan. Akan tetapi, bukan berarti masalah pun selesai. Karena seorang laki-laki bila beristri lebih dari satu akan dituntut pula sikap adilnya. Semua istrinya memiliki hak yang sama atas dirinya dan mereka pun berhak menuntut hak tersebut. Seperti hak tempat tinggal, hak sandang pangan, hak nafkah, dan lain sebagainya. Seorang lelaki yang beriman tentu memikirkan hal tersebut secara matang-matang, bukan sebatas memperturuti hawa nafsunya untuk menikahi sebanyak mungkin perempuan yang dia senangi.

Dalam pandangan Buya Hamka, sekalipun beristri lebih dari satu diizinkan dengan syarat yang amat ketat. Akan tetapi, beristri satu posisinya lebih terpuji1. Hal ini didasarkan pada ujung ayat yang berbunyi “Yang demikian itulah yang lebih memungkinkan kamu terhindar dari berlaku sewenang-wenang”. Menurut beliau, sewenang-wenang artinya bertindak menurut kehendak sendiri saja, tidak peduli lagi, masa bodoh. Ini lebih celaka, apalagi bila kondisi ekonomi tidak memadai dan jumlah anak dari tiap istri banyak jumlahnya.

Yang patut digarisbawahi, meski Buya Hamka menganjurkan lebih baik beristri satu. Beliau tidak sampai mengharamkan poligami2. Keadilan yang dituntut pada An Nisaa’ ayat 129, menurut beliau tidak berlaku untuk semua hal, ada perkecualian pada masalah hati. Karena memang tak ada yang bisa memaksa hati manusia. Beda dengan keadilan dalam nafkah rumah tangga dan pergiliran di malam hari misalnya. Oleh karena itu, Islam tidak sampai melarang poligami setidaknya karena dua hal, yaitu:

  1. Untuk menyalurkan secara sah dan sehat hasrat seksual yang dimiliki oleh seorang laki-laki. Bayangkan saja, bila ada lelaki yang tidak sanggup menahan hasrat tersebut. Bila tidak diizinkan beristri lebih dari satu, tentu akan mudah terjatuh pada zina.
  2. Untuk mengatasi problem di masyarakat bilamana jumlah perempuan melebihi laki-laki karena berbagai macam sebab, semisal karena peperangan. Maka dari itu, untuk mengatasi problem ini ada tiga alternatif solusi: (a) perempuan yang berlebih tersebut dibiarkan tidak bersuami sampai mati. (b) laki-laki diberi kebebasan untuk memelihara gundik atau perempuan piaraan, atau (c) laki-laki diperbolehkan untuk beristeri lebih dari satu. Dimana tiap istri memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dan menurut Buya Hamka, pilihan ketiga inilah yang paling realistis.

Demikian pandangan Buya Hamka tentang poligami, khususnya poligini. Beliau tidak membahas poliandri dan juga tidak melihat bahwa poligini adalah perilaku yang diskriminatif, apalagi misoginis. Pernikahan yang ideal tetaplah monogami, akan tetapi poligami pun diizinkan sebagai bentuk solusi problem seksual dan sosial bagi masyarakat. Karena dalam poligami, perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sah dan adil.

1 Agaknya pandangan ini juga lahir karena pengalaman pribadi beliau semasa kecil. Karena saat Ayah beliau akan menikah lagi, yang diceraikan adalah ibunda Buya Hamka. Padahal sebelumnya tidak pernah ada konflik besar di antara ayah dan ibunya. Hal ini ditegaskan kembali dengan nasehat dari kakak iparnya Buya AR. Sutan Mansur, “Jika kamu memiliki cita-cita yang tinggi cukuplah beristri satu. Karena waktumu nanti akan tersita untuk berlaku adil di antara istri-istri dan anak-anakmu.”

2 Kalau poligami diharamkan oleh Rasulullah, tentunya sahabat seperti Ghailan ibn Umayyah dan Harits ibn Qais sudah sudah dilarang beristri lebih dari satu ketika itu.

2 thoughts on “Poligami dalam Pandangan Buya Hamka

  1. Memang seyogyanya kita menempatkan poligami /poligini pada tempatnya. Bahwa hukumnya mubah, tidak sunnah, tidak juga haram. Jadi, lebih ke kondisi saja…. Lah, kalo kamu sendiri nantinya mau poligini ga?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s