We Call Him Mou(th)rinho!

“Benitez tidak memenangkan satu gelar liga pun selama 6 tahun tetapi dia tetap menjadi pelatih Liverpool. Ini bukan mentalitas di Italia. Untuk bisa tetap di sini, saya harus terus memenangkan gelar dan bekerja dengan baik,” (Jose Mourinho)

Santiago Bernabeu akhirnya menjadi saksi perjalanan fenomenal Inter Milan musim ini. Setelah menjuarai Liga Italia untuk yang kelima berturut-turut beserta Copa Italia. Kini giliran Liga Champion yang direngkuh. Ini adalah treble pertama dalam sejarah klub, bahkan dalam sejarah klub Italia. Sebuah prestasi yang tentunya luar biasa.

Sudah hampir 30 tahun berlalu, sejak terakhir kali Inter maju ke final Liga Champion pada tahun 1972. Sebelas triliun lebih dikeluarkan Massimo Moratti selama 15 tahun terakhir untuk mendatangkan pemain-pemain bintang. Namun baru tahun ini final dicapai. Jika prestasi ini ditelisik lebih jauh, kira-kira siapakah aktor utamanya?

Ada yang mengatakan tipikal oportunis Diego Milito yang jadi sentralnya. Ada juga yang mengatakan akurasi umpan dan tendangan jarak jauh Sneijder yang jadi kuncinya. Akan tetapi, tentu tak akan ada yang menolak ketika nama Jose Mourinho yang disodorkan. Suka atau tidak suka, sosok bermulut besar ini membuktikan sekali lagi bahwa dirinya jauh lebih berharga dari siapapun pemain bintang di timnya.

Mourinho: The Special One

Praktis, selepas malam final tersebut. Mourinho masuk ke dalam jajaran pelatih elit yang mampu memberikan dua gelar Liga Champions di dua klub berbeda. Bersama dirinya masih ada Ernst Happel (bersama Feyenoord dan Hamburg SV) dan Ottmar Hitzfeld (bersama Borussia Dortmund dan Bayern Muenchen). Satu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh Happel dan Hitzfield adalah Mourinho tak pernah kalah di seluruh final yang dilaluinya. Prestasi ini belum termasuk keberhasilannya menaklukkan tiga liga berbeda, Liga Portugal bersama Porto, Liga Inggris bersama Chelsea dan kini Liga Italia bersama Inter Milan.

Sebenarnya, apa yang menjadi kelebihan Mourinho? Susah untuk menyatakan ia memiliki referensi taktik yang indah. Karena ia adalah pemuja permainan pragmatis, yang selalu mengutamakan hasil ketimbang proses. Sebelum melawan CSKA Moskow di perempatfinal Liga Champion kemarin, misalnya, ia sempat berujar, “Ada 500 fans yang hadir di sini. Tugas kami adalah lolos ke semifinal, bukan membuat pertunjukan sepakbola. Itulah yang akan kami lakukan!”

Pendekatan pragmatis itulah pula yang menyebabkan, sejak dari Porto, Chelsea hingga Inter, ia kerap mendatangkan gelandang bertipe worker. Nama-nama seperti Ballack, Essien, Obi Mikel, Motta hingga Sulley Muntari terbukti menjadi otak permainan di lini tengahnya. Statistik gol pun juga memperlihatkan bagaimana tim asuhannya kerap menang dengan skor yang tipis.

Pragmatisme ini pun dilengkapi dengan spesialisasi adaptasi taktik lawan. Kemampuan ini bukan lahir tanpa sebab, karena erat kaitannya dengan awal karirnya sebagai seorang asisten. Lebih dari 10 tahun lalu, saat membantu Bobby Robson dan Louis Van Gaal di Barcelona. Mourinho sudah ditugaskan untuk menganalisis setiap taktik lawan. Di sinilah bakat alamnya dalam menganalisis taktik terasah. Louis Van Gaal pun pernah menyampaikan pujian, “Dia sungguh tekun dalam melakukan tugasnya dan sangat detail dalam mengerjakan pe-er analisis yang saya berikan”, katanya.

Selain senjata bermain pragmatis, ada satu lagi senjatanya yang amat berbahaya. Apalagi kalau bukan mulut besarnya. Ia bukanlah seseorang yang senang berkomentar di jalur aman, hampir setiap komentarnya selalu membawa aroma konflik dan perang. Tingkahnya ini bahkan diabadikan dalam Football Manager sebagai Outspoken Manager.

Senjata Mulut Besar

Saat perang dunia kedua berlangsung, Nazi yang dipimpin oleh Adolf Hitler memiliki tangan kanan seorang pakar propaganda Jozef Goebbels. Dialah nabi dan pakar propaganda nomor wahid yang dimiliki oleh Nazi. Duetnya bersama Hittler membawa Jerman yang sempat hancur lebur pada perang dunia I menuju ke puncak. Salah satu strategi yang digunakan adalah membentuk badan khusus yang menangani masalah agitasi dan propaganda atau agitprop. Tujuan dari agitrop ini adalah lahirnya perang urat syaraf atau psychological war.

Dalam propaganda, yang akan disampaikan -entah fakta atau bukan- memiliki maksud definitif untuk membentuk publik opini,. Sehingga, segala kedustaan, penjungkir-balikan fakta, rumor bahkan fitnah sekalipun halal digunakan. Salah satu pernyataan Goebbels yang terkenal pun membenarkan hal tersebut, “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya.”

Bila merunut ke masa kini. Apa yang dilakukan oleh Jose Mourinho pun tidak jauh-jauh dari serangan agitasi dan propaganda. Bisa jadi, itu memang tipikalnya, atau justru memang strategi yang ia gunakan untuk membuat lawan kalah sebelum bertanding.

Beberapa serangan tersebut bahkan acapkali membawanya kursi pesakitan. Saat Inter diatahan imbang oleh Sampdoria 0-0 pada Februari lalu misalnya. Mourinho menyilangkan tangannya membentuk huruf ‘X’, seperti diborgol. Akibatnya, ia pun dihukum tidak diperkenankan mendampingi anak asuhnya selama tiga pertandingan.

Bila merunut ke belakang, Mourinho pun sebenarnya selalu “mencari musuh” di tiap kompetisi yang dikunjunginya. Di Liga Inggris misalnya, Sir Alex Ferguson, Arsene Wenger dan Rafael Benitez seringkali dibuat kebakaran jenggot oleh tingkahnya. Perang urat syaraf yang biasanya hanya diisi oleh Sir Alex versus Wenger pun semakin ramai jadinya.

Selepas pindah ke Italia pada tahun 2008. Pendekatan “perang” ini tak berubah. Kejar-kejaran di klasemen antara Inter melawan AS Roma hingga akhir kompetisi pada musim ini pun turut memancing Mourinho untuk berkomentar pedas. Menurutnya, Ranieri (Pelatih AS Roma) adalah seorang pecundang yang tak pernah membawa klub yang diasuhnya sebagai juara. Meskipun benar, pernyataan ini tentu amat menyakitkan.

Bahkan sesaat sebelum final Liga Champion pun Mourinho sempat bertengkar dengan Louis Van Gaal (pelatih Bayern Muenchen). Dia membalas sindiran Van Gaal yang menyatakan bahwa Inter mampu maju ke final berkat bantuan wasit. Menurutnya, Muenchen pun juga maju ke final berkat bantuan wasit. “Semua yang terjadi pada laga Muenchen – Fiorentina atau Manchester United – Munchen, bagi saya tak ada artinya lagi sekarang,” sindirnya.

Tak cukup bertarung melawan Van Gaal. Mourinho pun sempat pula berbalas sindiran dengan Steve Nash (Pemain NBA). Nash yang menyindir Inter akan bermain dengan 11 orang kiper. Dibalas Mourinho dengan pernyataan, “Dia menulis bahwa Inter mungkin akan bermain dengan 11 kiper. Sayangnya, dia bermain basket. Dia tak tahu apa-apa soal sepakbola,”

Dalam sudut pandang komunikasi. Semua pernyataan Mourinho adalah bagian dari strategi perang urat syaraf yang dilancarkannya. Ia tentu bisa saja memilih menggunakan kata-kata sopan yang tidak menyingung. Sayang ia tidak memilihnya. Justru, dengan modal kecerdasan retorikanya, ia begitu pede melancarkan agitasi dan propaganda kepada siapapun. Lawan dibuat ciut mentalnya, sedang kawan dan pihak netral diperdaya untuk mendukungnya.

Susy Campanale (jurnalis Majalah Calcio Italia) bahkan menyatakan bahwa Mourinho adalah tipe pelatih yang hanya menghamba kepada dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa menyetir Mourinho, kecuali dirinya sendiri. Inilah yang mungkin jadi alasan Abramovich untuk mendepaknya, meski secara prestasi ia sangat mentereng.

Pada satu titik, Mourinho menyadarkan kepada kita semua bahwa sepakbola bukanlah sebatas perang di lapangan hijau semata. Namun jauh lebih besar dari itu, sepakbola juga merupakan medan perang psikologis. Siapa yang kuat akan menang dan berjaya, sedangkan siapa yang lemah akan tertindas dan perlahan terpuruk. Dan, Mourinho adalah personifikasi dari seorang panglima perang yang amat percaya diri. Bahkan saat dimusuhi seisi dunia sekalipun, ia tak akan pernah gentar.

Nah, bila tahun 2009 adalah tahun bagi Barcelona dan Pep Guardiola. Maka tahun ini, suka atau tidak suka adalah tahun milik Inter dan sang allenatore Jose Mou(th)rinho. Salut!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s