Metamorfosis

Tentu kawan-kawan sudah pernah mendengar istilah metamorfosis. Metamorfosis adalah fase dimana makhluk hidup mengalami perubahan fisik. Perubahan fisik tersebut seringkali amat radikal, contohnya saja ulat yang bermetamorfosis jadi kupu-kupu atau berudu yang menjadi katak.

Saya pun menggaris bawahi metamorfosis dari dua hal yaitu tahapan/fase dan perubahan radikal. Mungkin baru sekarang saya sadari, bahwa hidup saya (atau mungkin) anda selama ini selalu mengalami tahapan-tahapan untuk mencapai sebuah perubahan radikal.

Saya mengambil contoh ketika masa SMA dulu. Setidaknya ada tiga fase dalam kehidupan yang saya alami. Fase pertama adalah fase awal sekolah. Pada fase ini hampir segala pikiran dan energi saya lebih terfokus untuk untuk belajar dan mengerjakan tugas. Ibaratnya orang masuk dunia baru (dari masa SMP), inilah waktu untuk beradaptasi. Kalaupun terlibat di organisasi, ya tidak begitu aktif terlibat.

Fase kedua, adalah fase berorganisasi. Di kelas dua SMA (kelas XI), saya benar-benar sampai pada tahap kecanduan organisasi. Setidaknya ada empat organisasi yang saya seriusi di dalamnya (OSIS, SIBEMA, DIS dan KARISMA). Saking nyamannya berorganisasi, saya sampai lupa (hiperbola-red) untuk bersekolah. Walhasil, nilai kelas XI pun amburadul dan ranking pun melorot sampai mendekati 30an besar. Suatu ketika, Guru BK pernah menasehati untuk melepas keaktifan berorganisasi saya. Tapi, maaf… saya tidak akan mundur dari kenikmatan ini. Karena saya percaya apa yang saya lakukan di organisasi tidak akan pernah sia-sia. (Dan saya memang membuktikan hal tersebut!)

Fase ketiga, adalah fase kepompong. Inilah fase saat saya harus melepaskan semua kegiatan organisasi untuk fokus kembali ke pelajaran. Sepertinya inilah masa menjadi autis. Hari demi hari dan malam demi malam, diisi dengan belajar (walau saya akui sebenarnya semangat belajar saya masih kalah jauh ketimbang kawan-kawan lain). Seringkali di fase ini, rasa sepi banyak menyergap. Akan tetapi, kenikmatan bergulat dengan buku-buku pelajaran lebih menantang lagi, karena ini menyangkut masa depan saya. Alhamdulillah, fase yang berat ini saya lewati dengan (cukup) sukses. Nilai UN bisa masuk 10 besar di kelas dan juga lolos Ujian Masuk (UM) UGM di jurusan favorit lagi. Sekali lagi puji syukur.

Ketiga fase ini pun berulang lagi di masa kuliah secara persis. Dan kali ini, saya sampai lagi pada waktu untuk masuk fase terakhir, fase kepompong.

*********

Beberapa hari lalu saya mengirimkan sms ke Bapak. Memberitahu bahwa saya bersemangat lagi untuk menyelesaikan skripsi yang lama tertunda, sembari meminta maaf atas ketidakfokusan saya. Akan tetapi, jawaban dari Bapak cukup menohok dan membuat saya sedih. Saya memang salah karena telah berjanji untuk lulus cepat. Namun, sampai sekarang progressnya belum terlihat sama sekali. Tapi, ya sudahlah. Saya menganggap teguran dari Bapak sebagai semangat besar untuk kembali memasuki fase kepompong. Fase dimana saya harus autis di perpus dan mengobrak-abrik timbunan buku referensi. Dan, memang itulah pekerjaan saya selama seminggu terakhir ini.

Seminggu terakhir ini saya membuat komitmen untuk pergi ke perpus tiap hari (sampai selesainya skripsi). Minimal 3 jam harus saya manfaatkan untuk membaca dan menulis sesuatu. Selain itu, saya juga bertemu dengan dosen pembimbing (Mas Wawan) untuk berdiskusi kembali. Alhamdulillah, sambutan beliau pun cukup hangat dan juga memotivasi. Padahal sebelumnya, saya sempat terpikir untuk mengganti judul karena merasa tema ini terlalu berat.

Kini, tugas saya hanya konsisten (atau istiqomah dalam sms yang dikirim Bapak). Saya percaya bahwa saya akan melewati fase kepompong ini dengan sukses. Walaupun entah kapan akan berakhirnya. Saya menargetkan diri untuk wisuda di November ini. Artinya, di Bulan Agustus saya harus ujian pendadaran. Wallahua’lam, saya hanya bisa berusaha keras dan berdoa. Allah lah yang nantinya menentukan.

Yang paling penting dari perjalanan antar fase ini adalah syukur dan keyakinan. Saya yakin bahwa apa yang saya kerjakan di bangku kuliah/sekolah tidak ada yang sia-sia. Begitu pula dengan pilihan untuk aktif di organisasi, tidak pernah saya sesali. Kesemua perjalanan fase ini adalah kuas berwarna yang mewarnai hidup saya. Saya percaya, bahwa hidup tak akan indah bila tidak berwarna-warni.

Bismillah, mohon doa dan dukungannya.

Saya akan masuk ke fase kepompong lagi, dengan mengerjakan skripsi sampai selesai.

Mohon maaf, bilamana ada banyak salah kata dan tindakan saya selama ini…

*Gambar dipinjam dari sini

7 thoughts on “Metamorfosis

  1. hahaha…
    kalo aku kayaknya seumur idup ada di fase kepompong
    selalu asyik sendiri, males berorganisasi
    dan entah kapan akan bermetamorfosis
    mungkin seumur hidup jadi kepompong….

  2. wah, sama mas🙂 antara adaptasi, aktivis, akademisi.

  3. saya pernah sms ke ayah, “Ayah, Danang kayaknya lulusnya nggak bisa cepet” dan dibalas “nggak apa-apa yang penting lulus” nah itu dia saya juga begitu dibalas gitu malah mewek dalam hati…

  4. Pengennya juga gitu, wi…
    Santai kuliah…
    Tapi, sekarang kayaknya udah ga mungkin…

  5. hi2.. inspirasi..
    belajar dari cita2 lulus cepat, teori, aplikasi, dan mengatasi kendalanya..

    meturnuwun🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s