Hizbut Tahrir vs Sabili

Majalah Sabili pada edisi 13 mei 2010 lalu menurunkan feature berjudul”Menguak Hizb At Tahri” tulisan dari Lutfi A. Tamimi, yang mengambil referensi dari Buku WAMY (World Assembly of Moslem Youth). Tulisan sepanjang 8 halaman ini menimbulkan resistensi yang keras dari kalangan aktivis Hizbut Tahrir. Salah satunya adalah artikel dari Farid Ma’ruf yang berjudul “Fitnah Murahan kepada Hizbut Tahrir ala Majalah Sabili”. Ini belum termasuk grup di facebook yang khusus dibentuk untuk memboikot Sabili.

Yang ingin saya garisbawahi, “Kenapa ujung-ujungnya harus boikot?”.  Ini benar-benar logika berpikir yang melompat jauh. Karena seharusnya diawali dulu dengan cara yang baik. Dalam undang-undang pers ada yang disebut sebagai hak jawab. Kalau merasa belum cukup, silakan laporkan ke Dewan Pers. Itu cara yang tepat sesuai undang-undang. Atau mungkin karena undang-undang ini produk demokrasi (yang haram hukumnya), maka tidak dianggap.

Ya sudahlah, ada cara Islam…. Gunakan tabayyun langsung. Jangan sampai serangan, dibalas dengan serangan yang sama-sama memojokkan. Apa bedanya HTI dengan Sabili? Kalau cara menjawab para kadernya juga menggunakan kata-kata yang berlebihan dan tidak etis (yellow journalism), seperti fitnah murahan, keji, basi, dsb. *jangan lupa, Sabili masih majalah Islam dengan oplah yang cukup tinggi di Indonesia.

Untuk lebih jelasnya, pembaca bisa melihat sendiri artikel di Sabili yang mengundang kontroversi tersebut. Saya meminjamnya dari Facebook milik Apip Haris. (Klik untuk melihat ukuran asli)

14 thoughts on “Hizbut Tahrir vs Sabili

  1. walah,
    eh, ternyata mas anak ugm juga ya?

  2. wahh sudah lama banget saya dapat segepok informasi a-z about this mas, dari berbagai sumber.

  3. Wah… Terus terang saya kagum dengan argumentasi Ismail Yusanto dari HTI. Begitu telak membantah tulisan sabili. Dari dulu HT memang matang dalam dalil2nya…

  4. Saya pikir semua organisasi Islam sama saja: selalu merasa dirinya paling benar dan menjelek-jelekkan yang lain. Introspeksilah, sahabat-sahabat… Politisasi agama yang tanpa kita sadari… Astaghfirullah…

  5. maksudya boikot adalah sesuai dengan kaidah al wasilatu ila al haromu fahuwa haromun, segala sarana yang mengantarkan kepada keharaman adalah haram. Jika sebuah majalah Islam yang seharunya menjadi penyambung lidah umat berubah menggunting dalam lipatan berarti ini fitnah yang tak terperikan. Padahal fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.

    • Wow.. padahal selama ini Sabili lebih banyak memperjuangkan Islam. Hebat sekali anda mengambil konklusi Sabili = Wasilah Fitnah.
      Ck.ck.ck… Luar biasa hebatnya logika anda.

  6. Mas Zulfi aja tendensius. Kebencian anda terlihat dari kata2 anda. Bukanya kebenaran yang anda mau angkat dalam blog anda ini. Buat aja propaganda tuh kaya Amerika. Logika saya biasa2 aja. Bukan hukum media tapi hukum Islam. Kalau menyebar luaskan berita bohong tiada kebenaran apalagi tidak tanya langsung yang bersangkutan itu FITNAH Mas. Apalagi tanya 3 pertanyaan jati 8 halaman itu mengada2 juga fitnah. Jangan merasa paling berjuanglah dalam Islam. Nanti malah tidak dapat pahala. Ulama besar aja tidak merasa lebih banyak memperjuangkan Islam.

  7. Harusnya tuh sabili Tabayun dulu sebelum diedarkan! Biar gak dianggap Fitnah. Katanya majalah Islmai. kok nggak ada nilai2 Islamnya sama sekali? Mas Zulfi tabayun dulu sana sebelum berkomentar. katanya juga Islami. Biar berkomentarnya benar. Setelah tabayun hasilnya baru ditulis di sini. payah ini. Lulusan UGM kaya gini. Aku ikut malu.

    • Katanya majalah Islmai. kok nggak ada nilai2 Islamnya sama sekali

      Ini lagi2 lompatan berpikir yang terlalu jauh… Generalisasi berlebihan.

  8. Atau mungkin Sabili dari kata SALIBI. yang berarti Salib?

Comments are closed.