Urgensi Peran Media Islam (2)

Realita Media Saat Ini

Media bukanlah entitas bebas nilai sebagaimana dipahami para positivis. Sejatinya media adalah ruang sarat kepentingan. Ada adagium populer bahwa ”isi media akan selalu merefleksikan kepentingan siapa yang memilikinya.” Media milik Bakrie Group misalnya, tak mungkin akan memberitakan aib perusahaan atau pemiliknya (lihat: lumpur lapindo yang disulap jadi lumpur sidoarjo). Atau, dalam konteks lokal media milik IMM Korkom UGM tentu juga tak akan memberitakan keburukan internalnya.

Maka dari itu, siapa yang menguasai media dialah yang menguasai dunia. Inilah realita media di tingkat global, maupun di Indonesia. Saya akan membandingkan antara media Islam dengan media umum (yang konon bebas nilai dan kepentingan agama tertentu).

Jenis Media Umum Islam
Surat Kabar* Kompas (600.000 exp/hari) Republika (120.000 exp/hari)
Majalah Mingguan** Tempo (170.000 exp/minggu) Sabili (62.000 exp/2 minggu)
Web*** Kompas.com

171,851 visitors/month

Republika.co.id

3.457 visitors/month

*data dari AC Nielsen (1999) ** data dari Pantau.Com *** data dari Surcentro.com

Bisa dilihat betapa timpangnya penetrasi media Islam ketimbang media umum. Padahal, media umum yang dominan tak hanya Kompas. Masih ada Media Indonesia, Jawa Pos (surat kabar), Gatra, Forum (majalah mingguan), detikcom atau okezone (web) yang juga memiliki oplah/penetrasi tak kalah besar. Tentu dengan minimnya oplah/penetrasi media Islam, kita bisa mengambil kesimpulan awal bahwa kepentingan umat Islam pun belum terwakili.

Media Alternatif

Ketidakadilan dan ketimpangan tersebut dapat ditelusuri dengan aroma Islam yang selalu disinonimkan dengan keras, fundamentalis dan radikal. Kontras dengan barat yang selalu di-eufemisme-kan.

Oleh karena itu, hari ini kita tidak boleh berpangku tangan sebatas menjadi penonton dan pembaca setia dari media dominan. Media besar memang bagaikan tembok besar Cina yang memang susah (atau bahkan mustahil) untuk dirobohkan. Jika ingin bertarung vis-a-vis, niscaya tidak mungkin. Ada masalah dana, SDM dan jaringan yang menghalangi (barrier to entry). Dana misalnya, tentu tidaklah murah biaya untuk mendirikan sebuah media televisi. Adi TV (TV milik Muhammadiyah) yang lingkupnya hanya lokal DIY saja butuh modal tidak kurang dari 60 miliar, apalagi TV nasional?

Dengan beratnya pertarungan media Islam di tingkat sistem. Bisa jadi perlawanan yang terbaik adalah di tingkat individu. Hampir tak mungkin untuk mengharapkan media-media Islam menjegal pertarungan pemberitaan dari media-media major.

Peperangan di medan maya (baca: internet) menjadi salah satu solusinya. Di era internet berbasis web 2.0, user kini memainkan peranan penting yang sangat signifkan bahkan melebihi lembaga media itu sendiri. Informasi tidak lagi bergerak dari media-media besar, namun juga dari para user internet itu sendiri. Itulah akar dari citizen journalism (CJ) yang kini sedang marak berkembang.

Pada dasarnya, CJ tak ada bedanya dengan jurnalisme umum yaitu kegiatan untuk mencari, mengolah, dan menyebarluaskan berita. Akan tetapi, yang membedakannya dengan jurnalisme pada umumnya adalah pengelola berita itu sendiri. Jika pengelola berita dalam konsep jurnalisme umum adalah lembaga media. Maka dalam konsep CJ, user/khalayak lah yang jadi pusatnya. Implikasinya, muncullah berbagai web berbasis user seperti blog, forum online (kaskus), hingga facebook dan twitter.

Kini, siapapun dapat memberitakan dirinya sendiri tanpa harus terkungkung oleh frame pemberitaan yang dimiliki oleh media major. IMM sendiri dapat mengaplikasikannya dalam bentuk website yang telah lama dimiliki. Koreksi untuk website yang sangat diperlukan adalah profesionalisme dari penanggungjawabnya. Kerja jurnalisme bukanlah kerja yang mudah (tapi juga bukan sangat susah). Sehingga fokus harus dikedepankan. Beberapa kerja wajib dari penanggungjawab website adalah: publikasi kegiatan (pra maupun pasca), posting artikel secara berkala hingga membuat ruang diskusi. (Ingat! Salah satu nilai lebih dari sebuah web adalah update berkala, tanpa adanya update pengunjung pun akan hilang)

Sedang, untuk media cetak (printed publications), beberapa jenis media yang dapat dicakup oleh CJ adalah buletin, selebaran, poster, dan spanduk/reklame. Pada jenis media ini, baik teks isi maupun desain tampilan punya arti yang sama penting (jangan lupa! visual thinking era). Selain itu, penempatan publikasi pun juga harus tepat, tak asal tempel.

Epilog

Di tengah globalisasi yang deras, umat Islam terus dituntut untuk berkembang mengikuti zaman. Berdiam diri sama artinya dengan minta ditindas oleh lawan, bahkan kawan (memangnya ada kawan sejati?). Tantangan dakwah pun sejalan dengan tren globalisasi yang terus memaksa para aktornya bertindak kreatif. Maka dari itu, dunia maya selaku “dunia baru” dalam masyarakat menempati posisi yang strategis untuk digarap.

Pada akhirnya, dakwah membutuhkan media, baik cetak, penyiaran maupun internet. Karena sejarah telah membuktikan bagaimana dakwah dengan media (tertulis) jauh lebih massif dan cepat. Jangan lupakan juga, penciptaan mesin cetak pertama oleh Johannes Guttenberg pun didasari oleh alasan dakwah (misionaris).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s