(Jangan) Menangisi Juventus

Dengan hasil imbang melawan Catania tadi malam (2/4/2010), praktis peluang Juventus untuk masuk ke Liga Champion tertutup sudah. Prestasi musim ini bisa jadi merupakan yang terburuk dalam 10 tahun terakhir. Prestasi yang cukup menyedihkan, mengingat IFFHS memberi Juventus rangking ke-2 sebagai klub terbaik di Eropa selama 20 tahun terakhir, di bawah Real Madrid.

Lalu, sebenarnya apa yang salah dengan Juventus musim ini? Jelas permasalahannya bukan pada dana transfer, Juventus dimiliki oleh keluarga Agnelli (pemilik grup FIAT) amat kaya raya. Total transfer musim lalu saja lebih dari 40 juta Euro hanya untuk mendatangkan Felipe Melo, Diego Ribas dan Fabio Grosso. Tapi, tetap saja Juventus tetap terpuruk. Ini belum transfer-transfer besar lainnya di musim sebelumnya, seperti Amauri, Tiago, Almiron, dan Iaquinta. Menyedihkan sekali, ternyata transfer-transfer sebesar itu belum mengubah keadaan apapun.

Dalam pandangan saya, setidaknya ada dua faktor utama penyebab melempemnya Juventus. Pertama, guru transfer yang salah. Di Italia, seorang pelatih (allenatore) bukanlah pemegang kebijakan transfer. Pemegangnya adalah Direktur Teknik. Posisi inilah yang dulunya dipegang oleh Moggi. Setelah dipegang Jean Claude Blanc selama 4 tahun terakhir, tak ada satu pun mega transfer yang berjalan sukses. Diego, Amauri, Melo, Tiago, atau bahkan Sissoko belum mampu berbuat sebanyak harga transfernya. Untuk ukuran Direktur Teknik klub sekelas Juventus, Blanc jelas-jelas tak berguna!

Oleh karena itu, rencana untuk mencuri Direktur Teknik Sampdoria, Giuseppe Marotta adalah suatu rencana yang baik. Setidaknya, ada nama Cassano dan Pazzini yang berhasil diendusnya. Atau justru, Pantaleo Corvino, Direktur Teknik Fiorentina. Track recordnya jelas jauh lebih excellence, sebut saja Adrian Mutu, Steven Jovetic, Juan Manuel Vargas atau Alberto Gilardino yang mengkilap permainannya di Fiorentina.

Kedua, pelatih yang tidak berkualitas. Sebenarnya Didier Deschamp dulu adalah pelatih yang sangat potensial untuk mengangkat Juventus (lihat: kini Deschamps selangkah lagi berhasil membawa Marseille juara Ligue-1). Dengan materi yang seadanya, dia mampu membawa Juventus menjadi Juara Serie-B. Ingat! Juve mengawali musim dengan pengurangan 17 poin. Sayang, ketidaksepakatan dengan pihak manajemen membuat Deschamps memilih mundur.

Selepas Deschamps, ada Ranieri yang terkenal tak pernah punya mental juara atau Ferrara yang terlalu hijau untuk menopang klub sebesar Juventus. Di bawah Zaccheroni pun sama saja, taktik 3-4-3-nya yang kolot tak pernah bisa menyatu dengan permainan Juventus.

Seharusnya, klub sekelas Juventus haruslah dilatih oleh pelatih bernama besar pula. Apalagi di masa-masa krisis seperti ini. Di tahun 95, Lippi memang direkrut saat belum punya nama besar. Tapi, jangan salah ketika itu Juventus praktis sedang stabil performanya. Nama besar pelatih memang bukan segala-galanya, tapi di tangan seorang pelatih yang telah berpengalaman seluruh skuad pun akan bermain lebih termotivasi, apalagi saat pelatih punya strategi yang amat bervariasi. Lihat saja Manchester City, meski dana transfernya unlimited, tanpa pelatih TOP mereka bukan siapa-siapa.

Lalu siapa pelatih yang paling pantas?

Isu terakhir memang menyebutkan kemungkinan hijrahnya Rafael Benitez. Prestasinya cukup konsisten sejak di Valencia sampai di Liverpool. Masalahnya selama ini cuma satu: terbatasnya dana transfer. Keterbatasan itulah yang menyebabkan, performa tim tidak pernah maksimal selama satu musim. Di Juventus, masalah ini tidak akan terjadi, apalagi bila ia diberi keleluasaan untuk memilih sendiri pemain-pemainya. Bisa jadi Steven Gerrard pun diboyongnya (catatan: pada tahun 2006 Gerrard sempat hampir hijrah ke Juventus).

Hal yang mengganjal menurut saya adalah dari segi taktik. Sejak bertugas di Valencia, ia konservatif dengan pola 4-2-3-1. Jika benar pola ini diterapkan di Juventus, maka posisi yang jelas membutuhkan darah baru adalah di kedua sayap. Di sayap kanan, Camoranesi sudah tidak bisa diandalkan lagi. Sedang, di sayap kiri Giovinco meski bisa diandalkan, tentu akan lebih baik lagi untuk mencari sayap murni. Selain itu, pasangan bek tengah untuk Chiellini pun juga perlu dipikirkan, mengingat performa Cannavaro musim ini sangat mengecewakan.

Well, ini hanya sekedar pemikiran saya sebagai seorang Juventini. Darah saya yang sudah hitam-putih sejak 15 tahun lalu tentu bergejolak melihat kondisi Juventus saat ini. Sudah saatnya berbenah! Dan musim depan adalah waktunya untuk mengembalikan harga diri. Betul?

Forza Juventus!

2 thoughts on “(Jangan) Menangisi Juventus

  1. weh… juventini to kang…
    salam dari milanisti yang senasib dengan sampeyan olehe jungkirwalik ning klasemen…

    kalau milan pemainnya yang tua2.. kalau juve manajemennya yang amburadul..

  2. salah satu faktornya tetap pembinaan pemain muda menjadi kunci,hehe, ini yang jarang diperhatikan sama klub2 elite eropa, ya cth gak jauh2 dari la masia nya barca, dari kecil mereka sudah mendarah daging filosofi sepak bola menyerang a la barca, jadi waktu memasuki tim senior tidak terlalu sulit utk adaptasi dengan kebijakan tim dan gaya kepelatihan yang tetap ada benang merahnya, pola formasi 4-3-3 udah hafal di luar kepala, gak heran kalo pedro rodriguez mampu menggeser King Henry yang jauh lebih senior dalam waktu yang cukup singkat😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s