Menyelamatkan Diri di Depan Media

KH. Mustofa Bisyri yang biasa disapa Gus Mus bercerita dalam bukunya Membuka Pintu Langit. Bahwa di zaman jahiliyah dulu, saat sastra lisan mendominasi kehidupan di Arab. Para penyair menempati strata sosial yang sangat tinggi. Tak hanya karena penghargaan atas karya seni mereka. Namun lebih dari, itu seorang penyair bisa menentukan baik dan buruknya nama seseorang. Imri bil Qais, salah seorang penyair yang terkenal, benar-benar disegani oleh masyarakat Arab ketika itu. Siapa saja yang tidak disenangi olehnya, bisa ditelanjangi di depan umum dengan syairnya. Sebaliknya, siapa saja yang disenangi olehnya bisa dipuja-puji. Akibat dari hujatan atau pujian tersebut, masyarakat satu negeri bisa ikut-ikutan menghujat atau memuji.

Di era modern, bisa jadi model seperti ini diperankan dengan baik oleh media. Seorang tokoh, bisa jadi public enemy seisi negeri atau bahkan menjadi pahlawan bila diberitakan oleh media. Tentu masih terekam dengan jelas bagaimana kisah Susno Duadji (SD) beberapa bulan terakhir ini. SD sukses membalikkan kisahnya dari Public Enemy menjadi Real Hero lewat kontroversinya di hadapan media. Saya pikir, dulu tak ada satu pun penduduk negeri ini yang tidak membenci dirinya saat muncul istilah Cicak vs Buaya. Namun sekarang bagai seorang pahlawan tanpa cela, dirinya dielu-elukan setelah menyanyikan lagu “makelar kasus” di tubuh Polri. Luar biasa cepatnya…

Bagi saya, tips dan trik menjadi pahlawan ini, SD pelajari secara seksama saat berhadapan vis-a-vis publik dalam kasus Bibit-Chandra. Ketika itu, Bibit-Chandra secara cerdik menggunakan media untuk membela diri dari tuduhan korupsi. Bibit-Chandra sukses memberitakan diri lewat media bahwa mereka adalah pihak yang terdzolimi. Sehingga, lahirlah simpati massif dari kalangan masyarakat. Masyarakat pun melihat bahwa Polri dan Kejaksaan Agung adalah Rahwana yang jahat sedangkan Bibit-Chandra adalah Arjuna yang tersudut dan butuh bantuan segera.

Lalu kenapa media bisa begitu berperan?

Pandangan akan media (khususnya televisi, mengingat coveragenya di Indonesia yang mencapai 89,5% pada 2007) ini bisa ditafsirkan lewat teori kultivasi (Gorge Gebner, 1960). Gebner menyatakan bahwa “Television tends to cultivate middle-of-the-road political perspectives, called ‘mainstreaming’.” Mereka yang mengkonsumsi media secara berlebihan (heavy viewer), akan melihat dunianya seperti apa yang telah digambarkan oleh media. Siapa yang disebut malaikat di media, akan jadi malaikat di dunia nyata. Sebaliknya, siapa yang disebut iblis di media, akan jadi iblis pula di dunia nyata. Dan, nyatanya memang SD dan Bibit-Chandra berhasil lolos dari jeratan hukum dengan bantuan media.

Selain itu, kekuatan media baru (new media) seperti Facebook juga amat membantu. Roem Topatimasang (Oposisi Maya, 2010) menyatakan bahwa grup di Facebook yang ada selama ini baru lah sebatas ruang penggalangan opini dan solidaritas semata, bukan gerakan itu sendiri. Akan tetapi, kalau dibaca lebih dalam, bisa jadi fenomena hadirnya berbagai grup perlawanan di Facebook adalah ekspresi ketidakpuasan masyarakat atas macetnya aspirasi di tingkat legislatif maupun eksekutif. Sehingga, model-model grup perlawanan yang cepat dan praktis, lalu digemari kalangan Facebookers yang ingin menyampaikan kepeduliannya. Buktinya kini, lihat saja kasus di media apa yang tidak memiliki grup komentator di Facebook? Semuanya ada, tinggal dicari saja.

Apa yang kira-kira harus saya simpulkan di sini? Saya pun juga tidak bisa mengatakan apa yang telah dilakukan oleh Bibit-Chandra maupun SD adalah sebuah kesalahan. Karena terbukti pula dalam perjalanan waktu, keputusan hukum pun juga memihak pada mereka. Bibit Chandra terbukti tidak menerima suap dari Anggodo, sedang teriakan SD mengenai makelar kasus satu per satu mulai melahap para tersangkanya.

Mungkin, kesimpulan yang harus saya sampaikan bahwa tempatkanlah media secara proporsional. Media bukanlah Tuhan yang selalu benar dan luput dari kesalahan. Media adalah sebuah entitas yang terkait dengan struktur ekonomi-politik yang melingkupinya. Juga terkait dengan ideologi redaksional yang menggawanginya. Maka dari itu, jangan mau pasif di depan media. Jadilah penikmat media yang kritis, kawan!

Gambar diambil dari sini

9 thoughts on “Menyelamatkan Diri di Depan Media

  1. benar mas. saya juga punya ide tentang ini. dan alhamdulillah dapat bahan yang maknyus dari tulisan panjenengan🙂

  2. Kalau blog dimasukkan dalam media. Bisa jadi blog menjadi salah satu jurnalistik independen berakar dari citizen journalizm….

  3. diet tipi dan media konvensional

  4. kayaknya pernah ditulis di buletin ya? ternyata mas penulisnya toh. wah , asyik nih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s