Bagaikan Mesin Waktu

Resensi Buku Negeri 5 Menara

Siapa yang tidak kenal Doraemon? Serial anak-anak karangan Fujiko F. Fujio ini bisa jadi merupakan serial terlama yang pernah hadir di Indonesia. Terhitung lebih dari 20 tahun sejak kemunculan pertamanya sekitar tahun 1990. Serial ini juga mementahkan hipotesis, bahwa tidak ada satu pun program (atau genre acara) televisi yang bisa bertahan lebih dari 5 tahun.

Menurut hemat saya, poin penting dari Doraemon adalah kekuatan ceritanya yang lintas generasi. Dari dulu sampai sekarang, ceritanya selalu dapat diterima oleh generasi anak-anak saat  itu.  Kini, generasi awal penikmat Doraemon tentu telah menjadi orang tua yang sangat mungkin kemudian menularkan kegemaran itu pada putra-putrinya.

Lalu apa hubungan Doraemon dengan novel Negeri 5 Menara (N5M)? Tentu pertanyaan itu ada di benak kawan-kawan, mengingat di sub-judul di atas jelas-jelas tercantum kalimat “Resensi Buku Negeri 5 Menara”.

Nah, hal yang menghubungkan Doraemon dan  N5M adalah mesin waktu. Mesin waktu bukan lainnya. Tentu anda masih ingat bahwa mesin waktu adalah salah satu alat Doraemon yang acapkali digunakan, tidak seperti alat-alat lain yang sekali pakai. Dengan alat ini Doraemon dapat membantu Nobita menyelesaikan berbagai masalah, dengan cara melihatnya di masa lalu, atau justru menengoknya di masa depan.

Dalam konteks mesin waktu. Tak dinafikan lagi, saya melihat novel ini adalah jelmaan mesin waktu. Narasi yang dihadirkan oleh Ahmad Fuadi menghantarkan saya kembali ke memori beberapa tahun lalu. Meski saya tidak pernah mondok di Pondok Madani (baca: Pondok Gontor), namun pondok saya (Assalaam, Sukoharjo) memiliki karakteristik yang nyaris persis dengan Madani yang dimaksudkan oleh Ahmad Fuadi.

Apa contohnya?

Secara garis besar, lebih dari 4/5 bagian di Negeri 5 Menara bercerita tentang kehidupan di pondok. Narasi kehidupan itulah yang saya rasakan tidak jauh berbeda dengan pengalaman masa lalu saya. Cerita tentang sarung misalnya (bab Sarung dan Kurban), memperlihatkan bagaimana adat belajar menggunakan sarung, adalah kewajiban bagi setiap santri baru. Sarung amat penting, karena setiap sore hingga malam dan shubuh, sarung memang wajib digunakan. Sehingga cara memakai sarung dengan sebaik mungkin jadi barang berharga bagi tiap santri.

Di lain kisah, Ahmad Fuadi menceritakan betapa pentingnya hari Jumat bagi seorang santri (bab Thanks God It’s Friday). Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum muslim. Namun, bagi seorang santri, keistimewaan hari Jumat meluap-luap. Karena di hari itulah, kepenatan atas rutinitas pondok yang begitu padat selama seminggu dituntaskan dengan beristirahat sepuasnya. Lebih mengasyikkan lagi tentunya, bila hari jumat tersebut adalah jadwal keluar kompleks pondok. Kenikmatan surgawi dengan berekreasi keluar dari penjara pondok seperti inilah yang sangat dinanti-nantikan oleh para santri.

Dari gaya berceritanya yang inspiratif. Tentu kita tidak bisa melupakan Laskar Pelangi. Novel fenomenal itu bisa jadi merupakan inspirasi bagi para novelis lainnya untuk menuliskan novel –semi kisah nyata- yang serupa. Meskipun tentunya seringkali kadar inspirasi dari novel-novel yang “mengekor” tentu tidak akan pernah melampaui apa yang telah dicapai Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya. Dan, pada kasus N5M ini, saya juga merasakan ketidakmampuan Ahmad Fuadi untuk melewati capaian Andrea Hirata.

Selain itu, dari penuturan beberapa pembaca. Terungkap bahwa ada beberapa kesulitan untuk memahami novel ini . Kesulitan tersebut, lazim terjadi bagi mereka yang belum pernah merasakan hidup di pondok. Contohnya saja, ada banyak istilah dan konteks cerita (bulis, pesta makanan, muhadhoroh, dsb) yang memang hanya bisa dipahami dengan benar oleh mereka yang pernah nyantri. Bisa jadi pondok-sentris inilah yang membuat popularitas N5M hanya nendang sebatas kalangan santri atau pun eks santri.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh novel ini. Saya tetap ingin memberi acungan dua jempol untuk Ahmad Fuadi. Novelnya inspiratif, ditambah lagi unsur cerita sentral yang berlatar belakang pondok membuat saya tak ingin berhenti sebelum selesai membacanya.

Salut! Dan yang paling penting, ditunggu seri berikutnya…

3 thoughts on “Bagaikan Mesin Waktu

  1. Jadi kesimpulan sederhana saya: Buku itu laci meja-nya si Nobita….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s