Cicak Tidak Pernah Sendirian

Cicak vs Buaya Cover Tempo“Dan janganlah (sebagian) kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan)  harta itu kepada hakim (penguasa), supaya kamu dapat memakan  sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa padahal kamu mengetahui” (Q.S Al Baqarah : 188)

Entah sudah berapa minggu kasus KPK vs POLRI ini menjadi headline media massa negeri kita. Sederhananya, tentulah masalah ini diposisikan begitu penting oleh pihak media massa sehingga mendapatkan porsi yang sangat dominan dalam berbagai pemberitaan.

Saya melabeli kasus ini sebagai pertarungan antara KPK vs POLRI. Bukan tanpa alasan, mengingat dari kacamata orang awam akan terlihat secara jelas konfrontasi kontinu antara KPK dan POLRI. Di satu sisi, KPK terbukti berusaha keras memberantas korupsi tanpa pandang bulu, siapa pun pejabatnya dilibas bila memang terindikasi. Entah itu anggota DPR, Gubernur, bahkan Jaksa Agung sekalipun. Ini jelas kemajuan yang baik, karena di era terdahulu tindakan tersebut begitu langka ditemui. Mau tak mau, ini memberikan efek jera dan efektif untuk menangkal munculnya korupsi-korupsi baru.

Sedangkan di sisi lain, POLRI secara mengherankan justru menangkapi satu per-satu petinggi KPK. Mulai dari Antasari Azhar, yang diindikasikan terlibat pembunuhan. Dan kini Chandra Hamzah dan Bibit Samad yang diduga menerima dana suap dari Anggoro Widjojo.

Cicak berani Buaya

Lalu apakah salah dengan penangkapan para pemimpin KPK tersebut?

Tentu tidak salah bila mereka memang terbukti salah, dan ada bukti kuat. Yang disayangkan bila kemudian tindakan ini berlarut-larut dan menimbulkan paling tidak dua ekses berbahaya, yaitu; Pertama, indikasi pelemahan fungsi KPK. KPK justru disibukkan dengan permasalahan internalnya. Padahal di luar sana masih banyak kasus korupsi yang harus diselesaikan. Mengharap POLRI dan Kejaksaan Agung untuk bertindak taktis memberantas korupsi, sama saja mengharap keputus asaan.

Kedua, isu cicak vs buaya (yang dipopulerkan oleh Kabareskrim non-aktif Susno Duadji) ini bisa jadi pengalihan isu. POLRI yang kalap, atau mungkin berusaha menyelamatkan tokoh-tokoh tertentu, meledakkan isu ini. Kasus Bank Century misalnya, ini masalah yang amat besar karena melibatkan nama besar Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani. Andai ini benar-benar jadi agenda publik dan kemudian diusut. Akan jadi tragedi nasional nantinya bila memang terbukti. Ini belum termasuk, kasus hilangnya ayat tentang tembakau di UU Kesehatan yang kontroversial itu.

Seperti kata Rasul, “Manusia adalah tempat salah dan khilaf”. Salah dan khilaf adalah sifat alami dari manusia. Namun, bukan berarti dianggap kewajaran dan dibiarkan. Justru, harus dilawan dan dibentuk sistem ketat untuk menekan kecenderungan tersebut. Dan, itulah penegakan hukum!

Kata seorang rekan, “Bukan karena cicak atau buaya. Tapi karena kita mempertahankan Negara yang sama.” Saya setuju, bahwa perjuangan ini bukanlah perjuangan menyelamatkan KPK. KPK bukan malaikat yang ma’sum (dijaga dari kesalahan). Namun, lebih dari itu, agenda pemberantasan korupsi adalah salah satu amanat reformasi. Dan, (sementara ini) KPK adalah simbolisasi perjuangan tersebut. Maka, ketika KPK lumpuh, lumpuh pula pemberantasan korupsi.

Lalu, dimana posisi POLRI dan Kejaksaan Agung kini? Sepertinya mereka perlu banyak membuktikan kinerja, bukan sekedar menangis sesenggukan di depan media massa dan anggota DPR… Setuju?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s