Bersabar Terhadap Bank Syari’ah

Bank SyariahTulisan ini berangkat dari refleksi saya selama menjadi nasabah bank syari’ah. Setelah merunut ke belakang, selama 6 tahun belakangan ini ada suka-duka selama menggunakan jasa perbankan syari’ah. Sehingga nantinya, poin-poin yang saya angkat pun akan berkisar pada pengalaman pribadi, bukan deskripsi ilmiah berbasis teori ekonomi Islam.

Sejak bermigrasi ke bank syari’ah pada saat kelas 1 SMA. Saya memang mendapatkan suka-duka tersendiri. Misalnya, bahwa saya adalah salah satu assabiqunal awwalun nasabah bank syari’ah di kota Magelang. Karena sesaat setelah bank syari’ah tersebut membuka cabang, tidak lama kemudian saya pun membuka rekening. Tidak berhenti sampai di situ. Saya juga bergerak di SMA layaknya seorang marketing, dengan mempromosikan keunggulan bank tersebut. Alhamdulillah, usaha ini tidak sia-sia karena beberapa kawan saya tertarik. Bahkan, pihak bank pun mengapresiasi usaha saya ini dengan memberi ganjaran bonus.

Tidak hanya pengalaman yang menggembirakan, karena ada juga pengalaman mengecewakan yang memang perlu saya utarakan di sini. Pertama, berkaitan dengan biaya administrasi (baca: potongan) rekening. Jujur saja, salah satu preferensi memilih bank syari’ah dahulu dikarenakan nihilnya  potongan bulanan. Jelas kini alasan tersebut kadaluarsa, tidak berlaku lagi.

Bayangkan saja, dalam kurun waktu 2 tahun belakangan ini, potongan rekening naik secara drastis dan mendadak. Setahun lalu, tiba-tiba muncul potongan 3.500 per bulannya. Tahun ini, secara mendadak, potongan melambung lebih dari 2 kali lipat menjadi 7.500 rupiah per bulannya. Mungkin bagi sebagian orang, jumlah tersebut tidak berarti. Akan tetapi, bagi kantong seorang mahasiswa kere seperti saya, jumlah tersebut sangatlah banyak. Apalagi bila terakumulasi terus tiap bulan, saya yakin lambat laun rekening saya akan mengering tidak bersisa.

Sempat terbersit keinginan untuk pindah ke sebuah bank konvensional yang menawarkan program rekening mahasiswa tanpa potongan. Namun, hati nurani saya mengatakan bahwa untuk tidak kembali ke lingkaran syubhat bunga bank. Karena sebagai seorang muslim yang belajar keta’atan, bank syari’ah dalam pandangan saya memang bukanlah alternatif, melainkan pilihan satu-satunya. Lagipula, tidak mungkin pula saya kembali menggunakan celengan. Maka, saya putuskan untuk bertahan, meski kecewa berat.

Pengalaman mengecewakan kedua, hadir saat saya membantu kedua orang tua menyelesaikan Ongkos Naik Haji (ONH). Sebenarnya, ada sebuah bank konvensional yang memang berpengalaman khusus menangani ONH. Namun, ayah bersikeras ingin beribadah haji dengan lebih tenang. Salah satu caranya dengan membayar via bank syari’ah, meskipun nanti harus bersusah payah.

Dugaan ayah ternyata tidak meleset. Pilihan membayar ONH via bank syari’ah tersebut memang membuat rumit berbagai hal, terutama saat harus dipingpong antara bank dengan Depag. Di lain sisi, seorang paman yang membayar via bank konvensional justru dengan mudah dan lancar menyelesaikan urusannya. Saya cukup kecewa dengan perbandingan ini. Namun, segala sesuatu memang ada hikmahnya.

Dari cerita di atas, saya lalu bertanya-tanya mengapa bank syari’ah masih begitu mengecewakan? Hemat saya, tidak mungkin selamanya faktor keimanan mampu menahan para nasabah bank syari’ah. Bank syari’ah tidak boleh semata-mata berlindung pada isu riba (bunga bank) untuk menarik nasabahnya, melainkan lebih dari itu, Ia harus fokus pada perbaikan dan peningkatan kualitas layanan. Sehingga, tidak boleh sejengkal pun bank syari’ah tertinggal dari bank konvensional.

Wal akhir, mungkin saya memang awam dengan dunia ekonomi, sehingga tidak mungkin memahami mekanisme ekonomi apa yang terjadi di belakang layar. Akan tetapi, layaknya nasabah lain, tidak mungkin saya berpeluh-peluh ikut berdebat membahas mekanisme internal apa yang terbaik. Karena yang nasabah butuhkan memang hanya kualitas pelayanan istimewa. Wallahua’lam Bishawwab.

gambar dipinjam dari sini


4 thoughts on “Bersabar Terhadap Bank Syari’ah

  1. ANDA BENAR.,.,(katanya bagi hasil kok di potong lagi ).,.,.,.saya juga nasabah bank syariah yang kecewa BERAT.,.,sangat BERAT.,.potongan udah besar sama ajah kyk bank2 lain terus pelayanannya betul2 mengecewakan.,,.,.. bank syariah kok gak ada suara konsumennya ya (suara nasabah).,.,kalo ada tolong donk bagi2 info
    ( web, email atau blog )nya.,.,.thanks

  2. hmm, sepakat….dg ZLF…

  3. Wah pengalaman yg benar2 mengecewakan…..
    saya jg nasabah kredit bank m*ga syariah yg ternyata doyan bunga yg mencekik, tdk tanggung2 utk melunasi kredit sy hrs bayar hampir 2 kali lipat dr yg sy pinjam. Masya Allah……
    Saya harap mbak dan teman2nya hati2 dgn bank yg berlabel Syariah yg gk jauh beda dgn Rentenir….

  4. Assalamualaykum… Saya juga pengguna bank syariah, tapi kayaknya tergantung menggunakan bank yang mana, saya dari tahun 2009, alhamdulillah ga ada masalah yang berarti. mungkin karena jarang transaksi juga kali y.. he..
    Paling juga kode bank yg saya pakai belum masuk list kode bank di ATM.
    tapi saya sih berprasangka baik aja, semua akan lebih baik. Sampai sekarang saya lebih nyaman menggunakan Bank syariah. apalagi setelah ada internet banking dan mobile bankingnya.
    just sharing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s