Miyabi dan Konstruksi Image

Statistik MiyabiPerdebatan akan datang tidaknya Maria Ozawa (aka. Maria Ozawa) berakhir sudah hari ini. Hal ini dipamungkasi dengan pernyataan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ad interim Muh. Nuh yang melarang kedatangan Miyabi ke Indonesia.

Bagi kalangan religius, berita ini bisa saja menjadi oase segar di tengah himpitan bencana yang tak henti mendera. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin kata pepatah itu yang bisa menggambarkan kondisi negeri ini. Belum selesai penanganan bencana di daerah Jawa Barat bagian selatan, kini Sumatera Barat yang mendapat giliran lampu merah. Di tengah semua itu, bisa-bisanya ada oknum yang tega membuat kontroversi untuk mendatangkan Miyabi.

Rasanya tak perlu saya jelaskan panjang lebar siapa Miyabi. Informasi tentangnya bisa dengan mudah dicari dengan Google. Bagi saya, yang lebih penting adalah bagaimana seharusnya kita menanggapi rencana (awal) kedatangannya. Apakah patut ditolak atau justru harus disambut dengan ramah layaknya selebritis kelas dunia lainnya?

Yang perlu saya garisbawahi pertama kali di sini adalah image. Aristoteles pernah mengungkapkan bawah, “We are what we repeatedly”, kita adalah wujud dari apa yang selalu kita kerjakan. Metafornya, ketika saya sering bercanda, maka orang lain pun akan melihat saya sebagai sosok yang humoris. Ketika anda suka berbohong, maka wajar bila orang melihat anda sebagai orang yang tak dapat dipercaya. Nah, begitu pula, dengan Miyabi. Bila Miyabi menjadi bintang di puluhan film porno. Tentunya wajar bila kita pun melihatnya sebagai seorang bintang porno.

Lagipula, kalau ditelisik lebih jauh, sebenarnya apa sih yang membuat Maxima Pictures (Production House film Menculik Miyabi) memilih Miyabi untuk menjadi bintang filmnya?

Apa karena kecantikannya? Saya yakin tidak…

Di Indonesia masih banyak aktris yang tak kalah cantik, ada Luna Maya, Revalina S. Temat, atau bahkan Tika Putri (mungkin ada rekomendasi lain??).

Apa karena aktingnya yang bagus?

Bagus darimana?? Saya yakin produser tidak bodoh untuk menilai film porno mampu memperlihatkan kemampuan akting para pemerannya. Karena dalam film porno, kemampuan akting tak ada harganya bila dibandingkan parameter seksual dari fisik sang artis.

Lantas dasar apa Maxima ingin menghadirkan Miyabi?

Bagi saya, apa lagi kalau bukan imagenya sebagai superstar film porno. Nama besarnya adalah magnet bagi para penggemarnya di Indonesia (catatan: penggemar Miyabi paling besar ada di Indonesia, silakan cek di google trends). Seorang Miyabi sudah terlalu identik dengan puluhan mahakarya porno yang dia bintangi. Miyabi adalah sinonim dari seorang bintang film porno. Hilanglah identitas pribadinya. Sehingga, meskipun ia datang untuk bermain film humor misalnya, saya tak yakin image-nya sebagai bintang porno akan dilupakan orang.

Kasus ini mirip dengan kasus Playboy beberapa tahun lalu. Pada awalnya, mereka memaksa untuk masuk ke Indonesia sembari meyakinkan khalayak bahwa Playboy versi Indonesia hanyalah majalah lifestyle semata. Tetap saja muncul banyak penolakan. Karena apa? Karena yang sebenarnya kita tolak bukan hanya content Playboy-nya (dalam hal ini produk pornografinya). Akan tetapi, juga image­nya identik dengan pornografi. Pada titik ini, image dan substansi berkelindan erat, tak mungkin dapat dipisahkan.

Bagi saya, kita harus menilai sesuatu secara utuh, tidak terpisah-pisah. Saya dan andam tentu tak hanya menilai seseorang sebatas tampilan fisik, namun juga apa yang telah dia lakukan selama ini, karena itulah konstruksi imagenya di mata orang lain.

2 thoughts on “Miyabi dan Konstruksi Image

  1. Saya setuju dengan anda, memang ada yg bilang apalah artinya sebuah pencitraan, karena toh film yg akan dibuat bukan beresensi pornografi. Tp itulah, saya setuju untuk menilai sesuatu jgn setengah2.

  2. Wah postingnya sangat menarik. Kabarnya Miyabi ada di Surabaya berseragam Polisi. Wajahnya tampak tegang. Lihat foto beritanya di detik surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s