Titik Balik

Titik Balik

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (Q.S. Al Kahfi : 17)

Beberapa hari lalu saya bersama rekan-rekan dari IMM UGM bersilaturahmi ke rumah seorang dosen Ilmu Ekonomi UGM. Meski masih mudah, dosen ini kami prioritaskan untuk dikunjungi mengingat potensi besar beliau untuk memotivasi kami. Kedekatan umur juga menjadi salah satu alasan penting untuk mengunjungi beliau. Karena dalam hemat saya, seringkali pertemuan dengan tokoh yang telah sepuh justru membuat suasana menjadi tidak cair.

Tak dinyana, pembicaraan bersama dosen ini pun mengalir dengan mengasyikkan. Bahkan beliau pun tak segan bercerita masa lalunya semasa masih duduk di bangku kuliah. Salah satu kisah yang cukup menarik bagi saya adalah kisah titik balik. Dalam kisah tersebut, beliau bercerita bahwa hidupnya tidak datar-datar saja. Pada suatu masa beliau pernah amat bersemangat dalam memimpin dan menguasai organisasi. Namun, pada titik lain semangat itu musnah tak berbekas, hingga beliau pun memutuskan untuk “melarikan diri” dari rutinitas organisasi.

Lalu adakah yang salah dengan titik balik ini?

Bagi saya ini bukanlah sebuah kesalahan. Ini adalah bagian dari pencarian beliau akan kehidupan. Buktinya, beliau mengakui bahwa setelah kejadian tersebut beliau merasa lebih dewasa dalam melihat berbagai permasalahan.

(*catatan: saat ini beliau akan segera berangkat S3 ke Australia lewat jalur beasiswa)

***********

Tentu ada alasan mendasar yang membuat saya tertarik dengan cerita tersebut. Kedekatan pengalaman mungkin jawabannya. Dalam bahasa komunikasi, kedekatan pengalaman (proximity) memang jadi salah satu daya tarik informasi. Saya merasa pernah mengalami titik balik. Dalam konteks organisasi, saya merasa pernah begitu aktif di SMA, hingga pada suatu titik saya begitu jumawa dengan pencapaian saya.

Akan tetapi, pencapaian tersebut rasanya tak bernilai sama sekali saat melihat masa awal kuliah saya. Selama dua semester awal, saya begitu apatis terhadap organisasi. Bahkan sempat pula terpikirkan untuk meninggalkan dunia organisasi sama sekali, dan menikmati kehidupan akademik di kampus. Akibatnya, praktis selama awal kuliah, saya tak pernah serius dalam berorganisasi. Memang ada beberapa organisasi yang saya ikuti, namun sejatinya tak lebih dari sekedar  pelarian saya.

Hingga, titik balik akhirnya membawa saya kembali. Titik balik ini membawa saya kembali ke jalur yang saya pegang erat selama ini, yaitu tawassuth (kesetimbangan) antara akademik dan organisasi. Alhamdulillah, meskipun tidak ada prestasi menonjol yang saya miliki. Saya kini cukup mensyukuri kehidupan kampus maupun organisasi.

***********

Dalam kehidupan manusia, titik balik memang bisa dengan mudah terjadi, atau sebaliknya begitu mustahil terjadi. Dalam keyakinan Islam, semua itu bermuara pada kehendak Allah. Allah memang maha memberi hidayah sekaligus pula maha membolak-balikkan hati manusia. “Ya Muqollibal Qulub Tsabbit ala Diinik wa Thoo’atik…”

Tak hanya kita yang (mungkin) pernah merasakan titik balik. Seorang Umar bin Khattab pun pernah merasakannya. Seorang “preman” Quraisy yang begitu bengis dan membenci Islam. Diberi hidayah oleh Allah, hingga mampu menjadi salah satu garda terdepan pembela Islam. Bahkan, di akhir hidupnya pun beliau syahid di tangan musuh Islam.

Buya Syafi’i Ma’arif (mantan Ketua PP Muhammadiyah) pun pernah merasakan titik balik. Beliau pernah bercerita bahwa di tahun 70-an, beliau begitu memperjuangkan Syari’ah Islam. Namun, kini semua itu nyaris tak berbekas. Tergantikan oleh keyakinan beliau akan Bingkai Pancasila dan Demokrasi yang sudah dirasa cukup untuk mewakili Islam di negeri ini. Pilihan kontroversial yang oleh beberapa pihak dianggap sesat, bahkan tak jarang beliau pun diminta untuk bersyahadat kembali. Luar biasa bukan titik balik beliau?

Tentu masih banyak lagi kisah titik balik yang jauh lebih inspiratif, atau lebih kontroversial. Satu hal yang pasti, marilah berdoa kepada Allah, agar apa pun titik baliknya, ujungnya adalah istiqomah di jalanNya. Atau dalam bahasa berbeda, “Biarlah tersesat di jalan yang benar, ketimbang harus benar di jalan yang sesat”. Betul bukan?

gambar dipinjam dari sini

2 thoughts on “Titik Balik

  1. ulasan yang bagus sekali. salam kenal aja deh!

  2. kisah saya sama kayak tu dosen. awal2 saya cukup apatis dgn orgnss agama. komentar saya di artikel mas yang lain menunjukkan insya allah saya sdg dalam “titik balik”. sapa tahu saya ketemu mas di IMM🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s