Evolusi Ucapan Lebaran

Kartu-Lebaran-1430H”Siapa yang ingin rezekinya diperluas dan umurnya panjang maka hendaknya ia

bersilaturrahmi.” (HR. Bukhari)

Bersilaturahmi adalah salah satu sunnah saat Idul Fitri yang tidak dapat dilepaskan. Bahkan pada beberapa kultur masyarakat, rasanya bukan idul fitri namanya bila tidak dibarengi dengan silaturahmi ke keluarga dan tetangga.

Selain silaturahmi, salah satu hal yang cukup penting adalah budaya memberi ucapan selamat idul fitri, yang dibarengi dengan saling meminta maaf. Dari sinilah, di Indonesia khususnya, muncul berbagai istilah yang identik dengan Idul Fitri, seperti Halal bi Halal (padahal di Arab sana tidak ada istilah seperti ini)  yang populer itu. Selain itu, ada juga virus membuat syair/puisi Idul Fitri yang kini mewabah. Rasa-rasanya dengan mudahnya anda akan dapat menemukan penyair kelas dunia dari Indonesia saat idul fitri!

Dalam dunia komunikasi misalnya, dikenal pula istilah perkembangan budaya komunikasi. Karena komunikasi yang dilakukan oleh manusia memang mengalami tahap perkembangan yang segaris dengan peradaban manusia. Klasifikasi tersebut dimulai dengan budaya komunikasi lisan di awal sejarah manusia, budaya komunikasi tertulis, lalu budaya komunikasi cetak (yang diawali oleh mesin cetak Gutenberg pada 1457), hingga model komunikasi terkini berupa interaksi media baru (yang digawangi kelahiran internet pada medio 1950-an).

Perkembangan ini pula tentunya melahirkan model ucapan lebaran tersendiri. Masa komunikasi lisan misalnya, tentu melahirkan model ucapan lebaran bil lisan –bertemu langsung untuk mengucapkannya-. Dalam masa komunikasi tertulis, surat-menyurat bisa jadi contohnya. Sedang, pada masa komunikasi cetak,  budaya tukar-menukar kartu ucapan lebaran di Indonesia yang masih marak beberapa tahun lalu bisa jadi contohnya. Budaya yang kini hampir musnah. Bahkan untuk menyiasatinya, PT Pos Indonesia sampai-sampai meluncurkan program kartu lebaran gratis (tinggal membeli perangkonya).

Saat budaya komunikasi media baru kini membom dunia kita. Handphone bisa jadi senjata utamanya, dalam era handphone kita dipacu untuk menggunakan otak kanan guna merangkai kalimat ucapan Idul Fitri seindah dan seunik mungkin. Harian Kompas misalnya, pernah menyebutkan bahwa Idul Fitri adalah masa dimana semua orang nyaris menjadi penyair. Di samping itu, lewat internet pula, kita dengan mudah mengirim kartu ucapan idul fitri yang jauh lebih aktraktif dan tentunya jauh lebih murah. Seperti fenomena FACEBOOK misalnya, kini ucapan Idul Fitri dibuat semudah men-tag orang-orang yang ingin kita beri ucapan. Ck…ck..  luar biasa memang teknologi!

Fenomena budaya media baru adalah fenomena keakraban semu (illusion intimacy). Kita seakan-akan akrab dengan orang lain di dunia maya, namun justru tidak pernah saling menyapa di dunia nyata. Kita meminta maaf dengan rangkaian kalimat sekelas Shakespeare, namun justru di dunia nyata hubungan kita masih saja beku. Kita merasa akrab, namun sebenarnya tidak pernah mengenal sama sekali… Apa betul seperti itu, kawan?

Ya, ini memang dunia kita sekarang….

One thought on “Evolusi Ucapan Lebaran

  1. yang bisa memastikan adalah niat masing2 … semu atau tidak semu terserah penilaian masing2 orang🙂

    lebih baik mengirim sapa daripada tidak mengirim sapa apalagi mengirim cela …

    Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin

    silahkan berkunjung ke blog saya:
    http://richocean.wordpress.com – ttg gempa Cianjur & Bangkalan kemaren pagi
    http://richmountain.wordpress.com

    salam kenal😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s