Kegembiraan yang Hilang

Gatal memang saat lama vakum dari menulis blog. Maka, kali ini saya memaksa diri saya untuk berbagi cerita tentang perjalanan saya selama kurang lebih empat bulan ini. Cerita ini berdasarkan perjalanan saya kembali ke tanah “asal” saya di Kota Kupang (NTT) pada awal mei lalu. Dan juga perjalanan saya menginjak tanah harapan, Pulau Lombok. Pulau yang saat kanak-kanak dulu pernah saya impikan begitu dalam.

Perjalanan saya ke dua daerah ini menimbulkan kesan yang amat mendalam. Terutama akan maknan kegembiraan. Bukan kegembiraan dalam arti luas, tapi kegembiraan masa kecil yang saya maksud. Karena, seperti yang kita ketahui: seringkali kegembiraan masa kecil adalah kegembiraan yang akan melekat seumur hidup kita. Meski dalam perjalanan hidup kita nantinya ada kegembiraan yang lahir dari pencapaian hidup kita (prestasi, penghargaan, jabatan, harta, dsb), saya yakin kesemua itu tidak akan mampu menghapuskan rasa gembira pernah merasakan fase menjadi seorang kanak-kanak.

Paling tidak ada dua kegembiraan yang saya rasakan telah hilang saat saya dewasa. Kegembiraan pertama yang hilang adalah laut dan pantai. Karena Kupang terletak di pinggir teluk Kupang. Maka, tentunya taka sing bila masa kecil saya pun banyak dihabiskan untuk menikmati indahnya laut dan pantai di Kupang, entah dalam bentuk berenang, main bola atau sekedar berjalan-jalan. Dan, salah satu pantai yang begitu favorit di Kupang adalah pantai Lasiana. Pantai ini amat berkesan bagi saya, karena dulu ia pernah ikut melambaikan tangan, saat saya harus meninggalkan kota itu pada tahun 2000. Selepas dari Kupang, selama lebih dari 9 tahun kemudian, saya harus berpindah-pindah, mulai dari Solo, Magelang, dan kini Yogyakarta yang kesemuanya tak memiliki pemandangan pantai dan laut.

Pada awalnya, saya tak menyadari sama sekali akan kehilangan ini. Namun, awal mei lalu di Kupang dan Juli-Agustus saat KKN di Lombok ini, saya baru menyadari bahwa saya begitu kehilangan rasa gembira menikmati laut dan pantainya. Subhanallah… bagi saya, laut dan pantai adalah salah satu anugerah Allah yang tidak ternilai harganya. Tak dapat dibeli dengan apa pun.

Dan, karena laut dan pantai pula, saya amat berharap dan berdoa, suatu saat nanti dapat menetap dan bekerja di suatu kota yang memiliki garis pantai dan laut. Entah dimana itu… Wallahua’lam, hanya Allah yang tahu. (atau mungkin ada yang mau memberi rekomendasi?)

Kegembiraan kedua yang hilang adalah sepakbola sore hari. Yup, meski tidak terlalu mahir bermain sepakbola, akan tetapi saya begitu mencintai permainan rakyat ini. Di Kupang dahulu, di dekat rumah saya di kelurahan Bakunase, ada lapangan bola yang letaknya hanya 50 m di depan rumah. Lapangan bola inilah yang menjadi saksi bisu permainan bola saya bersama kawan-kawan tiap sore. Dan, pengalaman uniknya, tak jarang bapak membawakan kayu untuk memukul saya, tentunya bukan karena beliau membenci saya bermain bola seperti Bayu dan Kakeknya di “Garuda di Dadaku”. Tapi, ini murni kesadaran bapak untuk mengingatkan saya agar tidak lupa shalat ashar dan maghrib. Bapak saya memang keras, tapi karena itu pula saya begitu mengagumi beliau.

Bermain bola tiap sore adalah pengalaman yang begitu menarik dan memberikan kenangan mendalam. Karena saat saya kembali ke Kupang, salah satu tempat yang saya kunjungi adalah lapangan bola tersebut. Sontak saya pun terkejut dan sedih saat tahu bahwa lapangan itu kini telah berubah menjadi kebun jagung. Dan, kenangan itu menguap begitu saja saat melihat hamparan pohon jagung di depan mata saya.

Alhamdulillah, kesedihan itu sedikit terobati di lokasi KKN, di Sambelia, Lombok Timur. Di sini ada lapangan bola desa yang tiap sorenya diisi dengan permainan bola warga. Secara kebetulan pula diadakan turnamen bola antar desa menyambut 17 Agustus. Saat program KKN kosong, saya pun selalu menyempatkan diri menjadi penonton setia. Meski hanya bisa menonton, saya sudah cukup merasa gembira.

Akan tetapi, sayang seribu sayang, kegembiraan ini harus berakhir lebih cepat karena perkelahian antar desa beberapa waktu lalu. Menyedihkan memang.

*******************

Kata kawan saya, “Naik motor itu harus terus lihat ke depan, bukan lihat spion terus.”. Sederhana, bukan? Namun, kalimat ini menyadarkan bahwa kenangan masa lalu cukuplah dilihat sesekali, bukan terus menerus. Karena hidup kita ini haruslah dipersembahkan untuk masa depan, bukan masa lalu. Dan, masa depan itu ada dua: masa depan dunia dan tentunya akhirat. Mari menyeimbangkannya, kawan!

2 thoughts on “Kegembiraan yang Hilang

  1. q pengeeennnn touring pake motor ke lombok..kpn yo? he3..
    btw njen KKN di lombok ya, tmenku kmren juga ada yg disana, namane Sharfan sinuardi, satu unit g?

    Waduh ga ada tuh,, di lombok ada 3 kelompok kkn dari ugm setahuku…Lombok emang keren!!

  2. lombok…
    kapan yah saya bisa menikmati indah nya lombok..
    phhhh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s