Terpojok dan Ingin Menghujat

“Mas, demokrasi itu apa sih? Sistem politik apa bukan?”

Hanya satu pertanyaan dari seorang adik kelas. Tapi, cukup membuat speechless, mengingat blank-nya kepala untuk menjawab. Entah apa yang salah dengan isi kepala, karena kata-kata ini amat sering dibicarakan sehari-hari. Demokrasi menjadi istilah sehari-hari, tidak jauh berbeda dengan istilah makan, minum, bahkan tidur. Hari-hari terakhir ini, tiada hari tanpa ber-demokrasi ria, apalagi suasana politik pun semakin menghangat dengan  pilpres yang tinggal 2 minggu.

Kembali pada pertanyaan di atas yang dijawab dengan respon kelagapan saya. Saya jadi berpikir, kenapa saya tidakmampu menjelaskan secara mendetail epistemologi dari Demokrasi itu sendiri (mengingat saya anak SOSPOL). Bahkan tidak cukup berhenti di sini, saya haqqul yaqin bahwa ada ketidakseriusan belajar yang saya lalui selama ini.

Dosen saya suatu waktu pernah mengatakan bahwa apa yang mahasiswa pelajari saat ini sebatas instant-isme. Semuanya dilaui dengan praktis, membaca, menulis hingga berdiskusi pun cukup dilakukan lewat layar komputer yang terhubung internet. Semuanya dengan mudah didapatkan, bahkan tugas kuliah sekalipun dapat dikerjakan dengan copy–paste dari internet. Akibatnya, jangan salahkan siapa-siapa, bila ilmu yang didapat pun tak jauh dari yang instan semata.

Apa artinya instan? Instan dalam hemat saya, jika dianalogikan dengan mie instan (tanpa bermaksud mengingatkan anda akan kampanye seorang capres), adalah “cepat dikonsumsi  sekaligus cepat pula membunuh (terlebih jika sering dilakukan)”. Membunuh, dalam konteks ilmu tentu tak mungkin bermakna denotatif, melainkan secara denotatif dimaknai sebagai kematian ilmu pengetahuan itu sendiri. Kita mampu memahami, namun terkotak sebatas artikel internet tersebut, tak ada  yang namanya pemahaman akan unsur-unsur ekstrinsik yang melatarbelakangi pemikiran tersebut (yang tentunya akan terlihat bila kita membaca langsung dari referensi aslinya).  Tak ada lagi yang namanya pemahaman komprehensif. Bahkan dalam kondisi ekstrim, tak ada lagi yang namanya pengembangan ilmu.

*********

Tulisan ini saya hadirkan untuk menonjok diri sendiri. Karena kini saya telah berada di penghujung kuliah. Namun, selama ini saya belum paham (atau tidak pernah paham sama sekali), akan basis keilmuan saya di komunikasi yang mengakar dari paling tidak tiga ilmu besar, yaitu: sosiologi, psikologi dan linguistik (boleh juga ditambah politik).

Jujur saja, saya akan bingung bukan kepalang ketika harus menjelaskan (dalam bahasa akademis tentunya, bukan common-sense) apa itu demokrasi atau marxisme. Apa lagi harus menjelaskan strukturalismenya Levi-Strauss, paradigma kritis, semiotikanya Saussure atau fungsionalisme-strukturalnya Parsons??

“Ehm, apa yang dipelajari selama tiga tahun ini, Bung??”

Waktu telah menipis, atau bahkan hampir habis untuk mempelajari semua itu di kampus. Saya bisa saja menyalahkan diri sendiri yang tak serius di kampus, atau sebaliknya ikut arus suara kawan-kawan yang menghujat sistem pendidikan di kampus. Semuanya ada di tangan saya, bahkan juga anda yang merasa tak pernah benar-benar belajar di kampus.

“Saya belajar bahwa tidak ada yang serba instant atau serba cepat di dunia ini…..

Semua butuh proses dan pertumbuhan……..kecuali saya ingin sakit hati….. “

2 thoughts on “Terpojok dan Ingin Menghujat

  1. assalamu alaikum wr. wb.

    alhamdulilah…
    Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
    Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
    baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
    Lho, maksudnya? Ga Nyambung & Ga Jelas? :-\

    Sudah saatnya kita ganti sistem!
    Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
    Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
    Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
    Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!

    Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
    Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
    dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
    Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
    yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
    (seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!

    Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
    Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
    Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
    Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.

    Lihat saja buktinya di
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
    dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!

    Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
    agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
    dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
    dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
    untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
    yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
    dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.

    Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
    secara sempurna dan menyeluruh.
    mulai dari diri sendiri.
    mulai dari yang sederhana.
    dan mulai dari sekarang.

    Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
    Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
    terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    wassalamu alaikum wr. wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s