Biarkanlah Mereka Magang… (Catatan untuk Karisma)

Karisma Magelang

Karisma Magelang

Masih teringat dengan hangat di kepala saya, bagaimana OSIS SMA dahulu mengadakan perkaderan. Di samping adanya perkaderan formal seperti LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa), ada juga perkaderan non-formal yang terjadi. Salah satunya adalah pemberian amanah pada pengurus junior (kelas X) pada semester kedua kepengurusan. Di situ kami yang pengurus yang lebih senior (kelas XI), memang sedikit melonggarkan ikat pinggang. Bukan dalam arti melepaskan amanah, namun lebih kepada pemberian ruang kepada pengurus yang lebih junior untuk mengembangkan diri.

Tak jauh berbeda, di SIBEMA (Pers di SMA N 1 Magelang), juga berlangsung pola perkaderan yang mirip. Dimana pengurus junior atau kader yang baru akan selalu diberikan waktu untuk mengemban amanah kepanitiaan di semester kedua kepengurusan (karena biasanya kepengurusan berlangsung dalam dua semester). Biasanya, pengurus baru akan mendapat amanah mengadakan sebuah kegiatan, tepatnya Gladiool Sastra Competition (GSC).

Kedua ilustrasi ini saya angkat untuk memperlihatkan adanya pola “magang” dalam sebuah fase kepengurusan. Bahwa sebuah fase kepengurusan, tak (akan) bisa serta merta langsung bisa diterjunkan begitu saja. Meski sudah diberi pelatihan se-excellent apapun, namun jika sebuah generasi kepengurusan tak pernah diberikan kesempatan untuk terjun untuk magang. Niscaya akan relatif  mudah tumbang dalam menjalankan roda organisasi.

Oleh karena itu, saya memiliki dua usul optimalisasi perkaderan dalam sebuah organisasi. Pertama, bahwa kepengurusan adalah mata rantai yang saling mengisi. Satu fase dengan fase lainnya tidak boleh putus.  Maka dari itu, harus ada pengurus yang menjadi jembatan mata rantai itu. Atau dalam bahasa berbeda, harus ada pola senior-junior dalam organisasi. Organisasi tak boleh diisi oleh pengurus yang senior melulu, karena akan mematikan kaderisasi. Namun, juga tidak boleh diisi oleh penguru junior semua, karena pasti akan membuat roda organisasi tidak efektif bergerak.

Kedua, pengurus senior yang masih bertahan hendaknya bukan senior biasa. Melainkan senior yang mampu memberi uswah (teladan), tidak sekedar uswah dalam hal akhlaq namun juga skill organisasi tentunya. Sehingga ada transfer nilai dan ilmu secara bersamaan, tidak timpang. Karena memang organisasi tingkat siswa/mahasiswa harusnya menjadi ajang pembelajaran intensif pengembangan diri, bukan sekedar pelampiasan waktu luang.

Saya menuliskan ini sebenarnya lebih dalam rangka untuk memberikan masukan kepada organisasi saya, Karisma (Keluarga Remaja Islam Magelang). Saya melihat masih ada missing-link kepengurusan di sana. Kepengurusan yang baru selalu saja mendapati ketidakpahaman akan program kerja mereka sendiri. Memang masih ada kakak-kakak yang membina di tingkatan Pengurus Umum (PU), namun bagi saya itu tidak cukup mengingat jarak geografis antara senior PU dengan Pengurus Harian (PH) yang cukup jauh (PU rata-rata di Yogya, dan PH di Magelang misalnya).

Oleh karena itu, pada tataran ini ada baiknya untuk membuat desain kepengurusan alternatif. Pengurus inti PH memang akan diisi oleh siswa SMA kelas XI, namun tidak boleh dikesampingkan juga kehadiran pengurus dari kelas X yang bisa diposisikan sebagai pengurus magang.

Memang cukup berat, mengingat keterbatasan kader. Namun, dalam hemat saya, andai ini benar-benar berjalan dengan lancar. Niscaya, problematika diskontinuitas pengkaderan Karisma akan dapat diatasi. Tak akan ada lagi keluhan dari PH mengenai ketidakpahaman mereka akan konsepsi maupun teknis pelaksanaan program kerja mereka. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s