Nasihat Berharga dari Teluk Timor

Perjalanan kembali ke Kupang beberapa waktu lalu menyisakan beberapa memori manis. Saya memang begitu merindukan kota itu, amat sangat merindukan, karena di sanalah saya menghabiskan masa kecil selama lebih dari 10 tahun. Masa-masa indah penuh kegembiraan, seakan-akan kehidupan tidak juga terdiri dari permasalahan.

Kota itu memang membawa kerinduan tersendiri. Akan tetapi, perjalanan -yang praktis- meringkas 9 tahun ini memang membawa pada satu titik pemahaman, bahwa: saya tak akan pernah kembali lagi ke sana. Yah, kalaupun rindu, sebatas direncanakan lewat liburan atau kunjungan. Tapi, untuk menjadi penduduk atau bekerja di sana dalam waktu yang lama, sepertinya tak akan pernah terpikirkan. Bukan karena saya tidak mencintai kota itu, namun karena memang ada banyak mimpi yang tak dapat ditempuh lewat kota itu. Bagi saya, cukuplah kota itu sebagai kenangan, bukan sebagai masa depan.

Nasihat yang Berharga

Dari berbagai catatan saya di sana. Ternyata salah satu hal yang paling menarik adalah dialog panjang saya dengan Pak Wahardi. Pak Wahardi adalah sahabat baik bapak saya, bahkan beliau sudah saya anggap Paklek (paman) sendiri. Dan, selama 5 hari di Kupang, saya pun banyak meminta bantuan beliau: mulai dari menginap di rumahnya, meminjam kendaraannya, hingga dibelikan oleh-oleh. Terimakasih banyak saya ucapkan. Saya berharap semoga suatu saat, kebaikan ini dapat saya balas dengan yang lebih baik lagi.

For Your Information (FYI), beliau adalah seorang Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di Kupang. Nah, pada konteks inilah pengalamannya selama belasan tahun bekerja di KUA, beliau bagikan kepada saya. “Kak Fani (begitu dia memanggil saya), saya ini memberi pendapat karena memang saya tahu kondisi lapangannya. Jadi, pendapat saya tentang masalah seperti ini (aka. nikah), tak melulu syariah an sich, atau justru terlalu psikologis. Perpaduan.” begitu kata beliau.

Dia memulai dengan pertanyaan yang baik (namun bagi saya memojokkan), “ Kalau Kak Fani, sudah punya pacar belum?” Kaget tentu ditanya seperti itu. Tapi, mungkin pertanyaan itu muncul mengingat umur saya yang telah melewati kepala dua. Dan, di Kupang, berpacaran dan berkeluarga di awal kepala dua adalah hal yang lumrah terjadi.

Saya terjepit harus menjawab apa, tapi tidaklah pantas rasanya berbohong di depan beliau untuk urusan seperti ini. Mungkin kalau saya jujur, aka nada banyak masukan berharga. Akibatnya, yang muncul pun rada jawaban rada berbelit, “Insya Allah saya ndak punya, Pak. Tapi, kalau target boleh kan. Target untuk serius maksud saya. Karena saya memang ndak mau bermain-main lagi.”

Dua poin penting di sini. Pertama, saya tidak berbohong. Bahwa saya memang tidak memiliki pacar. Kedua, namun, saya tidak menutupi diri bahwa sebagai seorang laki-laki normal ada juga keinginan seperti itu. Alhamdulillah, dengan pemahaman agama yang saya miliki, ditambah beberapa karakteristik pribadi saya, menjadikan saat ini memang saya tidak tertarik dengan hal itu. Namun, siapa sangka di kemudian hari ini nanti saya membutuhkannya, tentu dengan garis bawah untuk sifat yang lebih serius.

Maka dialog pun mulai terbuka dan lebih mendalam.

“Bagi bapak, itu hal yang lumrah dalam perjalanan hidup manusia. Bahwa ada masa ketertarikan kita pada lawan jenis. Namun, satu hal kamu harus berhati-hati dengan janji. Karena sangat jarang perempuan yang tidak tertarik pada janji.” jelas Pak Wahardi.

Beliau melanjutkan, “Akan tetapi, bagi saya janji itu seperti memastikan masa depan. Seakan-akan, hari ini akan sama persis dengan beberapa tahun lagi. Padahal belum tentu kan? Bisa saja, dalam perjalanan waktu, maut datang menjemput lebih awal. Atau, tentu kita tak akan pernah tahu akankah kita masih mencintai dia seperti yang terjadi pada hari ini bukan?”

Cukup beberapa kata, namun saya akui memang itu yang seringkali jadi masalah kita bersama. Kita terlalu sering mengikat perasaan cinta dengan janji lisan. Padahal, kita tak akan pernah tahu apakah masa depan sama dengan masa kini. Karena hidup amat dinamis, amat sangat dinamis.

Lalu saya pun bertanya, “Terus bagaimana baiknya, Pak?”

“Katakan dengan bahasa tubuh… Bahasa tubuh itu sifatnya universal. Berbuatlah baik kepadanya, berilah perhatian, itu jauh lebih baik daripada sekedar mengumbar janji. Tapi, ingat bahasa tubuh pun harus dibatasi. Bukan berarti, dengan bahasa tubuh kita berhak mengajak dia berdua-duaan.”

Dari dialog itu, saya baru menyadari bahwa ada kekuatan cinta yang tersembunyi dari bahasa tubuh. Kekuatan yang dapat menggenggam hati lawan jenis kita. Muhidin M. Dahlan menambahkan bahwa salah satu senjata kita adalah mata. Karena di mata ada kekuasan. Kewibawaan. Tak mengherankan bukan, bila seringkali orang dapat dicengkram hanya dengan tatapan mata.

“Perempuan itu makhluk yang lemah. Makanya berdasarkan hadits, sangat tidak disarankan memang untuk menatap mata lawan jenis. Ini bukan sebatas permasalahan zina atau bukan, namun memang tatapan mata laki-laki bisa membuat hati perempuan luluh.” tambah Pak Wahardi.

Hmm… sepakat! Ini pendapat yang begitu saya senangi. Bukan karena merendahkan posisi perempuan sebagai makhluk yang cenderung lemah. Namun, karena memang ini yang jamak terjadi di masyarakat kita. Bahwa, perempuan seringkali tertindas bukan semata karena laki-laki yang hebat, namun juga karena kelemahan perempuan itu sendiri yang mudah luluh.

Epilog

Dialog tadi memang tidak murni muncul dari lisan Pak Wahardi, karena ada beberapa interpretasi tambahan dari saya. Dialog ini begitu menggores di memori saya. Oleh karena itu, beberapa hikmahnya sempat saya bagikan di beberapa forum. Namun, memang kurang afdhol rasanya bila tidak ditulis di blog.

Allah memang Maha Penentu segalanya, dan Allah Maha Mengetahui kebutuhan kita. Namun, saya rasa tak ada salahnya bila kita semua -sehebat apapun iman kita- menginginkan akan menemui pasangan hidup yang sesuai dengan harapan kita. Di sinilah, kita punya tempat dan waktu untuk berusaha mewujudkannya: USAHA, kawan! Tentunya dengan proses yang syar’i pula. Semoga kita semua berhasil…. Amien…

Kalaupun tidak berhasil mendapatkan keinginan kita. Jangan pernah menyalahkan takdir yang telah Allah goreskan. Karena, Allah memberi sesuai kebutuhan hambaNya, yang pasti jauh lebih baik daripada pilihan subyektif kita semata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s