Demi KOMAKO, Bukan Demi Siapa-siapa

Beberapa waktu terakhir, perbincangan mengenai suksesi KOMAKO (Korps Mahasiswa Komunikasi, aka. Hima Komunikasi) menjadi perbincangan yang hangat. Selain karena hajatan ini menyangkut urusan anak-anak komunikasi UGM. Kontroversi yang menyertainya pun membuat suasana makin hangat (untuk tidak mengatakan panas). Bahkan, ada beberapa pihak yang mengatakan inilah pemilihan paling hangat dalam sejarah KOMAKO.

Sejak awal, saya memang cukup tak tahu menahu dengan urusan KOMAKO. Mengingat sejak awal kuliah tiga tahun lalu. kehidupan saya praktis habis di urusan eksternal kampus. Ingin rasanya mencoba masuk ke internal kampus, namun selalu gagal. Meskipun begitu, saya berjanji terhadap diri sendiri untuk tidak apatis terhadap berbagai pemilu mahasiswa. Bagi saya, halangan memilih seperti informasi tentang calon, dapat diatasi dengan banyak bertanya (entah pada kawan-kawan maupun searching di internet).

Namun,tahun ini saya tak lagi menjadi pemilih biasa. Karena mendadak, saya harus turun gunung saat mengetahui sahabat saya, Iim, memilih maju ke gelanggang pertarungan. Sebagai seorang sahabat, tentu saya tak akan menolak. Mengingat, banyak harapan yang dia miliki pun selaras dengan harapan saya. Nah, jika bukan sahabatnya sendiri yang mendukung. Lalu siapa lagi?

*************

Ada beberapa poin yang perlu saya beri tanggapan di sini. Pertama, mengenai isu golongan musholla yang dibawa Iim. Bagi saya, memang tidak dapat dinafikan, Iim identik dengan golongan musholla. Namun, untuk konteks KOMAKO, saya rasa calon yang religius atau bukan, bukanlah masalah yang paling mendasar. Karena sesungguhnya masalah utama ada di kapasitas dan kapabilitas. Dan, dalam pandangan saya, Iim memiliki kedua hal tersebut. Ditambah lagi, kalau boleh mengakui, sebenarnya selama ini Iim justru lebih aktif di Balairung (pers kampus) ketimbang di musholla. Nah, mengapa fakta ini tidak coba diangkat sebagai netralisir?

Kedua, komunikasi memang jurusan yang unik, karena perpaduan antara aspek praktis dan teoritis sangat berhubungan. Terlalu praktis tentu akan membuat mahasiswa jadi pragmatis belaka. Sebaliknya, terlalu teoritis, bisa membuat mahasiswa tumpul dalam praktik. Di titik inilah, saya melihat ide Iim untuk mengangkat kedua kajian ini secara seimbang. Hal ini bukan berarti KOMAKO periode sebelumnya gagal mewadahi kedua hal ini. Namun, bagi saya titik tolaknya berada pada proses kontinu untuk mengembangkan KOMAKO.

Ketiga, saya memang tidak pada tahapan mengkritisi konflik (bahasa lain dari kontroversi) antar beberapa kelompok di komunikasi. Hemat saya, konflik ini sebenarnya justru tidak perlu terjadi. Kira-kira alasan apa sih yang masih relevan untuk diangkat? Tak paham visi-misi calon, bisa diakali dengan melihatnya di Facebook (ada kan?). Tak kenal dengan calonnya, kemarin kan sudah ada kampanye terbuka, atau temui saja orangnya langsung. Dan, bila merasa kepentingan kelompok tidak akan terpenuhi, apa gunanya kuliah di komunikasi bila kita tak pernah mencoba memahami satu sama lain lewat dialog.Terlalu menyederhanakan mungkin, namun semoga ini demi kebaikan bersama semata.

Terakhir, saya yakin, akan ada banyak hikmah bilamana kita mampu menyelesaikan semua masalah ini. Semakin keras cobaan yang kita dapatkan, Insya Allah akan sebanding dengan betapa manisnya hikmah yang akan kita dapatkan. Harapan saya. semoga jurusan kita, khususnya lewat KOMAKO, akan dapat bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi harapan bersama, siapapun ketuanya nanti. Karena, kalau tidak demi KOMAKO, lalu demi siapa lagi?

*Mari berkontribusi bersama demi kelancaran dan kesuksesan suksesi ini. Kalaupun tak dapat berkontribusi langsung. Minimal, sumbangkanlah ketulusan doa kita. Amien Ya Rabbal ‘Alamien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s