Gojeg Tuo: Evolusi Bersama Umur

“Tak ada yang berubah di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri”

Lama juga saya tidak menulis tentang hal-hal futuristik seperti ini. Berhubung akhir-akhir ini ada beberapa kejadian yang begitu dekat dengan hal-hal tersebut. Tak ayal, saya pun mencoba memetakan isi kepala sembari berbagi dengan kawan-kawan semua. Hal beginian dan futuristik yang saya maksud tak lain-tak bukan adalah permasalahan “cinta dan pernikahan”.

Tidak kaget kan?

Kalau ditanya siapa sih yang tidak mau dua hal tersebut? Saya tak yakin ada di antara rekan-rekan yang sudi mengacungkan tangan seraya berkata: “Maaf, saya tak perlu dengan dua hal itu. persetan lah!”

Maka, boleh kan saya berhak berasumsi anda sedang patah hati? Sehingga, anda begitu antipati dengan dua hal tersebut.

Evolusi Bersama Umur

Cinta memang dilahirkan bersama fitrah seorang manusia. Sejak lahir memang kita dipersiapkan untuk mencintai dan menerima cinta dari orang lain. Lihatlah misalnya, ibu mana yang tak mencintai anak-anaknya? Dia mencintainya sepenuh hati, sehingga sudi mati demi menjaga sang calon buah hati dalam perutnya untuk waktu berbulan-bulan.

Setelah lahir pun, sang buah hati dirawat dengan sepenuh hati karena dia masih tak berdaya mengurus dirinya sendiri. Di sini, mau tak mau terlihat fitrah seorang ibu yang bekerja tanpa pamrih demi anaknya. Seperti kata pepatah, “Kasih Ibu sepanjang jalan”.

Dalam perjalanan umur, sang anak tak hanya belajar menerima cinta dari orang-orang di sekitarnya. Tapi, juga belajar untuk mencintai orang lain. Dia belajar menerima kenyataan ada getar-getar istimewa saat melihat orang-orang tertentu. Dan, memang itulah yang dinamakan cinta.

Entah sejak kapan kita bisa merasakan mencintai orang lain. Tapi, hemat saya, ada beberapa fase masa mencintai. Pertama, masa cinta monyet. Saya tak tahu harus mengistilahkan apa dengan masa ini. Masa yang jelas diwarnai dengan cinta-cinta absurd: mampu mencintai tapi tak mampu menjelaskan apa alasannnya, semua serba tiba-tiba. Bisa karena faktor fisik, bisa karena karena kedekatan rumah, atau bahkan karena dijodoh-jodohkan (jawa: dipaco’-pacoin). Masa ini kebanyakan terjadi pada SD atau bahkan SMP.

Kedua, masa cinta semu. Ini memang istilah yang saya bentuk sendiri. Semu (pseudo) saya pilih karena melihat masa ini dengan penuh ketidakpastian: ingin serius namun tak ada daya melawan umur yang masih hijau. Di masa ini pula terjadi transisi antara cinta monyet ke fase cinta sebenarnya. Itulah kenapa tak jarang di masa ini ada yang berpacaran (baca: mencintai) untuk sekedar bermain-main, namun ada pula yang sukses hingga ke tingkat pelaminan bertahun-tahun kemudian. Masa ini seringkali begitu berkesan bagi sebagian orang. Mungkin karena gebyar kegembiraan masa SMA yang jadi motivator.

Terakhir, masa cinta sebenarnya. Sebenarnya masa ini bukan saya angkat dari realita. Saya lebih melihat ini sebagai potret dari imajinasi akan masa cinta yang ideal dalam kepala saya. Di umur yang telah mencukupi (di atas 20 misalnya), bagi saya cinta tidak bisa berdiri sendiri. Dia harus dibarengi dengan sebuah komitmen de jure bernama “pernikahan”. Bagi saya itu hal yang mutlak. Itulah kenapa, kadangkala saya berpikir bahwa rekan-rekan seumuran yang masih sibuk berpacaran. Saya pikir lebih baik kembali ke masa SMA saja, karena pacaran memang saya artikan sebagai ketidakseriusan.

Absolutely, tak ada yang melarang seseorang dewasa untuk jatuh cinta. Namun, kedewasaan umur seyogyanya diikuti pula dengan kedewasaan berpikir bahwa ada konsekwensi dari itu semua. Kawan saya, Ghifari, beberapa hari lalu beropini bahwa mungkin “asyik juga menikah dengan sesama anggota persyarikatan (Muhammadiyah dalam hal ini)”. Saya memahami opini dengan interpretasi bahwa bahwa untuk tingkatan umur yang lebih dewasa: Seharusnya ukuran-ukuran fisik bukanlah yang jadi patokan utama, melainkan ukuran ideologi.

Debatable memang, karena seringkali kita tertarik dengan lawan jenis ya dari tatapan fisik. Istilahnya “dari mata turun ke hati”, bukan tatapan-tatapan mendalam seperti ideologi. Tapi, bukan berarti tidak bisa bukan?

Ideologi bermakna kesamaan pandangan hidup tentang posisi Islam. Semoga tak ada di kamus saudara-saudara untuk mencoba menyepekkan hal tersebut. Setelah Islam, baru kemudian ideologi dikhususkan lagi: berupa arah gerak dan institusi Islam yang mana. Semisal, saya yang kader Muhammadiyah, tentu berharap dan diharapkan untuk mendapatkan sesama kader Muhammadiyah. Ini bukan bermaksud ashabiyah, namun semata berkait dengan kebaikan dan kelanjutan perjuangan persyarikatan. Muhammadiyah tak boleh berhenti bergerak, oleh karena itu harus terus dilahirkan penerus-penerus perjuangan yang militan.

Argumen ideologi yang lebih sempit di sini bukan berarti menafikan adanya pernikahan antar gerakan. Bagi saya, itu sah-sah saja, variatif istilahnya. Namun, jangan dilupakan pula bahwa harus ada kompromi-kompromi khusus nantinya mengenai arah gerak keluarga.

****************

Evolusi cinta bersama umur adalah sebuah evolusi pemikiran, bukan fisik. Bisa jadi, bagi sebagian orang itu tak terjadi, karena dia hanya stagnan pada satu fase. Namun, bagi saya, mengikuti alur evolusi adalah kewajiban yang harus kita tempuh. Agar cinta dan pernikahan yang kita lalui nantinya, tak melulu berhenti pada tataran kecocokan fisik semata, namun juga kecocokan ide dan harapan ke depan. Karena fisik pasti akan dimakan umur, sedangkan ide dan harapan akan abadi.

*gojeg tuo: sebuah istilah yang dipakai rekan-rekan saya di IMM untuk menggambarkan suasana komunitas kami yang ramai akan perbicangan tema ini. Makasih buat ide tulisannya, kawan!

One thought on “Gojeg Tuo: Evolusi Bersama Umur

  1. hohoho….,
    jadi pilih yang sehaluan atau justru mencari yang bertentangan??
    supaya khasanah pwmikiran makin kaya,..

    hik! Semoga saudaraku ini lekas dapatkan yang terbaik!🙂

    Amien, makasih may!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s