Demokrasi berujung Democrazy

Ramalan akan ramainya Rumah Sakit Jiwa (RSJ) oleh para caleg pasca pemilu ternyata bukanlah isapan jempol. Setidaknya dalam dua minggu pasca pemilu ini, pemberitaan di media membuktikan hal tersebut.

Mimpi segelintir calon legislatif (caleg) untuk menikmati empuknya kursi demokrasi (baca: kursi legislatif) kini menguap tak berbekas. Bukan demokrasi yang mereka nikmati, justru democrazy (Yunani: demos=rakyat; Inggris: crazy=gila) yang menghampiri. Dan, seperti yang telah diprediksi sebelumnya, caleg yang depresi dan stress pasca pemilu kini bertumpuk jumlahnya.

Di Ciamis misalnya, ada seorang caleg perempuan hamil yang nekat bunuh diri (Liputan 6, 19 April 2009). Lain halnya, di Bungkanel, Purbalingga, ada sebuah klinik yang telah menerima puluhan caleg dan relawan stress (Suara Merdeka, 18 April 2009). Di Bali pun, seorang caleg Hanura meninggal secara mendadak pada tengah malam setelah melihat suaranya yang jeblok (Kompas.com, 10 April 2009). Jelas ketiga ilustrasi ini hanyalah representasi kecil, mengingat masih banyak lagi berita miring tentang caleg yang gagal di berbagai daerah.

Berbagai tindakan aneh dari para caleg ini sekaligus melengkapi betapa amburadulnya sistem pemilu tahun ini. Mulai dari DPT yang amburadul, money politics yang tetap saja ramai, tendensi ketidaknetralan Polri/TNI, hingga lambannya perhitungan, mengesahkan tudingan bahwa inilah pemilu paling amburadul sepanjang sejarah Indonesia.

Yang kemudian menjadi tanda tanya adalah bagaimana ketidakwarasan ini bisa terjadi pada diri seorang calon wakil rakyat? Sulitkah menjawabnya? Tidak bagi saya, karena cukup sederhana penjelasannya.

Ketidaksiapan mental bisa jadi merupakan alasan utama. Caleg yang terlalu tinggi berharap, bisa mendadak down saat melihat minimnya hasil contrengan. Belum lagi, ketidaksiapan untuk melihat jor-joran dana kampanye mereka tak akan pernah kembali lagi. Padahal, tak jarang dana tersebut seringkali didapatkan dari pinjaman kesana kemari. Tentu memusingkan! Di sinilah terlihat kenyataan bahwa caleg siap bertarung, namun tak siap menghadapi kenyataan pahit dari sebuah pertarungan: adanya kalah dan menang.

Selain ketidaksiapan mental dari tiap individu caleg. Sistem seleksi caleg pun belum sempurna, khususnya dalam tes kejiwaan (psikotes). Seperti apa yang dikatakan pakar kejiwaan, Dadang Hawari, bahwa sistem psikotes yang ditempuh oleh para caleg tak lebih dari formalitas belaka. Akibatnya, hasil psikotes yang ada pun tak mampu menawarkan data kejiwaan individual yang signifikan (Okezone, 17 April 2009). Maka tak mengherankan bila kini banyak caleg yang terjerembab depresi pasca pemilu.

Dari fenomena ini, banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Dari sisi caleg, mereka jadi paham bahwa harus kesiapan mental yang kuat mutlak adanya untuk menghadapi apapun kenyataan pasca pemilu. Sedangkan, bagi kita sebagai pemilih, kita jadi tahu siapa saja yang memang tak pantas untuk dipilih. Tentu, karena mengurusi rakyat sebagai anggota legislatif, seharusnya jauh lebih berat dari mengurusi diri sendiri. Ngurus diri sendiri aja ndak bisa, apalagi ngurus rakyat nantinya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s