Pilih Pemimpin yang Benar!

“Jika jadi anggota saja tidak baik, bagaimana bisa menjadi pemimpin yang baik?”

(Ust. Sus Budiarto, Psikolog UII)

Itulah kata-kata yang tercetus dari Ustadz Sus Budiarto pada suatu kajian, beliau adalah seorang psikolog dan juga dai di Yogyakarta. Kata-kata yang sederhana, namun cukup nendang untuk memulai sebuah tulisan panjang tentang posisi pemimpin yang lahir dari sebuah proses.

Dalam dunia psikologi pun ada dua perdebatan besar, antara golongan yang percaya bahwa kepemimpinan adalah bawaan lahir (gift) dan golongan yang memandang kepemimpinan adalah produk dari proses. Terlepas dari kedua perdebatan itu, saya justru melihat kepemimpinan sebagai produk dari perjuangan menjalani kehidupan (proses). Coba bayangkan, andai saja kepemimpinan benar-benar bawaan lahir. Tentu tak adil bukan bila hanya ada orang-orang tertentu yang sejak lahir sudah ditakdirkan menjadi pemimpin. Terus kemana lagi yang lain? Apakah hanya ditakdirkan hanya sebagai bawahan. Tentu tidak seperti itu.

Bagi saya, kepemimpinan adalah puncak dari proses pemaknaan akan kehidupan dalam diri seseorang. Seorang pemimpin yang baik, tidak dilahirkan serta merta, melainkan hadir dari proses yang panjang dan berat, bahkan kadangkala hingga mempertaruhkan nyawa sekalipun.

Nabi Agung kita, Nabi Muhammad, patut digarisbawahi bahwa beliau tidak dilahirkan serta merta sebagai seorang pemimpin. Beliau lahir sebagai manusia biasa. Beliau menjalani proses sejak dini untuk menjadi pemimpin tangguh. Ditinggal Ayah dan Ibunya sejak dini, kecil-kecil hidup mandiri dengan membantu pamannya Abu Thalib, menjadi pedagang yang terkenal dengan kejujuran dan kepandaiannya, menikah dan menjadi suami yang baik Khadijah, hingga menjadi Al Amin di mata masyarakat Makkah ketika itu. Kesemua hitam putih perjalanan hidup tersebut menjadi rekam sejarah betapa berat dan panjangnya proses menjadi pemimpin.

Hemat saya, beliau adalah individu yang masyhur dulu akan keshalihan pribadinya, baru kemudian diberi amanah agung untuk menjadi nabi dan juga sekaligus pemimpin bagi ummatnya. Bukan sebaliknya, sejak lahir diberi berbagai mukjizat untuk terlihat sebagai pemimpin masa depan.

Dalam dunia militer misalnya, juga sangat mirip. Bahwa seorang Jenderal berbintang empat yang tampak gagah dan kharismatik di depan anak buahnya pun juga telah melewati proses panjang untuk sampai pada posisi tersebut. Mengawali karir dari bawah, sebagai perwira rendahan yang disuruh-suruh, bahkan tak jarang pula ditindas secara fisik maupun batin menjadikan mereka tangguh, baik mental maupun fisiknya.

Belum lagi, satu hal yang pasti proses mencapai tingkatan jenderal bukanlah proses yang instant, minimal puluhan tahun harus diarungi untuk sampai pada tingkatan tersebut. Belum lagi, ada proses seleksi alam yang amat ketat, hingga hanya perwira-perwira terpilih-lah yang mampu mencapai posisi tersebut.

Saya berbicara hal ini, selain untuk sedikit bermuhasabah akan diri sendiri, juga untuk bermuhasabah akan kepemimpinan nasional yang akan segera digelar beberapa saat lagi. Sebagai pemilih, saya yakin anda pun sebagai pemilih pemula akan semakin bingung memilih siapa pemimpin kita ke depannya. Karena faktanya, seringkali, ada tokoh di dekat kita yang jelas-jelas punya kontribusi besar, namun tidak populer sama sekali. Justru di lain pihak, ada banyak tokoh yang datang dari negeri antah-berantah, meledak popularitasnya sebagai calon pemimpin hanya karena mampu tersenyum dan bersenandung puitis di depan media massa.

Padahal, seperti saya sebutkan di atas. Sebenarnya, yang kita butuhkan itu adalah pemimpin yang benar-benar telah melalui proses panjang. Pemimpin yang benar-benar memiliki jejak rekam (track record) untuk dijadikan pelajaran sebelum benar-benar memimpin. Bukan seperti saat ini, dimana banyak calon pemimpin yang meledak karena publikasi.

Sebalik, umat Islam pun diharapkan, atau bahkan diwajibkan untuk berusaha memilih pemimpin yang benar. Pemimpin yang diharapkan dapat memimpin negeri ini berkembang dan lepas dari keterpurukan. Alasan ini pula yang mungkin melatarbelakangi fatwa MUI beberapa waktu lalu. Fatwa tentang keharaman golput, yang ternyata justru direspon secara kontroversial baik dari eksternal umat Islam maupun internal umat Islam itu sendiri.

Di mata saya, niat MUI dengan mengeluarkan fatwa ini jelas positif. Mengingat kepemimpinan dalam Islam adalah wajib adanya. Maka dari itu, mendukung terbentuknya kepemimpinan yang baik secara otomatis pula menjadi wajib adanya. Lagipula dengan melihat berbagai tawaran dari partai Islam saat ini, saya rasa amat naif rasanya untuk terus golput dan tidak berkhunudzon melihat kerja keras mereka.

Saya bukannya pro partai tertentu. Tapi, saya harap pelajaran dari meninggalnya Nabi Muhammad, saat jenazah beliau belum bisa dimakamkan sampai 3 hari karena belum terpilihnya seorang pemimpin dapat mengilustrasikan betapa krusialnya posisi seorang pemimpin. Pemimpin adalah kepala bagi tubuh manusia. Manusia dapat hidup tanpa kaki, tangan ataupun jari-jari, namun sekali-kali manusia tak akan bisa hidup tanpa kepala. Nah, andai kepalanya saja rusak karena rakyat tidak mendukung calon yang baik, bagaimana negara ini bisa maju? Tanya kenapa…
[repost, tapi ga sempat saya edit juga buat buletin SMA]

5 thoughts on “Pilih Pemimpin yang Benar!

  1. cari pemimpin yang baik dan benar memang sangat susah..

    salam kenal

    salam kenal juga…

  2. aku tulis blog mas di blogrol ku yha..

    ya, monggo makasih….

  3. Saya barusan membaca Tempo tentang beberapa Caleg yang bermasalah dengan hukum. Ada yang jualan ganja, jualan ekstasi, nyuri motor, dan penebangan liar. Aku heran, kok bisa orang seperti itu jadi caleg ya..

    Hidup Indonesia, mas!
    Orang narapidana aja masih bisa jadi Ketua PSSI… hehe

  4. KEBENARAN TELAH DATANG
    (NUR ALLAH/ ZAT ALLAH/ ROH KUDUS)

    Hadirnya sosok manusia mulia yang selalu menyampaikan tentang : “KEBENARAN” yaitu : “HIDUP YANG BENAR” dan “HUKUM YANG BENAR”.

    —————HIDUP YANG BENAR
    1. Jujur.
    2. Sholat.
    3. Yakin, sabar, sadar, tekun, ikhlas.
    4. Jangan punya niat jelek dengan siapapun termasuk setan sekalipun.
    5. Jangan merasa apapun.
    —————————-Tanggal 6 Juni 2009
    ————————————–ttd
    ———————–Muhammad Gatot Haryanto

    ———-—–HUKUM YANG BENAR
    1. Yang benar hanya Allah.
    2. Saya hanya punya hak mengatakan benar dan salah.
    3. Saya tidak punya hak mengadili, menghukum, membunuh.
    4. Marah saya karena sayang.
    5. Walaupun disakiti saya tidak punya hak untuk menyakiti.
    ————————-Minggu pagi jam 10.00
    ———————-–Tanggal, 10 Januari 2010
    ———————————-—ttd
    ———————-Muhammad Gatot Haryanto

    Inilah jalan menuju keselamatan “DUNIA” dan “AKHIRAT” untuk menghadapi masa pengadilan bagi Umat didunia ini yaitu masa Akhir Zaman.

    ***Apa Akhir Zaman? (masa pergantian Zaman)

    ***Akan terjadi apa? (Lihat saja Alam ini — Matahari, langit, bumi dan segala isinya sudah mulai marah)
    – kebakaran dimana-mana.
    – Banjir dimana-mana.
    – Keributan dimana-mana.
    – Gempa bumi dimana-mana.
    – Bencana dimana-mana.
    – Kekuasaan mulai berjatuhan dimana-mana.
    – Harta ditengelamkan dimana-mana. dll

    ***Sebab apa?
    – Zamannya banyak orang yang menyimpang dari kebenaran (Ketentuan ALLAH). Yaitu berhianat kepada Allah, berdusta kepada Allah, menuhankan selain Allah itulah orang-orang munafik.
    – Tuhannya mereka: Tuhan Harta, Tuhan Jabatan, Tuhan Kekuasaan, meraka tunduk kepadanya, untuk mendapatka itu mereka tidak segan-segan menghalalkan segala cara, baik membunuh, memfitnah, menzolimi sesame.

    Demikian penyampaian singkat saya ini, semoga dapat bermanfaat bagi anda.

    Sahrudin
    Hp.081386480007
    sahrudin.cipayung@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s