Bahasa Arab Udah, Terus Nanti Bahasa Apa Ya?

Kali ini saya ingin berbicara tentang sinetron di Indosiar, bukan sinetron-sinetron legenda itu, tapi sinetron yang berjudul MUSLIMAH. Tahu kan? Karena dalam hemat saya, sinetron ini menarik karena menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Mungkin masalah ini sudah disinggung adik kelas saya, Diani, dalam blognya. Tapi, rasanya tidak salah juga untuk saya bahas kembali.

Jujur saja, pada awalnya saya mengira bahasa arab yang digunakan di sinetron ini adalah bahasa arab mesir. Karena dalam sebuah scene, saya sempat tidak memahami sama sekali kosakata yang dipilih sang aktor, selain karena sangat cepatnya ucapan dan pemilihan kosakata pun cenderung kurang lazim. Namun, setelah saya simak lebih jauh lagi, ternyata saya mungkin salah mendengar. Justru bahasa arab model ini lazim digunakan di pesantren-pesantren di Indonesia, termasuk di pesantren saya dulu. Maka dari itu, saya jadi curiga bahwa sangat dimungkinkan konsultan bahasa arab dalam sinetron ini pun lulusan pesantren. *kesimpulan yang terlalu cepat nih*

Di lain hal, meski bahasa arab di sini jadi bahasa pengantar, yang secara otomatis mestinya semua tokoh mampu berbahasa arab secara lancar, ternyata tidak berjalan seperti itu! Artis-artis yang terlihat berwajah keturunan Arab, saya lihat mampu berbicara Arab dengan lancar, dan wajar adanya. Sedang, artis lokal, terbagi menjadi dua. Golongan pertama, yang lancar berbicara Arab, namun tidak wajar (karena terlalu serius, bahkan dengan nada membaca Al Quran lengkap dengan tajwidnya). Dan, golongan kedua, yang terbata-bata dalam berbicara, bahkan seringkali pengucapan hurufnya pun amburadul (bisa anda cek kok!). Tentu tak wajar bukan, saat bahasa arab dijadikan bahasa pengantar, eh tokoh-tokohnya malah tidak mampu menghadirkan bahasa arab (minimal) secara lancar. Betul tidak?

Saya mungkin tidak akan memberi penilaian akan sinetron ini. Karena jujur saja saya sudah muak dengan segala macam sinetron di negeri ini. Terlalu kasar mungkin, tapi saya anggap ini wajar mengingat kualitas sinetron kita yang emang pas-pasan (untuk tidak saya katakan busuk dan hancur). Akan tetapi, yang jadi concern saya justru “pola mbebek” yang ada di dunia hiburan kita. Paham kan maksud saya? Karena biasanya, jika ada satu bentuk hiburan yang sedang booming, MESTI akan ada yang mengikuti (aka. mencontek, membebek) nantinya. Percayalah saja, kawan…

Maka dari itu, andai sinetron model ini sukses nanti. Saya yakin akan ada sinetron-sinetron serupa yang siap tayang. Berani taruhan deh! Nah, kalau bahasa arab udah, terus nanti bahasa apa lagi ya? Kalau boleh usul Bahasa Malaysia juga boleh. Itung-itung buat persiapan pengiriman calon-calon TKI kita ke sana. haha

image dari sini

7 thoughts on “Bahasa Arab Udah, Terus Nanti Bahasa Apa Ya?

  1. skrg ini lagi marak2nya film atau sinetron yg minjem warna islam… tapi hakikatnya malah merusak islam… ghazwul fikri berkobar, smg semua lekas tersadar…

    salam kenal,..

    salam kenal balik juga… iya, ga cuma sinetron yang isinya hedonisme dan pacaran melulu. Bahkan sinetron islami saja isinya bisa membodohi…

  2. asal ngga bahasa isyarat aja yah!

    boleh dah, apalagi bahasa planet…

  3. saya sih gak suka nonton..
    apalagi sinetron…🙂

    tapi boleh lah info nya..
    mungkin nanti saya coba liat sinetron itu…

    silakan… ditonton aja… malam kok. sekitar bakda isya… hehe

  4. kalau bahasa melayu?
    mungkin kalau bahasa arab ntar jadinya kan mending pake para TKI yg kerja di arab biasanya ada yg lancar bahasa arab gtu…

    Ya, udah mari memberi usul utk menyediakan sinetron sesuai bahasa tujuan TKI kita… hehe

  5. whua.. saya belum bisa bahasa Arab.. pertama bengong kagum ada sinetron kok pake dialog2 dalam bahasa Arab.. tapi emang terlanjur gak suka dgn sinetron sih, ..pake bahasa apa saja, tetap saja kurang bermutu..🙂

  6. Saya juga ngeri nih liat sinetron2 kita, gak ada nilai pendidikannya blass…padahal klo sinetron kita dijadikan media pendidikan dengan memasukan nilai didalamnya, wuih…saya yakin ni bangsa cepet berkembangnya. Eh itu bahasa arabnya masih babibu githu, maklum hafalan bangget ya…
    Salam kenal…

    Salam kenal kembali, pak…
    Yah, kira2 mungkin baru sampai tahap segitu sinetron2 kita…
    Ga tahu kapan bisa berubah…

  7. Ikut berkomentar.

    “Campakkan saja televisi itu ke gudang”

    ekstrim nih… jangan lah,,, lumayan buat nonton siaran langsung sepakbola…hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s