Pagi Ini, 9 Februari

Pagi ini matahari terbit berbeda

Cahayanya berhambur bersama kelahiran sekuntum bunga

Berpadu menjadi satu, menghentakkan alam semesta

Belasan tahun kemudian, Aku mencoba mengambil kuntum itu

Mengira kesaktianku mampu meluluhkan batangnya

Ternyata aku terlalu jumawa…

Dia bertanya, “Maukah dirimu menjaga kuntumku ini hingga nanti?”

Selalu saja, tak ada tanya yang akan ku jawab

Aku berpaling mencari kuntum yang lain

Dan, hanya segurat kecewa yang hadir di wajahku

Pagi ini, 9 Februari. Ku datangi kembali taman itu

Terpana, kuntum itu masih berpendar manis di situ

Tersenyum indah kepada dunia

Membuat hati hamba makin teriris

Merutukku: Kenapa tanya itu tak ku jawab dulu?

Dan, topeng ini ku lepas perlahan…

Agar seisi taman betapa buruknya wajah hamba

Agar kuntum itu pun paham, kenapa aku tak pernah menjawab

Ku lemparkan senyum kosong pada kuntum itu

Senyuman tuk sekedar mengatakan, “Terimakasih atas kehadiranmu…”

[Untuk yang sedang berbahagia di sana… Selamat, selamat… Selamat hari kelahiran…]

One thought on “Pagi Ini, 9 Februari

  1. ehm… selamat juga buat yg “di sana”…
    percaya deh, suatu saat sang ksatria kan segera memetikmu,
    saat ini dia sedang mengumpulkan segenap keberaniannya…
    hehehe… benar gak bang zulfi?🙂

    Makasih, tapi ga perlu diselamatin, pak..
    ini puisi ga penting kok… malah saya berharap ga usah dibaca dia…
    cukup saya yang tahu kalo rangkaian kata2 ga jelas ini pernah ada di kepala saya… hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s