Suatu Sore 10 Tahun Lalu

31 Desember, hari yang konon begitu istimewa bagi banyak orang. Namun, bagiku ini biasa saja. Biasa bila tidak direnungkan signifikansinya sebagai hari terakhir tiap tahunnya.

Itulah yang sering ku alami. Tak banyak tanggal 31 Desember yang cukup teringat di memori. Selain karena memang amat malas untuk bepergian di malam hari merayakan tahun baru, bermuhasabah pun cukup jarang ku lakukan.

Salah satu 31 Desember yang amat ku ingat, mungkin 31 Desember 10 tahun lalu. 31 Desember 1998, tepatnya. Saat itu diriku hanya seorang anak kampung biasa di Desa Bakunase, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Lazimnya, anak laki-laki pada waktu itu, kami selalu menghabiskan sore hari dengan bermain bola di sebuah lapangan bola depan rumahku. Lapangan itu cukup besar untuk ukuran lapangan kampung, seukuran dengan lapangan bola di Klebengan, utara Peternakan UGM. Entah kenapa, sore itu aku tidak bersemangat bermain bola. Aku menyadari bahwa ini adalah hari ini adalah akhir tahun 1998. Aku berpikir apa saja yang telah ku lakukan selama ini. Apakah bermanfaat, atau justru merusak. Dan, bagai orang yang kesurupan, sore itu aku hanya duduk termenung di pinggir lapangan membiarkan kawan-kawanku asyik bermain bola.

Kini, 10 tahun telah berlalu. Banyak hal yang telah berlalu, dan berubah begitu drastis.

Saat itu mungkin tak pernah terpikirkan, bahwa masa SMP harus ku lalui di sebuah “penjara Islami” di Solo.

Saat itu mungkin tak terpikirkan pula bahwa diriku akhirnya kembali ke tanah kelahiranku, di Magelang untuk ber-SMA di sana. Dan, akhirnya terdampar untuk kuliah di Yogya.

Itulah sejarah, yang kata Alm. Kuntowijoyo, bagaikan menumpang kereta api di gerbong terakhir: “Kita bisa melihat ke belakang (masa lalu), dan ke samping (masa kini), namun sekali-kali kita tak akan dapat melihat ke depan (masa depan).”

Sejarah, kadang indah untuk dikenang. Mengenang suatu masa saat kita berdiri tegap, berjaya, atau bahkan jatuh tertelungkup. Semua hadir tanpa pernah bisa kita ubah sejengkalpun.

Semua dari kita tentu akan merasakan euforia akan sejarah masa lalu kita. Akan tetapi, tak ada satu pun dari kita yang bisa memastikan masa depan. Yang ada hanya mempersiapkannya dengan baik.

31 Desember… Terimakasih atas waktu untuk merenung.

3 thoughts on “Suatu Sore 10 Tahun Lalu

  1. masa laul yang indah fan, wah tauhun 98 yang lalu tempat ku ada Penjrahan massal………………:(

    pada, ko… tahun 98 yo ng kupang ana kerusuhan massal….. ngeri!

  2. setiap hari adalah refleksi…hitungan tahun adalah refleksi besar, apalagi windu, dekade,bahkan abad. Selamat merenung…

  3. Kata emanuel subangun, kurang lebihnya bgini, stiap kita dalam melihat hal itu selalu ada yang tidak luput, ada blind spot, yang itu tanpa kita sadari. Bagaimana bung, kau memaknai lalunya masa menjadi hikmah???

    salam kenal.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s