Sebuah Nama, Sebuah Cerita

Sebelum saya memulai postingan ini, perkenankan saya untuk terlebih dahulu memohon maaf pada Akang-akang di Grup Peterpan dan juga Musica Studios, karena saya dengan telah sadar memplagiasi judul album Peterpan yang terakhir. Dan, ini saya akui memang dilakukan atas dasar sensasi, agar judul posting saya langsung nendang tentunya. *hehehe*

 

Tersebutlah seorang kawan, sebut saja namanya Riyan (bukan nama sebenarnya). Sederhana orangnya, bahkan beberapa kawan menyebut tampilannya cenderung jadul (jaman dulu alias kuno). Tapi, bagi dia penampilan modis bukanlah segala-galanya, ada hal yang lebih penting bagi dia: idealisme. Ya, idealisme, sesuatu yang amat mahal untuk ukuran mahasiswa saat ini. Seringkali pula dia menyatakan bahwa karena idealisme-lah dia masih mampu berdiri sebagai seorang manusia hingga saat ini.

 

Untuk ukuran mahasiswa, bisa dikatakan IP-nya menengah, tidak terlalu cerdas, namun juga tak mungkin dikatakan bodoh. Namun, satu hal, dia cukup vokal untuk bersuara di depan kelas. Meski, seringkali apa yang dikatakannya common sense, dia tidak begitu peduli. Sedang, untuk organisasi, kesibukan dia cukup banyak dengan amanah strategis di beberapa organisasi yang diikutinya.

 

Riyan adalah tipikal mahasiswa yang sederhana, namun bagiku dia adalah tipikal sahabat yang baik. Orang yang asyik diajak ngobrol, mulai dari hal ringan seperti sepakbola, politik hingga keIslaman. Andai boleh sedikit hiperbol, wawasannya cukuplah komplit, meski tentunya tak semua hal dipahami secara mendalam. Intinya, dia kawan yang baik tuk diajak diskusi.

 

***************

Hari ini, secara tiba-tiba dia datang membawa wajah murungnya. Tanpa ditanyakan, dia bercerita akan dilema yang dihadapinya. Bahwa, dia pernah menyukai seorang cewek. Dahulu sekali mereka pernah dekat, amat dekat. Akan tetapi, selama hubungan tersebut berjalan, dia memahami bahwa cewek tersebut tak pernah mampu menafsirkan bahasa tubuhnya. Dia menyukai cewek tersebut, sangat, tapi dia amat pantang untuk menyatakannya lewat lisan. Dia ingin keyakinannya akan cinta diwujudkan lewat perhatian dan segala prioritas waktunya, cukup itu. Sayang, ketidak pahaman dan ketidak sabaran dari cewek tersebut berbuntut perpisahan, cewek itu pun pergi dari “kehidupannya”.

 

Saat cewek tersebut pergi,  lalu diketahui “jadian” dengan seorang kawan Riyan sendiri. Meski kecewa, Riyan berusaha tidak ambil pusing. Dia berusaha tidak perduli dengan apa yang terjadi pada cewek itu, dan memilih menjalani kehidupan dan kesibukannya yang sudah cukup untuk mencekik hari-harinya.

 

Waktu pun berlalu dengan cepat. Beberapa hari lalu, cewek tersebut mendadak mendekati Riyan kembali. Riyan tak menaruh kecurigaan apa-apa. Hingga, akhirnya Riyan mengetahui sebuah fakta penting: bahwa cewek tersebut mendekati Riyan setelah putus dengan pacarnya itu. Riyan pun merasakan kekecewaan yang amat dalam, dia merasa hanya sebatas tempat pelarian cewek tersebut. Karena dahulu pun cewek tersebut pernah melakukan hal yang sama.

 

Di satu sisi, sebagai seorang sahabat yang pernah menyukainya,  Riyan ingin menjadi sahabatnya kembali. Namun, sebagai laki-laki dia tentu tidak ingin harga dirinya terinjak-injak kembali dengan menjadi (maaf) tempat sampah cinta.

 

Awalnya, saya cukup tertegun, berdiam diri sejenak tuk menginternalisasi apa yang dirasakan Riyan. Saya mulai memahami ada dilema yang amat raksasa dalam dirinya, dilema antara seorang sahabat dan juga sebagai seorang laki-laki yang ingin dihormati.

 

Jujur saja, saya yang memang tidak berpengalaman dengan masalah ini. Akan tetapi, ada arogansi laki-laki yang ada pada diri saya sehingga saya pun memberikan saran, “Sudahlah kawan, lupakan saja perasaanmu itu. Dirimu adalah lelaki, karena itu dirimu bukanlah pilihan, dirimu adalah pemilih.” jawaban yang singkat, seraya berharap dia kan mencernan maknanya dalam-dalam.

 

Aku lelaki bukan tuk dipilih…

Begitu lirik lagu Iwan Fals beberapa tahun lalu. Saya amat yakin, banyak yang kan tidak sepakat dengan statemen arogan tersebut. Namun percayalah, di luar sana ada ratusan, ribuan, bahkan miliaran laki-laki yang amat arogan menjaga kehormatan perasaannya dengan prinsip itu. Mereka ingin memilih, akan tetapi sekali-kali tidak ingin jadi pilihan.

 

Sebelum berpisah, sebenarnya saya ingin sekali menegaskan pada Riyan untuk tidak usah memikirkan cewek itu. “Lupakan saja kawan! Ada amanah lain yang begitu memerlukan kontribusimu ketimbang sekedar memikirkan dia.” Sayang, kata-kata itu hanya sampai sebatas tenggorokan.

 

 

Ada banyak orang yang menutup dirinya

Dan berdiri kokoh layaknya karang yang tak tergoyahkan

Ada banyak orang yang tak ingin kelemahannya tersiar

Dan berusaha tampil perfeksionis dimanapun dia berada

 

Akan tetapi,

Tak ada satu pun orang yang akan mengelak bahwa ada kelemahan yang dimilikinya

5 thoughts on “Sebuah Nama, Sebuah Cerita

  1. saya baca postinganmu sambil denger lagunya jordin sparks with tattoo…

    ga ada hubungannya sie,tapi saia bisa merasakan kegundahan riyan …

  2. hanya sekedar blogwalkin’ doank, Mas…
    BTW, itu cerpen atau kenyataan to, Mas Zul? asyk tuh kalo dibuat cerpen,, gaya bhsanya itu lho…
    Nitip link weblogQ mas,
    http://www.oramutu.co.cc/

    Ya, sama2, makasih buat kunjungannya…
    Gaya bahasa saya unik? haha, bisa aja….

    Cerita itu 80% fakta kok…😀

  3. asyik juga…hehehehe biarkan cinta berlalu masih ada cinta lain yang bernilai telah menunggu

  4. tp cinta pun bsa mglhkn sglx mz ..
    hohohow ..
    .
    .
    atda hubunganx gga iah .. ?

  5. Riyan adalah… hmmm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s