Jilbab, Identitas dan Kebodohanku

jilbab

jilbab

Hari Jumat (12/12) lalu memang hari yang amat melelahkan. Setelah jenuh dengan perkuliahan yang menguras stamina otak: Periklanan dan Etika Komunikasi (karena harus berdiskusi terus menerus), tubuh ini masih harus menerima kenyataan ada beberapa agenda mendesak yang harus diselesaikan hari ini juga, seperti: persiapan promosi UGM-UNY ke sekolah, persiapan kajian malam di Budi Mulia dan juga rapat persiapan PEMIRA UGM. Ini belum termasuk tuntutan dari seorang kawan untuk dikunjungi (lebih tepatnya minta dicek laptopnya). Begitu padatnya hari ini, aku sampai lupa ada beberapa tugas akhir kuliah yang belum dikerjakan. Apa boleh buat? Memang harus ada yang dikorbankan saat ini mungkin tugas kampus lah yang harus jadi korban.

Di sela-sela kepadatan ini, mendadak Mbak Tifa (rekan di IMM UGM) menghubungiku, seraya meminta kehadiranku di Presentasi Final Festival Film Dokumenter (FFD) di Benteng Vredeburg. Berhubung sudah berkomitmen untuk bergabung dengan tim Mbak Tifa, jadwal yang seharusnya dipakai untuk rapat mempersiapkan PEMIRA, mendadak kubatalkan untuk datang ke acara presentasi ide film dokumenter kelompok kami.

**********

Nah, dalam FFD kali ini, aku bersama Mbak Tifa dan Mbak Ratih (Kom UGM ’05), memasukkan dua proposal. Proposal pertama berbicara tentang multikulturalisme di daerah Bangka Belitung (daerah asal Andrea Hirata) terutama di sekitar pusat penambangan timah konvensional. Sedang, proposal kedua berbicara tentang Jilbab Warna-Warni, yaitu tentang realita keragaman penggunaan jilbab di kalangan muslimah. Kebetulan proposal kedua inilah yang harus aku dan Mbak Tifa presentasikan.

Saat presentasi di depan juri dan audiens lainnya, kami berargumen bahwa realitanya ada keragaman penggunaan jilbab di lapangan. Jilbab yang dipahami secara syariat Islam, atau mungkin sekedar fashion bagi kebanyakan lainnya, sebenarnya tanpa sengaja (atau mungkin disengaja) kini membentuk identitas penggunanya.

Jilbab sebagai identitas tersebut memang penuh nilai. Spesifikasi jilbab tertentu (semisal warna , bentuk atau ukuran tertentu) bisa jadi merupakan identifikasi kelompok tertentu. Kita tentu tidak bisa berbohong, bahwa di lapangan sana ada kelompok Islam yang mengidentifikasi muslimahnya untuk berjilbab dengan ukuran segini, bentuk ini, atau warna seperti ini. Jilbab menjadi ideologis sederhananya.

Saat jilbab telah menjadi identitas dan bersifat ideologis. Tanpa disadari pula akan terjadi sekat-sekat antara gerakan komunitas muslimah. Muslimah yang berjilbab kecil (baru sebatas lilitan di leher) tentu akan merasa rikuh ketika harus berinteraksi dengan komunitas jilbab besar. Begitu sebaliknya. Itulah kenapa, semisal, di berbagai organisasi di kampus, ada komunitas muslimah berjilbab tertentu yang mampu menguasai organisasi tersebut. Sehingga, seakan-akan ada tembok pembatas untuk muslimah dengan versi jilbab berbeda untuk masuk ke dalamnya.

Kemudian, muncul berbagai tanggapan dari audiens dan juri. Mulai dari yang bertanya status jilbab itu sendiri yang tentu dengan tegas kami jawab WAJIB (kami tidak bermain-main untuk masalah ini). Hingga, pertanyaan-pertanyaan membingungkan, semisal definisi jilbab bila ternyata harus beragam, aspek multikulturalisme dan pluralisme dalam penggunaan jilbab sebagai pemicu konflik, detail hubungan antara jilbab beserta gerakan Islamnya dan sebagainya. Satu hal yang amat ku sesali bahwa banyak jawaban yang ku berikan justru debatable, atau bahkan sangat tidak akademis (ilmiah). Di akhir tanya-jawab, entah lucu atau tidak, mereka secara serentak tertawa saat diriku mengucapkan lafadz Astaghfirullah.Ada apa ini dengan ini semua?

Seakan-akan ada Dejavu, karena beberapa hari lalu saat workshop, banyak pembicara yang dengan begitu entengnya berbicara tentang Tuhan, tanpa merasa ada faktor ke-Maha-an dari Tuhan yang harus dihormati. Sepertinya ruang ini memang amat mem-profan-kan posisi Tuhan dan agama.

**********

Mengingat hari itu, jelas mengingat betapa bodohnya diriku akan ilmu agama. Betapa bodohnya, tak mampu memberikan penjelasan Islam kepada orang-orang tersebut. Orang-orang yang “maaf” mengaku Islam, namun begitu pedenya mengakui tak lagi menjalankan shalat. Mungkin kalau mau berkoar-koar berdakwah, inilah jalan dakwah yang harus ku jalani. Karena di sinilah komunitasku seharusnya (komunitas praktisi komunikasi). Tapi, apa boleh buat? Amunisiku memang masih melompong saat ini.

Masih teringat dengan obrolanku dengan adik kelasku beberapa hari lalu. Andai aku ingin jadi pemikir liberal dan sekuler. Aku minta dia mendoakanku agar cepat bertaubat. Nah, mungkin ini setapak jalan yang kan menjadi awal dari semua itu. Naudzubilah min dzalik…

7 thoughts on “Jilbab, Identitas dan Kebodohanku

  1. yg jilbab pink itu UUL ya??

    Uul siapa ya? ga kenal… asal moto aja sih

  2. emang.. kita tidak bisa memilah.. siapa benar siapa salah..
    Yang penting kita harus taqwa pada ALLAH swt..
    he3..

    Amien…. Amien…

  3. lah??mank antum ga satu kelas ma uul(Nurul) ya…

    dia kan komunikasi 2006 juga…

    Iya, satu kelas… tapi, itu bukan dia kok… itu anak IMM UMY kalo ndak salah

  4. mas Zulfi….kita (kaum laki-laki) wajib memilih calon istri yang berjilbab gak?

    Bagiku itu wajib, yo..
    Maklum kita kan mencari kebaikan ga cuma di dunia, tapi juga di akhirat…
    Insya Allah, minimal dengan berjilbab, ada kewajiban dari istri kita yang telah dia selesaikan

  5. Jadi pesan utama yang mau disampaikan sama filmnya itu apa ya? Ndak mudheng saya =D.
    Idenya oke anyways..

  6. Salam kenal dhe Zulfi

    Terima kasih atas koreksi parpol-nya, yang saya maksud daftar calon peserta salah paham saya. Semoga dibalas dengan kebaikan yang lebih banyak (tulisan saya sudah saya ubah sedikit, tanpa mengurangi maksud isišŸ˜‰ )

  7. JIlbab oh jilbab…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s