Waktu-waktu Ini Tak Mudah tuk Dilalui…

Beberapa malam lalu, selepas beraktivitas seharian di kampus dan sangat capek. Saya masuk ke Warung Tenda Biru, sebuah warung makan langganan saya di daerah Gejayan, untuk mencari makan malam. Tanpa sengaja, di situ pula saya bertemu dengan segerombolan adik-adik kelas di SMA dulu.

Kalau boleh sedikit merendahkan, selama SMA mereka tak jauh-jauh dari stereotip biang masalah di sekolah. Dengan track record sering mbolos, merokok di sekolahan, melawan guru, berkata-kata tidak senonoh, bahkan tak jarang berkelahi. Sepertinya, sah-sah saja untuk mengklaim hal tersebut.

Malam itu, kondisi badan yang sudah sangat capek, membuat saya agak malas untuk menyapa mereka. Namun, sebagai kakak kelas, saya mencoba untuk tetap wajar dengan menyapa mereka, sembari berkhusnudzon mereka pun akan bersikap baik pula.

Ternyata keyakinan saya bertepuk sebelah tangan. Mereka yang disapa dengan baik, justru tertawa-tawa (dengan nada merendahkan) dalam menjawabnya. Saya tetap mencoba tenang. Karena kebetulan ada program promosi kampus ke SMA, maka saya pun mencoba mengganti arah pembicaraan dengan menawarkan kesediaan mereka untuk bergabung. Ternyata tidak ada yang berbeda, jawaban yang keluar dari lisan mereka kembali berulang dengan hal-hal yang tidak perlu diucapkan.

Saya kecewa, dan memilih segera pulang ke pondok untuk kemudian beristirahat. Biar saja…

*********

Jujur saja, saya seringkali tidak habis pikir dengan kondisi kawan-kawan sesama mahasiswa, khususnya di kampus saya: UGM. Saya amat yakin ada begitu banyak mahasiswa sejak dari rumah diberi amanah besar untuk menuntut ilmu di kampus ini. Namun, yang terjadi di lapangan justru sebaliknya, masa kuliah menjadi tidak lebih dari sekedar perpanjangan masa bermain masa SMA. Siang hari waktu kuliah tidak digunakan dengan serius, bahkan serin masuk kuliah hanya tuk sekedar absensi (atau malah titip absen). Malam hari pun tak jarang habis dengan acara nogkrong bersama kawan-kawan.

Ketidak seriusan ini dalam kacamata saya tak hanya terjadi di konteks kuliah, namun juga dalam konteks berorganisasi. Sudah lazim rasanya, bila sekarang organisasi-organisasi mahasiswa semakin sepi ditinggal mahasiswa sendiri. Kalau terus menerus seperti ini kapan kita siap untuk mewarisi negeri ini, kawan??

*********

Sebenarnya apa yang terjadi dengan semua fenomena itu? Apa karena keadaan ekonomi yang mapan membuat mereka berleha-leha? Apa karena godaan duniawi yang memang terlalu besar? Atau justru karena memang tak ada orientasi masa depan yang mereka perjuangkan?? Entahlah…

Andai mereka (mungkin termasuk saya juga) lebih sering lagi membaca biografi tokoh-tokoh besar, tentu tidak akan seperti ini jadinya. Tokoh besar manapun, adalah tokoh yang memang benar-benar amat menghargai waktu. Mungkin 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu bagi mereka tidak cukup. Mereka ingin waktu yang lebih banyak untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Seorang Imam Nawawi misalnya (CMIIW), dalam sebuah kisah disebutkan tidak pernah tidur (dengan sengaja) selama bertahun-tahun. Hal ini dikarenakan rasa cintanya yang amat besar dengan ilmu sehingga dia ingin terus-menerus membaca. Dia tidak ingin sedetik pun melewatkan waktunya untuk hal-hal yang tidak berfaedah. Hingga, bahkan untuk tidur pun dia amat menguranginya.

Senada dengan Imam Nawawi, Harun Yahya (Adnan Oktar) juga berani bertindak “gila” seperti itu. Keyakinannya akan kebusukan sekulerisme, liberalisme dan evolusionisme membuat dia gerah mencari ilmu. Bila sepanjang malam diisi dengan membaca buku, siang harinya dia berdiskusi dan berdebat dengan siapapun demi keyakinannya akan Allah dan Islam. Bahkan, saat akhirnya dia dijebloskan ke penjara oleh pemerintah Turki, dia tidak mengeluh. Justru, dari penjara tersebut gerakannya untuk melawan sekulerisme bersama rekan-rekannya makin massif. Proses ini mungkin mirip dengan apa yang dialami Buya Hamka di era orde baru, dipenjara namun justru mampu menelurkan karya monumentalnya: Tafsir Al Azhar.

Mungkin ada banyak lagi tokoh-tokoh yang bisa dijadikan contoh untuk bagaimana menghormati waktu. Namun, satu hal, bagi tokoh-tokoh besar manapun waktu memang amat berharga. Bagi mereka, waktu harus dihargai karena tak dapat dibeli dengan sekarung emas sekalipun. Seperti kata Hasan Al Banna, “Waktu yang diberikan oleh Allah itu sempit, sedangkan amanah kita amat sangat banyak.”

2 thoughts on “Waktu-waktu Ini Tak Mudah tuk Dilalui…

  1. password ada dibelakang jaket sma-mu

    siap… thanks juga

  2. nukan jaket sma tp jaketnya rollsozzist🙂

    maksudnya apa nih??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s