Sore yang Menegangkan di Malioboro

Rasa deg-degan akan kehilangan sesuatu tak ayal membuat kita kehilangan akal sehat. Begitu pula dengan diriku sore itu di Malioboro.

**********************

Sore yang seharusnya terasa fun untuk hunting foto di seputaran Malioboro, mendadak menjadi tegang saat aku sadar bahwa kunci motorku tertinggal di motor. Padahal, saat itu motorku terparkir di stasiun tugu, sedangkan diriku terpaut sekitar 2 km jauhnya di selatan, di pelataran Benteng Vredeburg. Artinya, ada jarak yang cukup jauh untuk menjangkau motor itu, jarak yang tidak dekat untuk ukuran seorang pejalan kaki yang dikejar kegentingan.

Tapi, apa boleh buat. Tak ada kendaraan lain untuk kembali ke sana. Becak yang ku lobi pun hanya mau mengantar bila disodori angka sepuluh ribu rupiah, angka yang amat keterlaluan menurutku! Aku pun hanya bisa mengumpat dalam hati, merutuki betapa sialnya sore itu.

Tanpa membuang waktu, aku menyusuri kembali ramainya jalanan Malioboro. Dengan melawan arus kendaraan, aku kembali ke stasiun tugu tuk memastikan bahwa motorku tetap berada di sana meski kunci starter itu menggantung di tempatnya. Aku hanya bisa berpikir, alangkah bahagianya seorang maling motor yang bisa menemukan motor tersebut. Jikalau membobol kuncinya saja mereka bisa, apalagi bila kuncinya tergantung di sana? Ini jelas rejeki nomplok yang tidak terkira…

Perasaan akan kehilangan tentu terasa pahit, hingga perjalanan menuju ke stasiun tugu melewati Malioboro seakan perjalanan berjam-jam. Lampu penerang jalan berwarna putih yang berjejer sepanjang Malioboro seakan berderet tak berujung. Toko dan mall sepanjang Malioboro pun bertindak sama, terus menerus muncul di kiri-kanan pandanganku seakan tak pernah habis. Begitu pula dengan para penjaja di sepanjang jalan, tak henti-hentinya melambai-lambai. Aku pun menjadi manusia paling egois saat itu, tak peduli sekelilingku, dan hanya menginginkan tuk segera mencapai parkiran Stasiun Tugu.

Maka aku pun mulai berlari, sembari terus berharap motorku masih dapat tertolong. Semoga…

Ingatanku pun melayang, mengingat kenangan akan motor itu, motor kesayanganku. Supra-X abu-abu itu merupakan motor pertama yang dibeli bapakku pasca kembali dari tempat kerjanya yang nun jauh di Kupang (Ibukota Nusa Tenggara Timur) menuju Kendal, sebuah kota kecil di barat Semarang. Motor itu selama bertahun-tahun menemani perjalanan nglaju bapakku antara Kendal-Magelang yang jauhnya hampir 250 km (pulang-pergi). Aku yakin, motor itu tentu amat berarti buat bapakku. Meski kini bapak lebih sering menggunakan mobil dinas dari kantor, tentu ada banyak kenangan darinya yang tak mungkin tergantikan.

Begitu pula denganku. Motor itu terlalu banyak memberi kenangan dan manfaat buatku. Nyaris selama 3 tahun menggunakannya (karena diwariskan padaku di penghujung kelas 2 SMA sekitar tahun 2005), motor itu selalu menemaniku. Menemani berbagai petualanganku, mulai dari sekedar bermain-main menghabiskan waktu (layaknya anak muda lainnya), hingga petualanganku mengejar cita-cita, baik lewat pintu dakwah maupun kuliah.

Meski kini, motor itu sering tidak ku perhatikan: jarang dicuci, ada beberapa onderdil yang hilang dan tidak ku perbaiki. Aku tentu akan amat menyesal dan sedih andai dia benar-benar hilang.

**********************

Setelah berlari-lari kecil menyusuri Malioboro selama kurang lebih 10 menit. Akhirnya, aku sampai di tikungan utara Malioboro. Tak ada hal lain yang ingin ku pandang selain posisi parkir motorku tadi.

Alhamdulillah, Subhanallah, Supra-X abu-abu itu masih terdiam bisu di sana. Kali ini, aku tertolong lagi, entah sampai kapan hal ini akan berulang. Namun, andai dia bisa berbicara, mungkin dia akan mengumpat habis-habisan melihat kesembronoan tuannya saat meninggalkan kunci starter.

Akhirnya, tukang parkir yang melihatku ngos-ngosan pun tanpa curiga sedikitpun langsung memberikan kunci motorku. Seraya berkata, “Udah tak selamatkan, mas”. Betul, betul mas… andai anda ndak sigap menyelamatkan kunci itu, aku tak tahu lagi apa jadinya. Makasih banyak…

gambar diambil dari sini

4 thoughts on “Sore yang Menegangkan di Malioboro

  1. untunglah…

    tukar link yuk…

    Tukaran Link? oke..oke…

  2. wew.. tau gitu yo aku nduwe stok foto malioboro…
    sungguh sangat nikmat ya kak punya motor kesayangan… same like me…

  3. seandainya saya di sana,.. udah tak embat motornya… (*berazzam bisa punya motor sendiri)…

    Eh, hati2 dg niat buruk loh…. hehe… nanti kalo kesampean gimana??😀

  4. makanya.. tiap kali parkir.. siapkan ngomong ke tukang parkirnya begini: “Pak/Mas, nanti kalo misalnya kunci motor saya ketinggalan…, tolong diselamatkan yaa??” …😦😦 ???😆😆

    Boleh, Pak,, tapi bayarnya dobel ya? hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s