Modal Senyum Jadi Pemimpin, Apa Pantas?

“Jika jadi anggota saja tidak baik, bagaimana bisa menjadi pemimpin yang baik?”

(Ust. Sus Budiarto, Psikolog UII)

Untuk kedua kalinya, saya menggunakan petikan kata-kata dari Ust. Sus Budiarto, seorang psikolog yang juga alumni Pondok Budi Mulia, untuk mengawali tulisan saya. Kebetulan memang, ketika ide tulisan tercetus di kepala saya, ketika itu pula kata-kata beliau mengiang di kepala. Otomatis pula, saya pun mencoba meramu kedua ide tersebut untuk disatukan dalam tulisan ini.

Poin kuncinya adalah bahwa saya adalah orang yang amat percaya bahwa kepemimpinan bukanlah bawaan lahir, kepemimpinan hadir dari proses. Kepemimpinan adalah puncak dari proses pemaknaan akan kehidupan dalam diri seseorang. Seorang pemimpin yang baik, tidak dilahirkan serta merta, melainkan hadir dari proses yang panjang dan berat, bahkan kadangkala hingga mempertaruhkan nyawa sekalipun.

Nabi Agung kita, Nabi Muhammad tidak dilahirkan serta merta sebagai seorang pemimpin agung. Beliau lahir sebagai manusia biasa, kemudian berproses sejak dini untuk menjadi pemimpin tangguh. Ditinggal Ayah dan Ibunya sejak dini, kecil-kecil hidup mandiri dengan membantu pamannya Abu Thalib, menjadi pedagang yang terkenal dengan kejujuran dan kepandaiannya, menikah dan menjadi suami yang baik bagi Khadijah, hingga menjadi Al Amin di mata masyarakat Makkah ketika itu menjadi jejak sejarah proses panjang beliau sebelum akhirnya menjadi nabi. Jadi tak perlu diperdebatkan lagi, bahwa beliau adalah individu yang jauh lebih dahulu masyhur akan kejujuran dan tanggungjawabnya, sebelum akhirnya memanggul amanah agung sebagai seorang nabi sekaligus pula pemimpin bagi seluruh pengikutnya.

Dunia militer pun tak berbeda jauh. Seorang jenderal yang tampak gagah dan kharismatik di depan para anak buahnya juga melewati proses panjang untuk sampai pada posisi tersebut. Mengawali karir dari bawah, sebagai perwira rendahan yang disuruh-suruh, bahkan tak jarang juga ditekan secara fisik maupun batin menjadikan mereka tangguh, baik mental maupun fisiknya. Jangan dilupakan pula, proses menuju tingkatan jenderal bukanlah proses yang instan, minimal puluhan tahun perlu diarungi. Belum lagi, ada proses seleksi alam yang amat ketat, hingga hanya perwira terpilih-lah yang dapat mencapai posisi tersebut.

***************

Saya berbicara hal ini, selain untuk sedikit bermuhasabah akan diri sendiri, juga untuk bermuhasabah akan kepemimpinan nasional beberapa saat lagi. Dengan waktu pemilu yang semakin dekat, saya dan bahkan anda tentu akan semakin bingung memilih siapa pemimpin kita ke depannya.

Seringkali, ada tokoh di dekat kita yang jelas-jelas punya kontribusi besar untuk bangsa dan negara, namun kurang populer. Di lain sisi, justru ada tokoh yang datang dari negeri antah-berantah, meledak popularitasnya sebagai calon pemimpin hanya karena senyuman dan rangkaian kata mutiaranya menohok mata dan telinga kita tiap harinya, baik di televisi, radio, surat kabar, maupun baliho. Sepertinya, tak perlu sampai saya tunjukkan contoh konkretnya. Saya yakin anda akan langsung paham contoh-contoh yang saya maksudkan.

Saya tak tahu, apakah ini adalah realita keadilan demokrasi yang berkembang di negeri ini. Dimana tokoh yang kontributif akan kalah di mata masyarakat ketimbang tokoh yang populer. Mungkin hanya pemilu 2009 kelak yang kan membuktikan.

Selain itu, saya juga tidak tahu akan ada berapa banyak lagi calon pemimpin nasional lain yang akan menokohkan diri lewat senyuman manis dan rangkaian kata di media. Namun, satu hal yang saya garis bawahi, saya amat yakin bahwa pemimpin haruslah hasil output dari proses yang panjang. Maka dari itu, selagi belum bisa membuktikan diri sebagai tokoh masyarakat yang kontributif dan solutif, saya rasa mundur adalah tindakan yang bijak. Bukankah seperti itu?

gambar diambil dari sini

2 thoughts on “Modal Senyum Jadi Pemimpin, Apa Pantas?

  1. Hasil penelitian badan intelejen AS, th 2025, 3 negara yg akan maju pesat adalah Turki, Iran, dan Indonesia.

    InsyaAllah saya menjadi bagian dari perubahan itu akh.🙂

  2. yang pasti tidak ada satupun di dunia ini seorang pemimpin yang tidak dilahirkan. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s