Udang Di Balik Batu Iklan Politik PKS

Minggu-minggu ini suhu konstelasi politik nasional beranjak makin panas. Beberapa partai politik semakin gencar melakukan aksi sosialisasi politik. Partai Demokrat misalnya, menggunakan momentum 4 tahun kepemimpinan SBY-JK untuk mengatrol kembali opini publik lewat iklan politik besar-besaran. PDI-Perjuangan juga tak ingin ketinggalan, momentum sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober kemarin dibarengi dengan peresmian nomor urut PDI-P (nomor 28), sekaligus menjadi tonggak peluncuran banjir iklan politik PDI-P di berbagai media.

Namun bagi saya, gencarnya iklan kedua parpol raksasa tersebut tidak sebanding dengan aksi sosialisasi politik atau iklan politik yang dilakukan oleh partai kader yang berlabel “Bersih dan Peduli”, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Lalu, sebenarnya apa yang terjadi pada iklan PKS hingga mengundang banyak perhatian publik?

Menurut saya, yang menarik adalah kenyataan bahwa iklan politik PKS ini mendompleng tiga nama besar tokoh nasional, yaitu mantan Presiden Soekarno, pendiri Nadhatul ‘Ulama KH Wachid Hasyim dan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Tokoh-tokoh yang di samping menjadi tokoh nasional, juga menjadi ikon kelompok-kelompok tertentu. Andai, tak menjadi ikon, saya yakin permasalahan ini takkan mencuat hingga ranah publik. Sederhana bukan?

Saya tidak yakin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dari pembacaan mendalam saya akan kasus ini, sekilas saya melihat ada beberapa kesalahan mendasar yang dilakukan oleh PKS.

Pertama:

Siapapun mafhum bahwa (secara tidak langsung) tokoh-tokoh tersebut memiliki afiliasi kepada partai tertentu. (Perhatikan! Ini secara tidak langsung!) Soekarno adalah tokoh yang begitu dekat dengan konstituen PDI-P dan juga partai-partai lain yang berbasis marhaenisme. KH Wachid Hasyim yang notabene pendiri NU, tak mungkin dilepaskan dari sepak terjang beberapa partai berkonstituen warga NU seperti PKB, PKNU dan PPP. Terakhir, KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah, otomatis pula takkan bisa dilepaskan dari tindak-tanduk Muhammadiyah, yang kini (konon) banyak berafiliasi ke PAN atau mungkin PMB.

Nah, jika orang awam saja mafhum afiliasi ketiga tokoh tersebut. Mengapa harus ketiga tokoh tersebut yang dijadikan ikon iklan politik PKS? Tidakkah PKS berpikir akan merebut ikon kelompok lain? Atau mungkin, kenapa tidak mencoba mengambil tokoh-tokoh nasional lain yang lebih “bebas nilai”? Masih ada Bung Hatta, Buya Hamka atau malah Hasan Al Banna yang jelas-jelas menjadi inspirator gerakan PKS untuk dijadikan ikon. Tak heran bila, tindakan ini, saya rasa makin memperjelas posisi PKS yang mengharap terjadinya migrasi suara dari ketiga golongan besar tersebut. Lagipula sudah lazim terjadi, bahwa dalam politik semua hal menjadi permisif, apalagi sekedar bersilat lidah membela diri yang dilakukan oleh petinggi PKS.

Kedua:

Andai memang konsep kepemimpinan yang ingin dikedepankan seperti yang diklaim oleh Anis Matta. Mengapa tidak cukup mengutarakan konsep kepemimpinan tersebut? Tanpa harus mencatut nama besar dan juga visualisasi mereka. Dalam dunia iklan pun lazim ditemui iklan-iklan yang tetap eksis membawa pesan dengan menarik tanpa harus menonjolkan ikon (endorser) tertentu. Iklan rokok misalnya, harus diakui mampu membawakan pesan dan nasehat menggelitik tanpa harus membawa ikon-ikon tertentu.

Ketiga:

Dalam hal ini saya memposisikan diri sebagai kader Muhammadiyah. Bahwa, andai memang KH Ahmad Dahlan diposisikan sebagai tokoh nasional. Tentu, PKS pun tetap tidak bisa serta merta mencatut nama beliau. Kenapa tidak ada permohonan ijin di awal, misalnya? Muhammadiyah saja tidak pernah membawa-bawa nama besar KH Ahmad Dahlan untuk kepentingan politik, mengapa harus ada kelompok (baca: partai) lain yang memaksakan diri untuk mendorongnya?

Poin pentingnya adalah bahwa Muhammadiyah berusaha terus menjaga jarak dengan partai politik manapun. Hal yang sama terjadi pada KH Ahmad Dahlan, dimana pada suatu waktu beliau pernah menolak gagasan Haji Agus Salim untuk menerjunkan Muhammadiyah ke dalam politik. Mungkin menurut beliau, Muhammadiyah jauh lebih baik untuk berjalan di jalur pendidikan dan sosial, cukup di situ! Keputusan yang amat TEPAT. Terbukti, hingga kini amal usaha Muhammadiyah berupa sekolah telah mencapai puluhan ribu, ratusan rumah sakit, ratusan perguruan tinggi, ratusan panti asuhan, dan masih banyak lagi. Dan, pastinya Muhammadiyah akan terus berkontribusi demi bangsa, negara dan Islam. Jadi, apa yang salah dengan pilihan KH Ahmad Dahlan terhadap politik?

Selanjutnya, mohon dipahami bahwa ketika Muhammadiyah seakan-akan tak pernah menggembar-gemborkan nama besar KH Ahmad Dahlan di media. Ini bukan berarti Muhammadiyah tak pernah mengidolakannya. Saya yakin, hingga kini ada jutaan kader Muhammadiyah lainnya yang Insya Allah akan masih dan akan terus mempelajari sejarah dan pemikiran beliau untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan.

*********

Saya yakin, essay ini tentu akan menimbulkan perdebatan. Saya sudah menyiapkan diri untuk itu. Karena saya ingat kata-kata Pak Amien Rais kemarin hari, “Bahwa dalam menulis pun kita harus punya motivasi dan siap dengan konsekwensinya”. Motivasi saya sederhana: ingin membagikan pemikiran dan kebenaran yang saya yakini. Selain itu, saya ingin dengan latar belakang mahasiswa ilmu komunikasi, penikmat wacana politik dan juga seorang kader Muhammadiyah, saya ingin sekali berkontribusi demi persyarikatan.

Terakhir, semoga essay ini bermanfaat dan memberi pencerahan pada siapapun. Amien!

Ini link untuk melihat iklan tersebut di Youtube:

(Versi KH Hasyim Asyari) http://www.youtube.com/watch?v=zxwetdMSldk

(Versi Bung Karno) http://www.youtube.com/watch?v=_3cbjjESM7I

(Versi KH Ahmad Dahlan) http://www.youtube.com/watch?v=_3cbjjESM7I

13 thoughts on “Udang Di Balik Batu Iklan Politik PKS

  1. ehehehe,…

    sip, kita memang ga tau ada apa sebenarnya,..

  2. karena PKS sekarang sadar bahwa ideologi mereka tidak bisa diterima masyarakat Indonesia. jadi, PKS mencomot ideologi2 lain yang lebih populer.
    PKS sekarang bukannya lebih baik dengan membuka diri terhadap perubahan. tapi justru kelihatan inkonsistensinya.
    ini indonesia kita!

  3. haha.. Cuman bisa ketawa saya..😀

  4. benarkah?g tau ya..

  5. bukan udang di balik batu kali zul..tapi emang dah kelihatan benar tujuannya…mau menjaring voters dari berbagai kalangan. namanya juga politik, pinter-pinter atur strategi saja…hehe…

    Heh. Udah diakui to,im?hehe
    Yah, seperti yang kita pelajari bareng2 di kuliah periklanan. Memang iklan tu fungsinya persuasif.

    Kalau udah jelas demi voters dan 2009. Kenapa Anis Matta mengelak ya? Coba digoogling, ada press rilis dr dia tentang iklan tsb. Perhatikan apa yang dia bilang. Berlawanan ndak sama apa yg dirimu katakan. Hehehe

  6. Dah ada hak patennya gak ya?? mungkin PKS sengaja agar citra islam gak terlalu mendominasi. aku juga pernah dengar banyak kader muhammadiah yang lari ke pks karena program liqo’nya partai ini.

    whatever, namanya juga politik, fany!

    Iya, namanya juga politik, semua hal pun jadi PERMISIF… Ragu rasanya untuk mengatakan ada bedanya antara Islami dan tidak Islami

  7. Sengaja merebut dgn se-sadar2nya memang sudah biasa di politik. Jangan memakai ukuran etika orang biasa utk menilai perilaku dalam politik. Jadi, iklan politik PKS adalah sesuatu yang memang sangat SENGAJA dilakukan dgn se-sadar2-nya.
    Jangan terlalu lugu utk menilai hal2 yang berkaitan dgn politik. Anda mahasiswa komunikasi, masak gitu aja gak paham ?
    Komunikasi politik adalah sesuatu yg lain, yg mungkin belum Anda pelajari. Maaf.🙂

    Namun ada nilai ‘mendidik’ juga dari iklan PKS itu; kebiasaan yg sudah mentradisi utk mengklaim tokoh2 itu sbg tokoh milik golongan tertentu saja; ingin dirubah.
    Jadi, nilai postitif dari iklan PKS ini juga musti dihargai. Mendidik masyarakat utk menyadari bahwa tokoh2 tsb juga milik semua anak bangsa.
    Anda terlalu lugu.😆

    Lugu? he3x… Kalo begitu klaim itu ga berlaku pada saya, juga berlaku pada Pak Din Syamsuddin, seorang professor yang juga Ketua PP Muhammadiyah, yang juga memprotes iklan tsb…
    Saya rasa, anda menilai lugu dan tidaknya juga memakai ukuran etika. Dalam Politik, semuanya memang permisif, tapi bukan berarti semuanya dibolehkan kan? apalagi utk ukuran partai yang melabeli diri partai dakwah, tentu harus ada ukuran-ukuran yang berbeda, yang spesial sesuai dengan Islam. Kalo sama saja, terus bedanya apa?

  8. Sudah kita ketahui bersama bahwa PKS yg mengaku partai dakwah itu memang tidak punya etika.

    Waduh, kok saya jadi ga paham dengan komentar anda… Kasus Iklan ini bukan berarti membuat PKS tidak punya etika loh… karena sepertinya dari komentar anda terkesan nadanya menafikan etika yang dimiliki PKS sama sekali… mohon dikoreksi kalo saya salah

  9. Cukup menarik, memang, iklan PKS…

    Ketika kita melihat PKS, kita patut mengetahui bahwa tidak semua yang dilakukan oleh PKS benar, tetapi juga tidak semua kebijakan partai kontroversial…

    Contohnya, ketika munas PKS di Bali, muncul otokritik dari kadernya sendiri, bahwa tindakan DPP justru melupakan substansi ide yang digelorakan PKS… PKS justru melakukan munas di Bali sementara rakyat Palestina di Gaza justru sedang berjuang… Ini kontradiktif dengan kampanye “One Man, One Dollar” dari PKS.

    Kita patut pula memandang PKS secara lebih objektif, bahwa mereka yang berada di PKS juga bermacam-macam… Bermacam ide, bermacam pemikiran. kadang ketika ada kesalahan sikap PKS, kita justru memandang sinis ideologi partai (partai Islam atau partai dakwah) secara keseluruhan dengan mengabaikan sisi lain. Padahal, sikap politik tak bisa digeneralisasi sampai ke sisi ideologi, karena antara ideologi politik dan langkah strategis di lapangan tentu berbeda, dan dalam realitas politik hal ini seringkali terjadi, tak hanya di PKS.

    Contoh lain, kasus pencatutan tokoh-tokoh nasional, di sini memang perlu kita akui bahwa iklan politik dalam rangka kampanye ini kurang melambangkan fatsoen yang coba dicitrakan oleh PKS. Iklannya benar saja, tetapi nirfatsoen. Saya kurang setuju kalau KH. Ahmad Dahlan dibawa oleh PARTAI POLITIK MANAPUN, tidak hanya PKS. Patut dicatat, Muhammadiyah jangan sampai dibawa dan diseret2 untuk memenuhi kepentingan partai politik manapun.

    Bukan pula PKS, PMB, PAN, PBB, atau partai apapun yang dekat dengan Muhammadiyah…

    Tetapi, hendaknya kesalahpahaman ini segera dikomunikasikan pada level elit… Ini perlu, sebab hubuingan yang terjalin antara kedua belah pihak harus yang terbaik… Ingat, kita sama2 umat Islam, kurang elok kiranya jika sesama umat Islam harus berselisih tajam sementara di luar golongan yang menentang Islam justru semakin dan terkonsolidasi ketika kita terfaksionalisasi…

    Komunikasi politik itu perlu, bukankah begitu Bung?

    Mohon dikoreksi jika keliru.

    Syukran

  10. Politik memang penuh dengan intrik…

    Mudah2an PKS tetap berada pada jalurnya…🙂

  11. Siapapun mafhum bahwa (secara tidak langsung) tokoh-tokoh tersebut memiliki afiliasi kepada partai tertentu.

    Nggak terbalik ya Mas? Bukannya yang terjadi adalah partai-partai [atau ormas-ormas] tersebut yang mengidentifikasikan “diri”-nya masing-masing dengan tokoh-tokoh itu? Kan beliau-beliau itu hidupnya jauh sebelum partai-partai itu ada?

    Barangkali masih bisa diterima kalau penjelasannya adalah tokoh-tokoh tersebut berafiliasi kepada ormas, dan lalu ormasnya masing-masing menjaga jarak dengan politik praktis…

    CMIIW

    Thx buat masukannya… Iya, maka dari itu, mungkin KH Ahmad Dahlan pun bakalan nangis kalo sekarang tahu namanya dipakai utk komoditas politik…

  12. ketika kita debatkan iklan PKS ,,maka tujuan dari Iklan PKS ini berhasil,,, ukuran bahwa IKLAN itu berhasil adalah adanya perhatian berlebih dari masyarakat..
    Kita harus sadar bahwa dalam tubuh PKS terdapat anak2 muda berpendidikan yang dalam pola perjuanganx dan pemikiranx berbeda dengan partai lama yang keputusanx lebih banyak di tentukan orang2 TUa,,(dalam pikiran saya orang2 muda ini akan mendobrak strategi2 lama yg usang)
    Kita tunggu saja pasti nanti banyak gebrakan anak2 muda PKS yang mengundang kontroversi…..
    aku liat di situ nilai jual mereka.!!

    Iya, menggunakan kontroversi untuk mendongkrak popularitas… Ga ada bedanya dengan jurnalisme kuning nantinya, jurnalisme yang LEBAY….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s