[Seminar Equality ’08] Ayo Galakkan Tulis-Menulis!!

Hari sabtu ini aku berkesempatan untuk mengikuti Seminar Nasional Equality 2008. Seminar yang bertajuk “Tulisanku, Tombak Kemajuan Bangsaku” ini menghadirkan nama-nama yang beken tingkat Nasional. Antara lain: Pak Amien Rais (ada yang ga kenal? angkat tangan ya!), Pak Fajroel Rahman (calon presiden independen) dan juga Pak Hernowo (penulis buku sekaligus Direktur Mizan Learning Center).

Awalnya, diriku sempat berniat untuk membatalkan kehadiran. Maklum malamnya sampai larut harus menghadiri rapat koordinasi di IMM cabang Bulaksumur-Karangmalang. Meski, akhirnya pulang duluan (tepatnya kabur duluan), tetap saja rasa kantuk masih melanda dengan hebat di pagi harinya. Namun, berbekal sentilan pedas dari hati nuraniku sendiri, bahwa ketika diriku ndak berangkat itu sama saja dzolim, dzolim terhadap uang pendaftaran (10.000 rupiah) dan juga dzolim terhadap Izza yang merelakan waktunya untuk membelikanku tiket. Maka, dengan agak berat hati plus ketar-ketir karena telat, aku pun menggenjot Supra-ku menuju University Center, UGM, tempat seminar tersebut.

****************

Sampai di sana, hanya dalam hitungan beberapa saat acara pun dimulai. Alhamdulillah, berarti aku tidak telat sama sekali. Padahal di jadwal ditulis acara mulai jam 7.30, dan aku baru tiba pukul 8.30. Berarti mental ngaret ala Indonesia sudah menyebar dimana-mana, dan tentunya buat orang seperti aku hal tersebut seringkali menguntungkan.hehehe

Pembicara pertama, Pak Amien Rais, seperti biasa dengan gaya yang ke-bapak-annya (menurutku) memaparkan bagaimana pentingnya tulis-menulis bagi kalangan kaum muda, khususnya bagi kalangan yang mengaku diri sebagai intelektual muda. Bahwa intelektual muda adalah orang yang hidup dengan membaca secara kontinu, tanpa henti, membaca adalah kewajiban yang tak dapat dielakkan lagi. Selain itu, beliau juga memberikan pendapat bahwa harus ada motivasi yang jelas untuk menekuni dunia tulis-menulis. Entah itu, karena ingin popularitas (ini pragmatis banget), ingin mendapatkan honor hingga niat mulia untuk berbagi kebenaran, semuany sah-sah saja.

Sip, itu dia wejangan dari Pak Amien yang selalu kutunggu-tunggu. Hidup Pak Amien!

Pembicara kedua, tampil Pak Fajroel Rahman. Jujur saja, entah karena TOR dari panitia yang memang menginginkan topik kebangsaan dan politik, atau memang keinginan dia sendiri. Sehingga, (mohon maaf) saya agak kecewa dengan arah pembicaraanya. Dia hanya sedikit menceritakan tentang dunia tulis-menulisnya, selebihnya dia malah seakan-akan “berkampanye”. Mulai dari visinya akan calon presiden independen, masalah nasionalisasi asset-aset bangsa hingga kritiknya akan kebobrokan rezim-rezim presiden pendahulu.

Terakhir, Pak Hernowo dari Mizan. Menurut saya, seharusnya dia yang jadi pembicara inti, mengingat kapasitasnya sebagai editor di penerbit Mizan dan juga track recordnya sebagai penulis puluhan buku best-seller. Pembicaraanya jelas berbobot, mulai dari tips menulis dengan menggunakan otak kanan, bagaimana agar membaca tidak hilang begitu saja (dia menyebutnya dengan konsep “Mengikat Makna”).

Dalam konsep mengikat makna tersebut, dia berhasil menerapkan strategi untuk membaca secara produktif. Artinya apa? Dia selalu menerapkan teknik baca dan tulis secara terintegrasi. Sehingga, selepas membaca sebuah buku atau tulisan, dia selalu menuliskannya kembali secara kreatif (dengan bahasa dia sendiri). Buktinya apa? Buktinya adalah sekitar 34an buku yang kini telah beliau tulis. Padahal buku pertamanya baru muncul pada tahun 2001 saat umurnya 44 tahun. Artinya selama 8 tahun terakhir ini, rata-rata tiap tahunnya ada sekitar 4 buku yang ditulisnya. Nah, luar biasa bukan? Kalau ingin tahu lebih dalam coba beli bukunya. Lagipula buku tersebut juga direferensikan Ust. Fauzil Adhim dalam bukunya Inspiring for Writers.

****************

Alhamdulillah, jadi ternyata tubuh dan kepalaku memang harus dipaksa untuk terus bekerja keras. Andai tadi pagi aku mengikuti nafsu untuk meneruskan tidur, tentu motivasi dari tokoh-tokoh sehebat tadi takkan ku temukan. Dan, mungkin juga posting ini tidak akan pernah ada.

2 thoughts on “[Seminar Equality ’08] Ayo Galakkan Tulis-Menulis!!

  1. Mas Hernowo dosen ane waktu kuliah di jurnalistik. Udah lama gak ketemu dengan beliau. Mas Her ini selaen fandai menulis juga fandai mengajari orang menulis….😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s