Profesionalisme Itu Nomor Satu, Persahabatan Itu Nomor….

Sengaja saya  memilih judul yang agak ambigu, atau bahkan kontroversial. Tentu tidak lain karena saya ingin menarik anda untuk membaca. Maka dari itu, saya harap tak ada yang langsung jump-to-comment sebelum paham benar apa yang saya tulis.

Sepakat? Oke…

Begini ceritanya.

Alhamdulillah, disela-sela rutinitas kuliah dan berorganisasi selama dua bulan terakhir, saya juga mengejar beberapa kegiatan praktis, tepatnya mengikuti lomba. Dua lomba yang saya ikuti adalah hibah penelitian dari fakultas saya (Fisipol UGM) dan juga lomba film indie dari pro-u media. Terasa begitu sibuk memang, tapi Alhamdulillah sampai saat ini Allah masih memberikan energi lebih pada saya.😀

Ada pengalaman menarik dari dua lomba ini. Karena baru di tahun ketiga kuliah di Yogya, saya merasakan bagaimana hasil lomba tersebut begitu dekat. Hibah penelitian ini sudah disetujui fakultas dan tinggal proses olah data. Sedang, untuk lomba film indie, Insya Allah sampai saat ini proses yang tim kami (saya, Kurnia, Husna dan Bagus) kerjakan masih pada rel yang benar,Semoga!

Sebenarnya, tahun lalu saya juga mulai mencicil untuk mengikuti beberapa lomba. Tapi, apes memang, gagal total sederhananya. Kegagalan ini bukan karena kandas dalam kompetisi, melainkan karena memang gagal dari awal. Kami selalu saja  hanya bisa merencanakan (berniat), namun tidak pernah selesai dalam pengerjaan. Suatu hal yang amat saya sesali.

Alhamdulillah, meski gagal total. Ada pelajaran moral yang saya dapatkan dari kegagalan mengikuti tahun lalu. Hal yang paling saya garis bawahi adalah saya terlalu menggantungkan pendirian kelompok kerja saya dengan kawan-kawan dekat saya (sahabat). Saya terlalu berharap mereka akan bertindak profesional dalam kerja kelompok ini,  seperti kedekatan kita sehari-hari. Namun, apa daya hal tersebut gagal terwujud.

********

Poin lain yang saya pahami adalah bahwa profesionalisme tidak bisa diukur dari kedekatan kita. Meski bukan kawan baik, sahabat dekat, sepanjang kinerjanya baik dialah orang terbaik yang dapat kita ajak bekerjasama. Dan saya membuktikannya tahun ini, saya memilih orang-orang yang memang ahli dalam bidangnya. Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada masalah berarti yang terjadi.

Saya pun membayangkan bahwa Pemerintahan Indonesia pun mengalami hal yang sama. Kongkalikong antar-sahabatlah yang mungkin menjadi sebab-musabab mengapa negara ini pembangunannya macet. Seringkali pemimpin yang ada hanya memikirkan nasib orang terdekatnya, dan mengindahkan unsur profesionalisme dalam suatu tugas. Mantan Presiden Suharto bisa jadi contoh ideal, bagaimana sebagai seorang pemimpin dia begitu memikirkan orang-orang di sekelilingnya dan bahkan mengindahkan profesionalisme.

Kini, bukan berarti saya menafikan peran sahabat dalam kehidupan. Sahabat memang akan tetap menjadi kawan baik kita dalam kehidupan, namun bukan berarti mereka akan jadi pilihan  terbaik pula untuk sebuah tugas profesional. Maka dari itu, profesionalisme harus kita bedakan dengan persahabatan, agar tak ada yang kecewa di kemudian hari.

Sepakat?

9 thoughts on “Profesionalisme Itu Nomor Satu, Persahabatan Itu Nomor….

  1. Oke mas Zulfi saya setuju sekali..

    Makasih mas… (Loh??)

  2. Tapi di Indonesia sepertinya sulit menerapkan hal demikian. gimana dunk mas?

    Di Indonesia juga sulit menerapkan hukuman keras bagi koruptor… Tapi bukan berarti ga mungkin kan??

  3. Aku jadi inget dulu waktu kuliah pernah bikin film sama anak Komunikasi.. Seru ya bikin film itu..

  4. kadang kita berusaha profesional

    malah jarang dihargai,..

    dibilangnya saya ‘ngga asik’,..!

    seperti iklan penyedap masakan.

    (mas, pnjem buku JJK JHD SMK-nya boleh??)

  5. memangnya antum mau bekerjasama dengan orang profesional tetapi bukan sahabat antum, atau bahkan musuh antum? Pada suatu ketika demi profesionalisme saya harus melibas habis semua ikatan persahabatan karena tidak semua orang suka dengan cara-cara profesional tetapi tidak bersahabat. Pada satu sisi ini menjadikan pekerjaan berjalan baik. tetapi sayang, bahwa hanya sahabatlah yang bisa perduli manakala saya terjatuh. Sementara profesionalisme itu sendiri terlalu buta untuk mengenal kata manusiawi.Begitu kita yang tidak profesinal ini dihadapkan pada kegagalan, maka kita adalah sampah yang terbuang. Tapi jangan salah, alih-alih profesionalisme, ternyata banyak juga pihak yang tidak tahu diri, tidak tahu berterima kasih dan tidak menghargai pengorbanan. Maunya terima bersih dan bersembunyi dibalik ketidakmampuan berusaha, tetapi tidak mau belajar dari kegagalan. Maka lebih baik pilihannya tidak lagi profesionalisme atau sahabat, tetapi egoisme, atau ikhlas….

  6. Persahabatan tetep di prioritas yang awal mas kalau pertemanan baru agak belakang ndak papa.
    Beda to teman dan sahabat?

    Iya, semoga juga dari profesionalisme itu akan muncul, atau malah lebih ideal lagi dari persahabatan akan muncul profesionalisme,.,..

  7. Profesionalisme kalaupun dinomorsatukan dlm pembangunan Indonesia ini, belum tentu Indonesia akan maju dgn penuh keberkahan.Ada unsur yg paling penting utk menyelamatkan negara kita dr kemunduran, yaitu pengabdian mutlak kpd Allah dalam wujud menegakkan hukum-Nya (syari’at Islam). Selama manusia masih mengabdi kpd sesamanya, dlm wujud tunduk kpd undang-undang yg dibuat semau hatinya, negara kita tdk akan pernah menjadi baik dan maju.
    Namun, ini tdk menafikan adanya onak duri di tengah perjuangan menegakkan hukum Allah. Onak duri sangat banyak, namun akan berarkhir dgn kelapangan dan kebahagiaan dunia dan akherat..

    Amien.. betul juga akh…. Bahwa Allah dan Islam-lah yang seharusnya jadi inspirasi atas segala usaha kita

  8. kata orang: “bila engkau serahkan pekerjaan pada yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancuran itu datang”.
    profesionalisme menurut saya adalah kapabilitas. bila sahabat yang kita miliki tidak punya kemampuan di bidang yang sedang kita kerjakan, tidak menjadi soal bila tidak mengajaknya, karena dengan memaksakan diri untuk mengajaknya, itu akan membawa kita kepada kehancuran yang juga akan berujung pada kehancuran persahabatan. komunikasi adalah kunci dari semuanya. sebesar apapun persoalannya, bila bisa dikomunikasikan dengan baik, tentunya akan berakhir dg baik.
    so, tetaplah berkarya, tetaplah bersahabat dan tetaplah profesional…🙂

    salam kenal, nice blog…🙂

  9. dalam teori komunikasi organisasi, ada dua orientasi dalam bekerja, yaitu hasil ataupun proses. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. KEsemua itu dilakukan tergantung situasi dan kondisi sebuah organisasi. Jika dalam keadaan mendadak/darurat, maka orientasi hasillah yg perlu diutamakan: tidak ada lagi kompromi, yg ada hanya kerja kerja dan kerja….Nah, selama lebih dr 4 tahun malang melintang di berbagai komunitas dan organisasi, bagi saya kedua orientasi tersebut harus didampingkan dengan porsi yang menyesuaikan dengan keadaan organisasi dmn kita bekerja. Maka kerjalah pakai hati, hasil ok, ukhuwah pun terjaga🙂..hehe..Met EID Mubarak anyway..

    Hoho…sama2 mas… met IED MUBARAK…
    Betul juga, kedua belah pertimbangan tsb harus selaras… namun, tentu kalau ada azas prioritas, tentu bagi sebuah perusahaan, profesionalitas harus didahulukan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s