Janji Politik Harus Dibuktikan !

Golongan putih atau yang biasa kita kenal dengan istilah golput terus meningkat dalam beberapa pilkada terakhir. Golput merupakan fenomena penyakit dalam  demokrasi yang akut, mengingat ia berakar dari kekecewaan mendalam dari masyarakat akan para politikus dan parpolnya. Sehingga pada tataran tertentu rasa kecewa ini menjadi apatisme dalam masyarakat. Apatisme ini amat beralasan, mengingat  politikus beserta parpolnya selama ini begitu dekat dengan rakyat hanya saat kampanye, namun menghilang begitu saja selepas kursi digenggam.

 

Dari titik inilah, kemudian saya berpijak bahwa masyarakat sudah begitu jenuh akan janji-janji dari politikus dan parpolnya. Namun, memang seperti itulah adanya janji politik. Sebagai sebuah bagian dari iklan politik, janji memang harus dibuat semanis mungkin, meski akhirnya akan pahit realisasinya.

 

Mengambil analogi dari pilkada Jawa Barat. Tentu kita tidak pernah membayangkan akan kemenangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (Hade) sebelumnya. Meski Dede Yusuf sangat populer, tentu kita tidak bisa memandang sebelah mata calon gubernur lain sekelas Agum Gumelar yang pernah menjadi Menteri Perhubungan atau Danny Setiawan yang incumbent. Dari kacamata awam, posisi Hade tentu bagai David yang harus melawan Goliath. Namun, segala prediksi tersebut diputarbalikkan oleh fakta yang terjadi di pilkada.

 

Salah satu analisa yang muncul akan kemenangan Hade ini menyebutkan bahwa mereka memang sangat cerdas dalam berkampanye. Jika calon lain masih menggunakan kampanye konvensional lewat media, mereka sudah maju selangkah dengan melakukan kampanye door-to-door. Di samping itu, salah satu partai pendukung duet tersebut memang cukup populer dengan kerja berbagai konkretnya terhadap masyarakat.

 

Menurut saya, mungkin inilah pola sosialisasi politik yang dapat dicontoh oleh politikus dan wakil rakyat lainnya, baik yang masih menjabat maupun yang baru mencalonkan diri. Dimana kerja konkret di hadapan masyarakat jauh lebih berarti ketimbang kampanye via media maupun verbal. Hal ini juga dinyatakan Yohannes Don Bosco bahwa rakyat hari ini lebih mengharapkan tindakan-tindakan konkret dari yang sifatnya lebih membumi, nonverbal (non-lisan), dimana pengaruhnya dapat terasa secara langsung oleh masyarakat.

 

Namun, proses sosialiasi politik tentu tidak dapat dilepaskan dari penggunaan janji politik. Maka dari itu, paling tidak ada dua solusi sederhana bagi penggunaan janji politik ini. Solusi ini diharapkan dapat diaplikasikan oleh tidak hanya politikus yang melontarkan janji, namun juga masyarakat yang memang harus proaktif untuk mengawasi.

 

Solusi pertama, yaitu dengan mendokumentasi setiap janji politik yang bersangkutan selama masa kampanye. Sehingga dokumentasi tersebut dapat dijadikan barang bukti bila suatu saat politikus tersebut melanggarnya. Sedangkan, solusi yang kedua adalah dengan mengadakan kontrak politik tertentu. Kontrak semacam ini, dinilai lebih efektif untuk mengukur keseriusan politikus atau calon wakil rakyat tertentu terhadap jabatan yang akan ditanggungnya. Kontrak politik untuk mundur dari jabatan bila dalam kurun waktu tertentu tidak dapat membuktikan janji mereka merupakan salah satu kontrak politik yang amat baik.

4 thoughts on “Janji Politik Harus Dibuktikan !

  1. mendokumentasi setiap janji politik yang bersangkutan selama masa kampanye

    Kalo di Amerika hal ini dibantu oleh media. Semua janji yang terekam akan ditagih..

    Di Indonesia juga Pak.. cuma mungkin belum sampai pada tahap kesadaran utk menggunakannya sebagai bahan menuntut janji politik para politikus yang bersangkutan…

  2. sudah ada beberapa dokumenter tentang itu,terutama para pengamat politik yang ada di sekitar kita, mereka munkin tidak secerdas politikus dalam berbicara, tetapi ketika melihat tingkah laku politikus yang sering berdusta mereka selalu merekamnya. Siapa itu?

    maksudnya??
    Iya, masalah rekam-merekam media massa tentu punya… Tinggal sekarang ditransfer ke para konstituen agar bisa ikut mengkontrol jalannya kinerja para politikus..

  3. Wah, prasaan dari dulu emang slalu janji.. Paling satu-dua yang terealisasi.
    OIa, klo janji pake limit waktu kayak “proyek 100 hari” ato dalam 100 hari kami akan blablabla…

    Iya, itu baru namanya kontrak politik yang baik… harus ada deadline dan konsekwensi yang jelas…

  4. owh truz enakke g mana mas??????

    enaknya?? cukup buktikan janji, itu yang paling penting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s