Televisi Indonesia: Mendadak “Alim”

“Seperti biasa, stasiun televisi swasta berbusa-busa menyambut bulan ramadhan. Memang televisi cuma mau cari duit saja”

(Arswendo Atmowiloto. Tempo, 31 Agustus 2008)

Bagi para pencinta film, tentu masih ingat dengan film Indonesia yang dibintangi oleh Titi Kamal dan Kinaryosih yang berjudul “Mendadak Dangdut”. Judul ini dengan eksplisit menjelaskan jalan cerita film ini. Di film tersebut Titi Kamal berperan sebagai seorang penyanyi pop terkenal yang mendadak harus melarikan diri karena difitnah menjadi seorang pengguna narkoba. Dalam pelarian tersebut, secara kebetulan dan juga terpaksa dia harus menjadi seorang penyanyi dangdut kampung.

Analogi “kebetulan dan terpaksa” inilah yang saya angkat untuk memetakan kondisi sebagian besar stasiun tv di Indonesia menjelang Ramadhan. Jika dalam film “Mendadak Dangdut”, Titi Kamal harus menyelamatkan diri dengan menjadi pedangdut, maka di sini stasiun tv harus menyelamatkan pasar mereka dengan mendadak alim.

Logika pasar

Yah, mau tidak mau kita harus menyadari bahwa ideologi stasiun Indonesia hanya pasar melulu. Apa yang dikehendaki pasar, itulah yang akan ditampilkan di layar kaca. Sehingga, usahat tuk mencari stasiun televisi yang serius berideologi mencerdaskan bangsa,  bagaikann sebuah keniscayaan. Metro TV dan TvOne bisa jadi contohnya, meski di kalangan masyarakat tertentu amat popular, sebenarnya secara keseluruhan rating pemirsa mereka jauh di bawah stasiun “konservatif” lainnya. Sehingga wajar, bila stasiun televisi lain berusaha memikirkan selera pasar, meski harus menampilkan sampah sekalipun.

Maka dari itu, saat Ramadhan menjelang tak mengherankan stasiun-stasiun tv pun beramai-ramai melakukan make-over diri.  Berhubung berbagai program yang bernafaskan Islam sedang begitu diminati, stasiun tv pun melakukan “penyesuaian diri”. Ada yang secara halus dengan memposisikan programnya untuk lebih Islami. Namun, ada yang juga yang cukup ekstrim dengan mengadakan berbagai program khusus Ramadhan bagi pemirsa. Seringkali, pilihan kedua inilah yang dipilih oleh stasiun-stasiun tv.

Tidak terhitung lagi ada berapa banyak program islami yang hadir menghiasi layar kaca pemirsa. Mulai dari program sahur dengan lawakan-lawakan yang (maaf) amat absurd. Sinetron-sinetron ramadhan yang hanya menjual judul dan dialog yang (terkesan) islami, padahal jalan ceritanya pun nyaris tidak ada perbedaan dengan sinetron kebanyakan.

Memang “perubahan” drastis seperti ini mengundang banyak perdebatan. Salah satu humas stasiun tv swasta misalnya, mengatakan bahwa apa yang mereka perbuat juga demi dakwah dan syiar Islam. Namun, amat naif juga bila melihat dakwah dan syiar yang dilakukan tidak komprehensif, mengingat hanya dilakukan pada waktu Ramadhan. Karena menurut saya, kalau memang mereka ingin berdakwah seharusnya selama sebelas bulan lainnya mereka juga serius donk.

5 thoughts on “Televisi Indonesia: Mendadak “Alim”

  1. Sama saja kok siarannya, cuma artis, aktor, pembawa acaranya dirubah penampilannya menjadi lebih Islami. Pake peci, kopiah, kerudungan…
    -Mee-

  2. setuju sama Meekaela..

  3. Tapi ada yang juga tetap serius berdakwah sepanjang tahun loh..

    Ada ya? yang mana ya?? ini ada komentar dari praktisi televisi sendiri terhadap fenomena televisi dan dakwah islam…

  4. Pingback: Mereka Terkena Demam Mendadak “Alim” « Zulfi’s View :: Melihat Realitas Dari Sudutku

  5. Iya,,emang f*ckta dari tahun ke tahun begitu.. Sebagian besar stasiun TV memang menjadi stasiun musiman dan ikut2an. Saat Ramadhan, rame2 bikin program Ramadhan. Pas 17an, bikin acara2 dg suasana 17an. Saat taon baru, lomba-lomba bikin countdown taon baru bareng.
    Biasaaa,,pasar memang menginginkan itu.

    Dalam dunia sastra ada istilah epigon. Yah, itulah fenomena mbebek-membebek di negeri ini… RAMEnya minta ampun…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s