Memaknai Sebuah Perubahan

“Semuanya berubah, kecuali perubahan itu sendiri”

Hidup adalah sebuah narasi panjang akan perubahan. Kita lahir sebagai seorang bayi mungil yang tak bisa berbuat apa-apa. Namun, waktu memberikan kita kesempatan untuk berubah secara bertahap, perubahan yang mengantarkan kita ke bentuk terbaik seperti saat ini.

Itulah essensi sebuah perubahan: bahwa semuanya berubah di dunia ini, kecuali “perubahan” itu sendiri. Perubahan itu umumnya tidak kita sadari karena dia berjalan secara bertahap, perlahan-lahan. Namun, pada beberapa kasus perubahan itu terjadi secara dramatis, atau revolusioner.

Hari ini aku merenungkan akan arti perubahan. Merenungkannya dari pertemuan dari  sahabat-sahabat lamaku.

Dia berubah…

Ini perubahan yang terjadi pada sahabat SDku. Bertahun-tahun lalu kami hanyalah dua orang anak-anak yang menikmati masa seperti lazimnya anak-anak lain. Kami berangkat sekolah bersama, bermain bola di sore hari dan mengaji di malam hari, kesemuanya hampir menjadi rutinitas sehari-hari. Bertahun-tahun kemudian, saya menemuinya kembali, namun kini dalam “suratan nasib” yang amat kontras. Aku yang kini meretas masa depan lewat jalur perkuliahan, sebaliknya dia sama sekali tidak ingin melanjutkan pendidikan meski secara finansial mampu. Kini dia menghabiskan hari-harinya dengan bermimpi menjadi pemain band terkenal.

Sedih rasanya harus berbeda. Tapi mungkin inilah arti perubahan, berawal dari kesamaan kita bisa saja menjadi sosok yang berbeda satu sama lainnya.

Ada juga adik kelasku di SMA. Seorang yang amat ku sayangi, bukan karena masalah cinta (ini serius) melainkan karena kesamaan dalam idealisme berpikir yang kami miliki. Dia adalah juniorku dalam beberapa organisasi yang ku ikuti. Saat itu kami masih searah, bahkan kami juga seringkali berdiskusi dan bertukar pikiran. Kini, setelah kami menjejak bangku kampus, ternyata terlalu banyak perubahan terjadi. Sehingga,  seringkali perbincangan kami tidak lagi nyambung, atau bahkan perbincangan tersebut hanya berujung pada konflik.

Namun, aku tetap berusaha wajar di depannya, meski sedih kehilangan “dirinya”. Tapi mungkin inilah arti perubahan, berawal dari kesamaan kita bisa saja menjadi sosok yang berbeda satu sama lainnya.

Pelajaran moral yang dapat ku ambil di sini adalah kita tidak memaksa orang lain berubah menjadi yang kita inginkan. Yang bisa kita lakukan adalah memahaminya. Andai ada kecewa di hati, cobalah untuk dipendam. Sebaliknya, bila ada rasa kagum jangan segan-segan untuk diungkapkan. Agar dia pun semakin termotivasi.

Teringat lirik dari Band Keane “Everbody has changed, but I don’t feel the same. Everbody has changed, but I don’t know why”.

Semuanya berubah, ada yang menjadi semakin baik dan ada yang sebaliknya, karena itulah dunia.

One thought on “Memaknai Sebuah Perubahan

  1. Kadang perubahan susah diterima.. Apalagi kalo yang berubah itu suatu hal yang nyaman bagi diri kita..
    Aku jadi ingat masa SMA dan kuliah yang begitu asyik. Sekarang sudah berubah semua..

    Iya, pak, saya juga merasa masa2 SMA dulu masa yg paling mengasyikkan, hidup tanpa beban. Setelah kuliah sekarang rasanya makin terbebani pikiran akan masa depan. Kemana akan melangkah, kemana akan menjadi orang, dsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s