Refleksi Perayaan HUT RI: Sekedar Nasionalisme Simbolik

Momen “tujuh-belasan” kini telah kita lewati untuk ke-63 kalinya. Momentum yang seringkali begitu ditunggu oleh segenap warga. Ada apakah gerangan? Apakah karena inspirasi akan perjuangan pendahulu-pendahulu kita untuk mewujudkan kemerdekaan? Bukan kawan, momen ini “hanyalah” sebentuk antusiasme warga akan berbagai kegiatan yang mengiringnya, seperti lomba makan kerupuk, lomba pecah air, lomba panjat pinang hingga yang tak akan terlupakan yaitu malam tirakatan.

Lihatlah betapa ramai dan gembiranya warga menyemarakkan berbagai kegiatan tersebut. Tak jarang antusiasme tersebut menggiring warga untuk bekerjasama tanpa lelah untuk persiapannya. Padahal, tak sedikit pula waktu, tenaga dan dana warga terkuras. Namun, semua hal tersebut tidak berarti apa-apa ketimbang rasa kebersamaan dan kegembiraan yang terwujud.

Sekilas, secercah kegembiraan ini menjadi penawar akan pahitnya kondisi negeri yang sedang carut marut. Namun, bila kita lebih jeli mencermatinya tentu ada sesuatu yang salah di sini. Bagaimana tidak, hingga HUT ke-63 ini nasionalisme yang dimiliki sebagian besar anak bangsa ini baru sekedar “nasionalisme simbolik”. Nasionalisme model ini menurut Amien Rais dalam buku “Selamatkan Indonesia” adalah nasionalisme yang sifatnya hanya kasat mata dan sekedar pajangan window show sebuah bangsa. Mungkin bila diibaratkan sebuah rumah, maka nasionalisme simbolik adalah kebanggaan akan hal-hal yang bersifat pajangan di depan tamu, seperti obsesi akan mewahnya pagar dan teras rumah. Cukup itu.

Sayangnya, perwujudan nasionalisme ini seringkali hanya menghadirkan obsesi berlebih untuk terus menampilkan wajah dengan semewah mungkin. Bahkan perilaku seperti ini membuat kita lupa akan hal-hal yang sifatnya substansial. Kita begitu peduli akan pagar dan teras rumah kita, namun lupa akan kondisi isi rumah kita yang masih jauh dari kesan ideal, atau bahkan begitu mengenaskan untuk ukuran sebuah bangsa yang masyhur akan kekayaan alamnya.

Sehingga tidak mengherankan jika sekarang masyarakat begitu sibuk akan kecintaan yang bersifat simbolik terhadap bangsa dan negara. Sedang, di belakang sana masyarakat kurang peduli bahwa 90% perusahaan tambang internasional “mencuri” hasil tambang kita. Kita kurang peduli bahwa hedonisme  semakin meracuni pikiran kaum muda kita. Kita kurang peduli bahwa berbagai kebijakan pemerintah masih tunduk pada keinginan kapitalisme global, tanpa bisa mandiri.

Maka dari itu, seharusnya tak cukup sebatas nasionaslime simbolik yang kita agung-agungkan, melainkan lebih dari itu. Nasionalisme yang benar adalah nasionalisme hakiki yang dapat dijabarkan lewat narasi besar kerja keras pada berbagai bidang, semisal nasionalisme ekonomi, nasionalisme politik, nasionalisme militer dan nasionalisme kehidupan sosial.

Saya yakin tawaran seperti ini cukuplah berat. Mengingat, kita harus mulai menempatkan hal yang sifatnya simbolik cukup pada posisi penggugah dan pemberi semangat, tak lebih dari itu. Untuk kemudian, harus dilanjutkan dengan kerja keras yang konkret dan substansial untuk membangun negeri melalui berbagai agenda besar.

Bila 63 tahun lalu, segelintir tokoh bangsa mampu memproklamirkan kemerdekaan Indonesia secara simbolik, hingga kemudian memicu pergerakan massal membangun negeri. Maka, semestinya perayaan simbolik yang jauh lebih gegap-gempita saat ini mampu membuahkan hal yang lebih besar pula, yang lebih bermakna bagi masa depan negeri Indonesia tercinta.

Akhir kata saya ucapkan, Selamat HUT RI ke-63 ! Merdeka !!

gambar diambil dari http://ai23.wordpress.com/2007/08/30/hari-kemerdekaan-ri-di-taiwan/

One thought on “Refleksi Perayaan HUT RI: Sekedar Nasionalisme Simbolik

  1. itulah fenomena yg terjadi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s