Akhir Pencarian

“Jika kita berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu dan pada suatu titik akhir upaya tersebut hasilnya NIHIL.Maka, upaya tersebut  bukanlah upaya yang sia-sia. Karena sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni KENYATAAN. Kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apapun keadaanya.”

Paragraf di atas saya ambil dari novel ketiga dari Andrea Hirata, Edensor. Lagi-lagi novel dari Ikal (panggilan Andrea) merasuk ke dalam hati, karena saya akui Ikal memang amat lihai dalam memadukan pemaknaan realita dengan pemilihan kata-kata yang ideal, seperti kata-kata di atas. Kata-kata tersebut muncul saat dia mengakhiri petualangan backpakingnya dari Perancis, Rusia, melewati Italia hingga Zaire (Afrika) hanya tuk mencari cinta pertamanya, A Ling. Namun, apa yang dia temukan: nihil. Di saat itu pula dia berpikir bahwa mungkin inilah akhir dari pencarian tersebut: KENYATAAN. Bahwa tidak semua usaha akan  membuahkan hasil.

Kepada seseorang yang pria yang menunggu dengan sabar kekasih pujaan hatinya untuk dinikahi suatu saat nanti. Akhirnya karena waktu yang terlambat sekejap saat meminang, dia harus merelakan kekasihnya bersanding bersama pria lain. Mungkin  itulah akhir pencarian, namun kisah ini tidaklah nihil karena telah memberikan pelajaran tentang kenyataan yang walau pahit menimbulkan kenangan penuh hikmah.

Kepada seseorang yang bermimpi besar untuk menaklukkan dunia. Dia bermimpi untuk menjadi orang yang besar dan mengabdikan dirinya untuk umat manusia di seantero dunia. Akhirnya karena keterbatasan yang dimilikinya dia gagal dan hanya menjadi seorang yang mengabdi di desa kecil, di pojok negeri. Mungkin  itulah akhir pencarian, namun kisah ini tidaklah nihil karena telah memberikan pelajaran tentang kenyataan yang walau pahit menimbulkan kenangan penuh hikmah.

Kepada para mahasiswa yang beraksi besar-besaran untuk melawan pemerintahan yang tidak becus mengurus negeri. Mereka bermimpi untuk menumbangkan pemerintahan tersebut dan menggantikannya dengan pemerintahan yang pro-rakyat. Akhirnya usaha tersebut gagal di tangan aparat keamanan yang bertindak represif dan beringas. Mungkin  itulah akhir pencarian, tapi dia tidak nihil karena telah memberikan pelajaran tentang kenyataan yang walau pahit menimbulkan kenangan penuh hikmah.

Kepada semua yang bermimpi besar, kepada semua yang bertekad baja, dan kepada siapapun yang berupaya keras laksana mengeringkan lautan. Ketahuilah bahwa apa yang kita jalani hanyalah proses. Sedangkan, hanyalah Allah yang Maha Tahu apa hasil yang akan kita dapatkan. Kesemua ini bukanlah upaya yang sia-sia bila nihil hasilnya, tapi merupakan pembelajaran buat kita semua. Pembelajaran akan arti kenyataan, yang sepahit atau semanis apapun harus kita kecap.

3 thoughts on “Akhir Pencarian

  1. Memang benar bagus kata-katanya Andrea Hirata..

    Kita gak pernah gagal, tapi kita belajar. Termasuk belajar mengetahui kenyataan yang terkadang pahit..

    sip sip..

  2. tidak sia-sia sama sekali..

    sudah baca novel Tere Liye berjudul
    ‘Rembulan Tenggelam di Wajah-Mu’?

    Belum baca. Bagus ya? Btw, punya ndak? Kalau punya dg sangat senang hati saya akan meminjamnya. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s